Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - NEW YORK/WASHINGTON. Gugatan hukum Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap JPMorgan Chase (JPM.N) dan CEO-nya, Jamie Dimon, menyoroti konflik kebijakan yang kian kompleks dan sarat muatan politik dalam agenda pemerintah terhadap Wall Street.
Di satu sisi, bank-bank besar menikmati sejumlah keuntungan dari deregulasi, namun di sisi lain juga menghadapi tekanan dan hambatan baru.
Dalam langkah paling konfrontatifnya terhadap Wall Street sejauh ini, Trump pada Kamis mengajukan gugatan senilai US$ 5 miliar. Ia menuduh bank terbesar di AS tersebut dan Dimon menutup sejumlah rekening miliknya serta perusahaan-perusahaannya atas dasar pertimbangan politik.
Trump telah lama mengklaim bahwa bank-bank besar di Wall Street berupaya meminggirkannya dan kelompok konservatif lain—tuduhan yang dibantah oleh JPMorgan dan bank-bank lainnya.
Baca Juga: Tanggapi Ancaman Trump, China: Kesepakatan dengan Kanada Bukan untuk Pihak Ketiga
Langkah ini menegaskan bagaimana lembaga keuangan besar, yang sebelumnya diperkirakan menjadi penerima manfaat utama dari agenda deregulasi besar-besaran Trump, kini harus menghadapi lingkungan kebijakan yang tidak terduga dan terkadang bersifat bermusuhan.
Situasi ini berpotensi merusak reputasi mereka, memengaruhi bisnis, dan memaksa mereka meninjau ulang strategi lobi di Washington.
“Industri ini kalah dalam banyak pertempuran sebesar mereka menang dalam isu-isu besar, dan tekanan yang terus-menerus serta perkembangan yang acak mulai menimbulkan dampak,” ujar Todd Baker, peneliti senior di Columbia University.
Gugatan tersebut muncul setelah Trump sebelumnya mengancam akan membatasi suku bunga kartu kredit konsumen maksimal 10%—usulan yang oleh Dimon disebut sebagai “bencana ekonomi”.
Pada saat yang sama, regulator di bawah pemerintahan Trump juga bergerak mempermudah perusahaan fintech, kripto, dan sejumlah korporasi untuk bersaing langsung dengan bank tradisional.
“Pemerintahan Trump menghadirkan stabilitas pasar keuangan sekaligus memangkas regulasi yang tidak perlu untuk mempercepat pertumbuhan,” kata juru bicara Gedung Putih, Kush Desai.
JPMorgan menolak memberikan komentar lebih lanjut. Pada Kamis, bank tersebut menyatakan, “Kami meyakini gugatan ini tidak memiliki dasar. Kami menghormati hak Presiden untuk menggugat kami dan hak kami untuk membela diri… JPMorgan tidak menutup rekening karena alasan politik atau agama.”
Trump juga menargetkan lembaga keuangan lain. Trump Organization menggugat raksasa kartu kredit Capital One (COF.N) dengan tuduhan serupa, yakni penutupan rekening bermotif politik.
Baca Juga: Tanggapi Trump, PM Kanada Tegaskan Tidak Membuat Kesepakatan Dagang dengan China
Trump sebelumnya mengkritik CEO Bank of America, Brian Moynihan, terkait isu “debanking” dan mengatakan kepada CNBC pada Agustus bahwa bank tersebut menolak memberinya rekening.
Bank-bank besar secara konsisten menyatakan tidak menolak nasabah atas dasar pandangan politik atau keyakinan. Tahun lalu, Trump juga menyerang CEO Goldman Sachs, David Solomon, terkait sikap pesimistis bank tersebut terhadap kebijakan tarif.
Bank of America dan Goldman Sachs menolak berkomentar. Capital One belum memberikan tanggapan.
