Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan, pemerintahannya masih mempertimbangkan larangan ekspor diesel di tengah lonjakan harga bahan bakar yang menekan konsumen AS.
Trump mengatakan pembahasan mengenai larangan ekspor diesel berlangsung setiap hari. Menurut dia, kebijakan tersebut berpotensi menurunkan harga diesel di dalam negeri, meski pada saat yang sama dapat memberikan tekanan terhadap harga bensin.
Baca Juga: Dolar AS Tertahan Usai Inflasi PCE Lebih Rendah, Peluang Kenaikan Bunga The Fed Turun
Berbicara dari Oval Office pada Rabu (30/9/2026), Trump menyebut perang Rusia-Ukraina sebagai salah satu penyebab utama kenaikan harga diesel karena serangan kedua pihak telah mengganggu produksi dan ekspor energi.
"Kami pikir kami berada di tempat yang sangat baik," kata Trump.
Harga diesel AS telah mencapai rekor US$6,53 per galon pada pekan sebelumnya, berdasarkan data AAA.
Harga bensin juga telah meningkat lebih dari 40% dalam setahun terakhir. Lonjakan tersebut terjadi di tengah gangguan pasokan akibat perang dengan Iran, serangan Ukraina terhadap fasilitas energi Rusia, serta penurunan persediaan produk BBM global.
Trump mengatakan larangan ekspor diesel dapat menurunkan harga diesel, tetapi berpotensi memberikan dampak negatif terhadap harga bensin.
Pemerintah AS sebelumnya juga mempertimbangkan sejumlah opsi lain, termasuk pembatasan ekspor secara sukarela oleh perusahaan kilang serta memperluas penjualan diesel bebas pajak.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik 1% Rabu (30/9), Brent Cetak Kenaikan 14% pada September
Pasar Diesel Global
Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan, gangguan pasokan diesel tidak hanya berasal dari Rusia dan Ukraina.
"Kami kehilangan sebagian ekspor diesel dari Timur Tengah, meskipun pasokan tersebut mulai dipulihkan, dan kami juga kehilangan ekspor diesel dari China. Jadi, banyak gangguan yang terjadi," ujar Wright.
Pemerintah AS juga memperkirakan Eropa akan segera mengumumkan tambahan pasokan diesel.
Gedung Putih sebelumnya telah mendorong Uni Eropa untuk melepas persediaan diesel darurat guna membantu meredakan kenaikan harga.
Tekanan terhadap pasar diesel terjadi ketika Rusia juga memperpanjang pembatasan ekspor diesel hingga akhir Oktober.
Baca Juga: Harga Emas Spot Turun 6,6% pada September, Tekanan Harga Energi Jadi Beban
Kondisi tersebut menambah tekanan terhadap pasar bahan bakar global yang sebelumnya sudah terganggu oleh konflik di Timur Tengah dan serangan terhadap fasilitas pengolahan minyak Rusia.
Sementara itu, pemerintahan Trump menghadapi tekanan untuk menekan harga bahan bakar menjelang pemilihan paruh waktu AS pada November.
Harga diesel yang tinggi menjadi perhatian karena berdampak langsung terhadap biaya transportasi, pertanian, dan berbagai aktivitas industri.
Pemerintah AS kini masih mengevaluasi sejumlah opsi untuk meningkatkan pasokan diesel domestik, termasuk memperluas penjualan red-dyed diesel, yakni diesel bebas pajak yang biasanya digunakan untuk kendaraan dan peralatan non-jalan raya.














