Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) kembali menguat pada awal perdagangan Rabu (22/4/2026), di tengah ketidakpastian perundingan damai antara AS dan Iran serta masih tertutupnya jalur pelayaran strategis Selat Hormuz.
Melansir Reuters, kontrak berjangka minyak mentah AS jenis West Texas Intermediate (WTI) sempat menyentuh level US$ 90,70 per barel dan terakhir diperdagangkan naik 59 sen atau 0,7% ke posisi US$ 90,26 per barel.
Sebelumnya, kontrak acuan ini telah melonjak 2,8% pada perdagangan Selasa.
Baca Juga: Australia Minta Roblox dan Minecraft Perjelas Perlindungan Anak
Penguatan harga terjadi meskipun Presiden Donald Trump mengumumkan perpanjangan tanpa batas gencatan senjata dengan Iran, beberapa jam sebelum kesepakatan tersebut berakhir.
Langkah tersebut diambil untuk memberi ruang bagi kelanjutan perundingan damai guna mengakhiri konflik yang telah menelan ribuan korban jiwa dan mengguncang perekonomian global.
Namun, pengumuman Trump dinilai bersifat sepihak. Hingga kini belum ada kepastian apakah Iran maupun sekutu AS, Israel, akan menyetujui perpanjangan gencatan senjata yang telah berlangsung selama dua pekan.
Trump juga menegaskan akan melanjutkan blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan dan wilayah pesisir Iran, yang oleh Teheran dianggap sebagai tindakan perang.
Baca Juga: Ekspor Jepang Tumbuh 11,7% pada Maret, Ditopang Permintaan Global dan Kenaikan Harga
Belum ada tanggapan resmi dari pemimpin tertinggi Iran. Namun, kantor berita Tasnim yang berafiliasi dengan Garda Revolusi Iran menyatakan bahwa Iran tidak meminta perpanjangan gencatan senjata dan menegaskan ancaman untuk membongkar blokade AS dengan kekuatan militer.
Di sisi lain, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz masih sangat terbatas. Data menunjukkan hanya tiga kapal yang melintasi jalur tersebut dalam 24 jam terakhir, jauh di bawah kondisi normal di mana sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair dunia biasanya melewati kawasan ini.
Kondisi tersebut terus menopang harga minyak di tengah kekhawatiran gangguan pasokan energi global.













