kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.595.000   15.000   0,58%
  • USD/IDR 17.912   -76,00   -0,42%
  • IDX 6.071   -50,56   -0,83%
  • KOMPAS100 785   -8,35   -1,05%
  • LQ45 601   -6,98   -1,15%
  • ISSI 211   -1,12   -0,53%
  • IDX30 333   -4,43   -1,31%
  • IDXHIDIV20 424   -2,18   -0,51%
  • IDX80 90   -0,99   -1,09%
  • IDXV30 115   -0,39   -0,33%
  • IDXQ30 109   -0,96   -0,88%

Dolar AS Tertahan Usai Inflasi PCE Lebih Rendah, Peluang Kenaikan Bunga The Fed Turun


Kamis, 01 Oktober 2026 / 05:27 WIB
Dolar AS Tertahan Usai Inflasi PCE Lebih Rendah, Peluang Kenaikan Bunga The Fed Turun
ILUSTRASI. Dolar AS (via REUTERS/Majid Asgaripour)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Dolar Amerika Serikat (AS) bergerak datar terhadap sejumlah mata uang utama pada perdagangan Rabu (30/9/2026), setelah data inflasi AS yang lebih rendah dari perkiraan mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve atau The Fed.

Melansir Reuters, indeks dolar AS yang mengukur greenback terhadap sejumlah mata uang utama berada di level 101,47.

Meski bergerak datar pada perdagangan tersebut, indeks dolar masih berada di jalur kenaikan sepanjang September sekaligus berpotensi mengakhiri penurunan selama dua bulan berturut-turut.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik 1% Rabu (30/9), Brent Cetak Kenaikan 14% pada September

Departemen Perdagangan AS melaporkan, indeks Personal Consumption Expenditures (PCE), yang menjadi salah satu indikator inflasi pilihan The Fed, naik 0,3% pada Agustus. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan perkiraan ekonom dalam jajak pendapat Reuters sebesar 0,4%.

Data tersebut membuat ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober kembali menurun.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Oktober sekitar 37%, turun dari 70% sepekan sebelumnya.

Perubahan ekspektasi tersebut turut menekan yield US Treasury. Yield surat utang AS tenor dua tahun, yang sensitif terhadap ekspektasi kebijakan The Fed, turun 0,4 basis poin menjadi 4,885%.

John Velis, FX and Macro Strategist BNY, mengatakan pasar masih belum dapat memastikan apakah revisi data PCE menjadi faktor utama di balik angka inflasi yang lebih rendah dari perkiraan atau terdapat faktor lainnya.

Baca Juga: Harga Emas Spot Turun 6,6% pada September, Tekanan Harga Energi Jadi Beban

"Data tersebut awalnya mendorong kenaikan harga obligasi, penurunan yield, dan pelemahan dolar. Namun, kami juga mendapatkan data PDB yang kuat," kata Velis.

Menurut dia, yield tenor panjang kembali meningkat sehingga kurva imbal hasil menjadi lebih curam. Sementara yield tenor dua tahun turun karena pasar menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober, yang kemudian turut menekan dolar AS.

Joel Kruger, Markets Strategist LMAX Group, mengatakan data PCE yang lebih rendah, ditambah pernyataan Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams yang menepis urgensi kenaikan suku bunga lanjutan, telah memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed secara beruntun.

Dolar Masih Menguat Bulanan

Pergerakan dolar terhadap mata uang utama masih bervariasi. Euro berada di level US$1,13305 dan bergerak datar. Namun, euro masih berada di jalur pelemahan terhadap dolar sepanjang September setelah mencatat penguatan selama dua bulan sebelumnya.

Dolar AS juga bergerak datar terhadap yen di level 157,34 yen. Terhadap franc Swiss, dolar menguat 0,26% menjadi 0,83575 franc dan berada di jalur kenaikan untuk bulan kedua berturut-turut.

Baca Juga: Defisit Perdagangan Barang AS Melonjak ke US$ 132,6 Miliar

Poundsterling menguat 0,26% menjadi US$1,3265. Meski demikian, pound masih berada di jalur penurunan bulanan terhadap dolar setelah sebelumnya mencatat kenaikan selama dua bulan berturut-turut.

Sementara itu, dolar Australia melemah 0,57% menjadi US$0,6948 dan dolar Selandia Baru turun 0,09% menjadi US$0,5635.

Di sisi lain, harga minyak masih menguat dan berada di jalur kenaikan bulanan yang signifikan pada September.

Kontrak Brent untuk pengiriman November naik 0,92% menjadi US$103,53 per barel setelah perundingan AS-Iran untuk mengakhiri perang mengalami kebuntuan.

Kenaikan harga minyak menjadi salah satu faktor yang sebelumnya mendorong kekhawatiran inflasi dan meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. Namun, data PCE terbaru memberikan sinyal bahwa tekanan inflasi AS belum meningkat sebesar perkiraan pasar.




TERBARU

[X]
×