Sumber: Reuters | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - NEW DELHI. Harga minyak turun pada Jumat (28/2) saat menuju penurunan bulanan pertama sejak November, terseret oleh ketidakpastian atas pertumbuhan ekonomi global dan permintaan bahan bakar mengingat ancaman kebijakan tarif Donald Trump dan tanda-tanda perlambatan ekonomi AS.
Mengutip Reuters, Jumat (28/2), harga minyak mentah Brent untuk kontrak pengiriman Mei turun 59 sen, atau 0,8%, menjadi US$ 72,98 per barel pada pukul 07.47 GMT. Harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate AS berada pada US$ 69,70 per barel, turun 65 sen, atau 0,9%.
Harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Maret, yang berakhir pada hari Jumat, diperdagangkan pada US$ 73,42, turun 62 sen, atau 0,8%.
Kedua patokan tersebut berada di jalur untuk mencatat penurunan bulanan pertama mereka dalam tiga bulan.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Menuju Penurunan Bulanan Pertama Sejak November, Jumat (28/2)
Faktor-faktor, termasuk ekspektasi perlambatan ekonomi di AS, tarif, rencana OPEC+ untuk meningkatkan pasokan pada bulan April dan kemungkinan perdamaian di Ukraina, yang dapat membuat lebih banyak minyak Rusia tersedia, telah mengekang selera risiko investor.
"Satu-satunya argumen yang bertentangan adalah harga telah jatuh banyak," kata analis pasar IG Tony Sycamore, menambahkan bahwa WTI didukung dengan baik antara US$ 65 per barel dan US$ 70 per barel berdasarkan grafik teknis.
Presiden AS Donald Trump pada hari Kamis mengatakan tarif 25% yang diusulkannya untuk barang-barang Meksiko dan Kanada akan berlaku pada tanggal 4 Maret, bersama dengan bea tambahan 10% untuk impor China.
Ekonom di unit riset BMI Fitch mengatakan pelaku pasar tengah berjuang untuk mengukur dampak dari semua pengumuman kebijakan terkait energi yang dibuat oleh pemerintahan Trump bulan ini.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik 1% Kamis (27/2), Trump Cabut Lisensi Chevron di Venezuela
"Mereka yang membebani sisi negatif, terutama langkah-langkah tarif AS, saat ini sedang menang," kata BMI dalam sebuah catatan.
Yang juga membebani sentimen investor, data menunjukkan klaim pengangguran AS melonjak lebih dari yang diharapkan pada minggu sebelumnya, sementara laporan pemerintah lainnya memberikan bukti lebih lanjut bahwa pertumbuhan ekonomi melambat pada kuartal keempat.
Namun, harga minyak naik lebih dari 2% pada hari Kamis karena kekhawatiran pasokan muncul kembali setelah Trump mencabut lisensi yang diberikan kepada perusahaan minyak besar AS Chevron untuk beroperasi di Venezuela.
Pembatalan tersebut dapat mengarah pada negosiasi perjanjian baru antara produsen AS dan perusahaan negara PDVSA untuk mengekspor minyak mentah ke tujuan selain Amerika Serikat, kata sumber yang dekat dengan pembicaraan tersebut.
OPEC+ tengah berdebat apakah akan menaikkan produksi minyak pada bulan April sesuai rencana atau membekukannya karena para anggotanya kesulitan memahami gambaran pasokan global, kata delapan sumber OPEC+.