“Bank kemungkinan akan lebih berhati-hati ke depan setelah melihat reaksi ini. Mereka kini tidak hanya menghadapi ancaman pembalasan regulasi, tetapi juga gugatan hukum,” ujar Nicholas Anthony, analis kebijakan di lembaga pemikir Cato Institute, Washington.
Upaya Lobi Diperkuat
Bank-bank Wall Street meningkatkan aktivitas advokasi di Washington dan merekrut pelobi yang dekat dengan Gedung Putih. Delapan bank terbesar meningkatkan belanja lobi gabungan hampir 40% menjadi US$ 12 juta pada kuartal IV 2025 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, berdasarkan analisis Reuters terhadap dokumen pengungkapan resmi.
Mereka melobi Kongres, Gedung Putih, dan berbagai lembaga federal terkait isu mulai dari biaya transaksi kartu kredit hingga legislasi kripto.
Financial Services Forum yang berbasis di Washington, yang mewakili bank-bank tersebut, juga meluncurkan American Growth Alliance pada Desember—sebuah organisasi nirlaba yang diklaim akan menghabiskan puluhan juta dolar untuk mendorong kebijakan “masuk akal” guna menumbuhkan ekonomi. Kedua organisasi tersebut menolak berkomentar.
“Pertanyaan terbesar adalah langkah apa yang diperlukan untuk menghadapi pemerintahan yang menunjukkan kesediaan untuk campur tangan secara agresif dan tidak terduga di sektor ini,” ujar Myra Thomas, analis perbankan di eMarketer.
Kelonggaran Modal Masih Dinanti
Meski demikian, regulator di bawah pemerintahan Trump diperkirakan tetap akan memberikan kelonggaran besar terkait modal kepada bank-bank besar, yang menurut sejumlah perkiraan dapat membebaskan likuiditas hingga US$ 200 miliar. Industri perbankan juga menyambut baik perubahan pendekatan pengawasan bank serta dukungan terhadap merger besar.
Ketika Dimon mengumpulkan para CEO keuangan dalam sebuah konferensi di gedung pencakar langit baru JPMorgan di New York bulan lalu, para eksekutif disebut optimistis bahwa perubahan tersebut akan mendorong peningkatan profitabilitas.
“Ada pendekatan yang jauh lebih rasional dengan fokus pada hal-hal besar dan penting dalam pengawasan. Itu perubahan yang menyegarkan,” kata CEO Citizens Financial, Bruce Van Saun, pada Rabu.
Baca Juga: Bank Wall Street Atur Strategi Hadapi Donald Trump Usai Berbagai Serangan Trump
Industri masih berharap dapat mengamankan kelonggaran modal tersebut, kata seorang CEO bank lain yang enggan disebut namanya. Perubahan tersebut dinilai tetap membuat saham perbankan menarik di mata investor.
“Kasus ini tampaknya tidak akan banyak mengubah arah tersebut,” ujar Brian Mulberry, manajer portofolio senior di Zacks Investment Management, yang memiliki saham JPMorgan.
Faktanya, saham perbankan tetap bergerak seiring pasar di bawah kepemimpinan Trump.
Namun, kebijakan keuangan Trump yang kerap berubah-ubah—sebagian juga dipicu oleh kebutuhan untuk merespons kekhawatiran pemilih soal biaya hidup menjelang pemilu kongres tahun ini—mulai mengurangi optimisme pelaku industri.
Bank-bank disebut terkejut dengan proposal pembatasan bunga kartu kredit, dan sejak itu berupaya ikut membentuk agenda keterjangkauan biaya yang diusung Trump. Beberapa eksekutif juga frustrasi karena bank kehilangan pangsa terhadap fintech dan perusahaan kripto yang lebih disukai lingkaran dalam Trump, menurut tiga eksekutif industri.
“Saya rasa Trump tidak memiliki banyak simpati terhadap bank-bank besar,” ujar Brian Jacobsen, kepala strategi ekonomi di Annex Wealth Management.













