Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Senator Brasil Flavio Bolsonaro memicu ketegangan politik setelah menyatakan dirinya sebagai pemimpin sah Brasil setibanya di Amerika Serikat (AS), Rabu (28/10/2026).
Ia menuduh Mahkamah Agung Brasil dan Presiden Luiz Inacio Lula da Silva melakukan kudeta pemilu, meskipun Lula memenangkan pemilihan dengan selisih lebih dari 4 juta suara.
Mengutip Reuters, Flavio tiba di Miami setelah meninggalkan Brasil. Kepergiannya dilakukan setelah ia menolak mematuhi perintah Mahkamah Agung untuk menyerahkan paspornya.
Flavio juga menyampaikan terima kasih kepada Presiden Argentina Javier Milei yang membantunya melakukan perjalanan ke AS, serta Presiden AS Donald Trump yang memberikan visa masuk kepada dirinya dan keluarganya.
Dalam surat terbuka pertama yang diunggah melalui platform X, Flavio menyebut dirinya sebagai "presiden terpilih". Namun, ia kemudian menghapus unggahan tersebut dan menggantinya dengan surat yang menyatakan dirinya sebagai pemimpin sah Brasil.
Baca Juga: Presiden Jerman Peringatkan China soal Ketergantungan Ekonomi Negara Lain
"Saya ingin menyampaikan, tidak hanya kepada 60 juta pemilih saya, tetapi juga kepada rakyat Brasil, bahwa saya adalah pemimpin dan bahwa para penjahat yang mencuri pemilu Brasil merupakan bagian dari organisasi kriminal yang telah membangun tirani," tulis Flavio dalam surat yang diperbarui tersebut.
Pernyataan Flavio bertentangan dengan hasil pemilu yang telah diakui oleh pengadilan pemilu federal Brasil, para pemimpin dunia, pengamat internasional, serta partai politik yang menaunginya sendiri.
Kepala otoritas pemilu Brasil, Kassio Nunes Marques, menyatakan bahwa pemilihan telah berlangsung sesuai dengan seluruh persyaratan hukum dan konstitusi. Pernyataan tersebut disampaikan tanpa secara khusus menanggapi surat Flavio.
Saat ditanya wartawan mengenai pernyataan Flavio di Pangkalan Gabungan Andrews, Trump memilih tidak memberikan komentar lebih lanjut. Ia hanya mengulangi pandangannya sebelumnya bahwa pemilu Brasil merupakan "pemilu yang sangat aneh".
Klaim Flavio Bolsonaro Jadi Persoalan bagi AS
Pernyataan Flavio berpotensi memperumit hubungan Washington dengan Brasil, negara terbesar di Amerika Latin yang juga memiliki cadangan logam tanah jarang terbesar kedua di dunia.
Lula sebelumnya menuduh Washington berkolusi dengan keluarga Bolsonaro untuk membantu mereka kembali berkuasa. Menjelang pemilu pada Minggu, Reuters melaporkan adanya kampanye Departemen Luar Negeri AS untuk mengembalikan keluarga Bolsonaro ke tampuk kekuasaan.
Baca Juga: Saham Microsoft dan Oracle Melonjak, Alphabet Terpuruk akibat Belanja AI
Namun, pemerintah AS membantah mencampuri urusan dalam negeri Brasil.
Trump sebelumnya juga menuding mantan Presiden Brasil Jair Bolsonaro, ayah Flavio, menjadi korban persekusi peradilan.
Jair Bolsonaro pernah melakukan perjalanan ke AS setelah menolak mengakui kekalahannya dari Lula pada 2022. Ia akhirnya kembali ke Brasil dan dijatuhi hukuman penjara selama 27 tahun karena merencanakan kudeta, setelah para pendukungnya menyerbu gedung-gedung pemerintahan di Brasilia.
Hingga laporan Reuters diterbitkan, Departemen Luar Negeri AS belum memberikan tanggapan. Kantor Lula maupun Mahkamah Agung Brasil juga belum merespons permintaan komentar.
Lula, yang pernah menjalani hukuman penjara atas vonis korupsi yang kemudian dibatalkan, mengatakan pekan ini bahwa keputusan Flavio tidak bertahan di Brasil untuk membuktikan dirinya tidak bersalah merupakan tindakan yang "memalukan".
Flavio Bolsonaro Tidak Tunjukkan Bukti Kecurangan Pemilu
Flavio meninggalkan Brasil secara diam-diam setelah Mahkamah Agung mengeluarkan perintah terkait penyelidikan pencucian uang. Ia membantah melakukan pelanggaran dalam kasus tersebut.
Baca Juga: The Fed Tahan Suku Bunga, Kevin Warsh Tegaskan Tak Terpengaruh Trump
Meski sebelumnya diperkirakan secara luas akan memenangkan pemilu pada Minggu, Flavio tidak menyertakan bukti untuk mendukung tuduhannya mengenai kecurangan pemilu.
Ia mendasarkan penolakannya terhadap hasil pemilihan pada keputusan seorang hakim Mahkamah Agung yang ditunjuk Lula untuk memperpanjang waktu pemungutan suara selama dua jam pada Minggu. Perpanjangan tersebut dilakukan menyusul tuduhan dari kubu Lula mengenai upaya menghalangi pemilih di sejumlah negara bagian di wilayah timur laut Brasil yang cenderung mendukung kelompok kiri.
Namun, kubu Flavio juga meminta perpanjangan waktu pemungutan suara dengan alasan hujan di sejumlah negara bagian selatan Brasil yang menjadi basis dukungan konservatif.
Flavio kalah dari Lula dengan selisih sekitar 4,5 juta suara. Berdasarkan analisis profesor Insper, Pedro Burgos, jumlah suara yang diberikan selama tambahan dua jam pemungutan suara kurang dari 35.000 suara atau sekitar 0,03% dari total suara.
Para analis menilai permintaan Flavio untuk membatalkan hasil pemilu memiliki peluang keberhasilan yang sangat kecil.
Dalam suratnya, Flavio juga membantah telah melarikan diri dari Brasil. Ia mengklaim kepergiannya bertujuan melindungi diri dan keluarganya serta menghindari apa yang disebutnya sebagai perburuan politik oleh Lula dan Mahkamah Agung Brasil.
"Saya ingin menegaskan hal ini: saya tidak melarikan diri dari Brasil," tulis Flavio.
"Saya meninggalkan Brasil, tetapi saya tidak meninggalkan rakyat Brasil," tambahnya.














