Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier memperingatkan China agar upaya mencapai kemandirian ekonomi tidak menciptakan ketergantungan sepihak di negara lain. Peringatan ini disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan perdagangan antara China dan Uni Eropa (UE).
Dalam pidatonya di Universitas Peking, Beijing, pada Kamis (29/10/2026), Steinmeier menyoroti ketidakseimbangan perdagangan antara China dan Eropa. Ia menilai, upaya China melindungi perekonomiannya dari guncangan eksternal perlu dilakukan tanpa membuat negara lain rentan terhadap kebijakan ekonomi Beijing.
“Dapat dipahami bahwa China ingin melindungi perekonomiannya dari guncangan eksternal dan pengaruh negatif,” ujar Steinmeier dalam teks pidatonya.
Namun, ia menegaskan bahwa peningkatan kemandirian ekonomi China tidak boleh berujung pada ketergantungan negara lain terhadap Negeri Tirai Bambu tersebut.
Steinmeier dijadwalkan bertemu dengan Presiden China Xi Jinping pada Jumat (30/10/2026). Kunjungan selama lima hari yang dijalaninya hingga Sabtu itu berlangsung ketika hubungan dagang China dan Eropa menghadapi tekanan.
Baca Juga: Saham Microsoft dan Oracle Melonjak, Alphabet Terpuruk akibat Belanja AI
Uni Eropa sebelumnya menyebut pelebaran defisit perdagangan dengan China sebagai kondisi yang tidak berkelanjutan. Pada September 2026, UE juga memperingatkan akan menggunakan seluruh instrumen yang tersedia untuk mengatasi ketimpangan perdagangan tersebut.
Jerman bersama Prancis turut mengusulkan pembentukan mekanisme respons cepat baru di tingkat Uni Eropa untuk menghadapi negara-negara yang dinilai merugikan kepentingan ekonomi kawasan. China diperkirakan menjadi salah satu fokus dari usulan kebijakan tersebut.
Akses Pasar dan Subsidi China Jadi Sorotan
Dalam pidatonya, Steinmeier juga menyoroti ketimpangan akses pasar antara perusahaan Eropa dan China.
Menurut dia, sejumlah perusahaan Eropa menghadapi keterbatasan akses ke pasar China. Sebaliknya, pasar Eropa dibanjiri produk impor dari China yang mendapatkan subsidi pemerintah.
Selain itu, kontrol dan pembatasan ekspor bahan baku yang diterapkan Beijing turut menjadi perhatian Eropa. Kebijakan tersebut dinilai menambah tantangan bagi perusahaan-perusahaan Eropa yang membutuhkan pasokan bahan baku untuk menjalankan kegiatan industrinya.
Baca Juga: The Fed Tahan Suku Bunga, Kevin Warsh Tegaskan Tak Terpengaruh Trump
Steinmeier menegaskan bahwa Eropa bertekad mempertahankan basis industrinya. Karena itu, penyelesaian persoalan perdagangan dengan China menjadi penting untuk menjaga daya saing industri dan kepentingan ekonomi kawasan.
Meski demikian, ia menyatakan keyakinannya bahwa Uni Eropa dan China masih dapat menemukan solusi melalui dialog.
“Kami tidak menginginkan konfrontasi baru antarblok. Hal itu tidak hanya akan berbahaya bagi keamanan internasional, tetapi juga akan menimbulkan kerugian ekonomi bagi semua pihak,” kata Steinmeier.














