Sumber: Reuters | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - TOKYO. Honda berencana memangkas biaya lebih dari US$ 9 miliar dalam empat tahun ke depan dan telah menginstruksikan pemasok untuk menurunkan harga secara drastis, menurut dokumen internal dan seorang narasumber yang mengetahui masalah ini.
Mengutip Reuters, Rabu (2/9/2026), rencana ini merupakan salah satu contoh paling nyata mengenai upaya produsen mobil Jepang dalam menghadapi persaingan yang semakin ketat dari China.
BYD dan produsen kendaraan listrik (EV) China lainnya sedang merebut pangsa pasar yang signifikan di Asia Tenggara, Amerika Latin, dan Eropa, didukung oleh teknologi perangkat lunak dan baterai yang canggih—serta harga yang jauh lebih rendah dibandingkan standar industri.
Baca Juga: Xi Jinping Kunjungi Mesir, China Perkuat Pengaruh di Tengah Gejolak Timur Tengah
Honda, produsen sepeda motor terbesar di dunia, sedang berupaya memperbaiki bisnis mobilnya yang tengah kesulitan.
Perusahaan memperkirakan total kerugian terkait EV pada akhirnya akan melampaui US$ 12 miliar dan kini mengalihkan fokus ke kendaraan hibrida bensin-listrik.
Pada bulan Mei, perusahaan melaporkan kerugian tahunan pertamanya sejak melantai di bursa saham.
Produsen kendaraan sport-utility vehicle (SUV) CR-V ini kini menargetkan penghematan sebesar 1,5 triliun yen (US$ 9,4 miliar) pada tahun 2030, menurut dokumen dan narasumber tersebut.
Berita ini disusun berdasarkan tinjauan Reuters terhadap dokumen internal perusahaan serta wawancara dengan dua orang yang mengetahui masalah ini; keduanya meminta identitas mereka dirahasiakan karena informasi tersebut belum dipublikasikan secara umum.
Dalam tanggapan tertulis atas sejumlah pertanyaan, juru bicara Honda menolak berkomentar mengenai target spesifik pengurangan biaya atau rincian diskusi dengan para pemasok.
Produsen mobil tersebut bekerja sama dengan pemasok secara global untuk meningkatkan daya saing dan menekan biaya, termasuk melalui penggunaan suku cadang standar, ujar juru bicara tersebut.
Baca Juga: Peso Filipina Cetak Rekor Terendah, Mata Uang Asia Berguguran Termasuk Rupiah
Pertemuan Musim Semi
Pada musim semi tahun ini, para manajer Honda bertemu dengan sejumlah pemasok utama di sebuah pusat konvensi di Utsunomiya—kota di sebelah utara Tokyo yang dekat dengan fasilitas penelitian dan pengembangan (R&D) perusahaan—menurut dokumen dan keterangan sejumlah pihak terkait. Tidak diketahui secara pasti berapa banyak pemasok yang hadir.
Para manajer Honda memaparkan rencana tersebut kepada pemasok dan menyatakan bahwa perusahaan juga berencana untuk mengambil lebih banyak komponen dari pemasok asal China, ungkap salah satu sumber.
Selanjutnya, setiap pemasok diberikan target pengurangan biaya yang spesifik bagi perusahaan mereka masing-masing, kata sumber-sumber tersebut.
Berdasarkan dokumen yang ada, Honda menargetkan pengurangan biaya sebesar 30% pada tiga kategori suku cadang utama: komponen hasil proses press dan tempa (forged), komponen kelistrikan, serta suku cadang yang berkaitan dengan kendaraan berbasis perangkat lunak (software-defined vehicles atau SDV).
Pengurangan biaya semacam itu diharapkan dapat membantu pemasok Jepang bersaing lebih baik melawan para pesaing dari China, menurut dokumen tersebut.
Dokumen itu juga menunjukkan bahwa pemasok langsung Honda—atau pemasok "tingkat satu" (tier-one)—diminta untuk meninjau kembali cara mereka mengadakan material dan didorong untuk menggunakan suku cadang standar yang berasal dari pemasok tingkat dua dan tiga guna membantu menekan biaya.
Selain itu, para manajer Honda juga meminta pemasok untuk memperluas penggunaan komponen buatan Tiongkok jika memungkinkan, menurut dokumen tersebut.
Baca Juga: Ekonomi Singapura Makin Moncer, Proyeksi Pertumbuhan 2026 Naik Jadi 5%
Target pengurangan biaya itu tergolong "sangat besar" dan belum dapat dipastikan apakah target tersebut dapat dicapai, ujar salah satu sumber.
Sumber lainnya mengatakan bahwa sebelum pertemuan musim semi tersebut, Honda tidak menunjukkan kesan perlunya pemangkasan biaya secara agresif.
Kini, situasinya tampak tidak menyisakan "ruang untuk penundaan," tambah sumber tersebut.
Saham Honda turun 2,5% dalam perdagangan sesi sore hari Rabu.
Saham sejumlah pemasok yang berafiliasi dengan Honda juga diperdagangkan lebih rendah; saham produsen kursi TS Tech turun 1,3%, produsen rangka H-One turun 2,3%, dan produsen suku cadang bodi mobil G-Tekt turun 2,0%.
Pada hari Senin, Honda dan Nissan menyatakan akan bersama-sama mengembangkan unit kendali elektronik standar untuk kendaraan yang ditentukan oleh perangkat lunak (software-defined vehicles atau SDV) dan menargetkan peluncuran arsitektur yang berbasis pada komponen tersebut mulai tahun fiskal 2029.
CEO Honda, Toshihiro Mibe, mendapatkan dukungan untuk penunjukan kembali dirinya ke dalam dewan direksi perusahaan pada bulan Juni. Sebelumnya, ia menghadapi tekanan dari sejumlah mantan eksekutif agar mundur akibat kinerja perusahaan.
Tahun lalu, Honda dan Nissan menghentikan pembicaraan merger yang sedianya akan membentuk salah satu perusahaan otomotif terbesar di dunia.
Selain menghadapi persaingan dari Tiongkok, Honda dan produsen otomotif lainnya juga terhimpit oleh kebijakan tarif impor Presiden AS Donald Trump serta kenaikan biaya tenaga kerja.
Mereka juga dihadapkan pada kebutuhan yang kian mendesak untuk berinvestasi dalam penelitian dan pengembangan teknologi seiring dengan semakin canggihnya kendaraan, yang pada gilirannya meningkatkan biaya di seluruh industri.














