Sumber: Reuters | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - HOUSTON. Harga minyak ditutup dengan perubahan tipis pada hari Rabu (21/10/2026), seiring investor menimbang kemungkinan kemajuan dalam pembicaraan Rusia-Ukraina di tengah penurunan cadangan minyak AS dan tidak adanya dialog antara AS dan Iran.
Rabu (21/10/2026), harga minyak mentah berjangka jenis Brent untuk kontrak pengiriman Desember 2026 ditutup naik 3 sen atau 0,03% menjadi US$ 108,82 per barel.
Sementara itu, harga minyak mentah berjangka jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Desember 2026 ditutup turun 67 sen atau 0,7% ke US$ 97,15 per barel.
Kedua acuan harga tersebut sempat naik lebih dari US$ 2 pada awal sesi, dengan Brent sempat berada di dekat level tertinggi dalam lima bulan.
Baca Juga: BUMN Singapura Bantah Lobi MSCI Untuk Turunkan Status Pasar Saham Indonesia
Pada sesi sebelumnya, Brent mencapai level tertinggi dalam lima bulan, sementara WTI menyentuh puncak enam bulan, sebelum harga turun menyusul diskusi mengenai upaya mediasi dalam pertemuan antara Presiden Iran dan kepala angkatan darat Pakistan di Teheran.
"Harga minyak mentah berjangka pagi ini bergerak di sekitar level penutupan sebelumnya, namun jauh di bawah level tertinggi yang dicapai semalam. Serangan di Selat Hormuz tampaknya terus berlanjut, dengan setidaknya dua kapal lagi diserang semalam," ujar Dennis Kissler, wakil presiden senior bidang perdagangan di BOK Financial, dalam catatannya kepada klien.
Di sisi lain, Presiden Rusia Vladimir Putin telah setuju untuk melanjutkan pembicaraan damai dengan Ukraina yang dimediasi oleh AS, paling cepat bulan depan. Pernyataan ini disampaikan oleh Kremlin setelah Putin bertemu dengan utusan AS, Steve Witkoff, sebagai bagian dari upaya terbaru AS untuk menghentikan konflik paling berdarah di Eropa sejak Perang Dunia II.
"Pembicaraan yang sedang berlangsung antara AS dan Rusia mengenai kemungkinan kesepakatan damai di Ukraina telah menjadi sentimen negatif bagi harga minyak mentah akhir-akhir ini, karena negosiasi tersebut tampak menunjukkan kemajuan—setidaknya untuk saat ini... kesepakatan damai antara Ukraina dan Rusia dapat melonggarkan pasokan diesel global yang ketat, yang selama beberapa minggu terakhir menjadi faktor utama pendorong kenaikan harga minyak mentah," tambah Kissler.
TIDAK ADA DIALOG AS-IRAN
Pada hari Rabu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan kepada Financial Times bahwa Iran sepenuhnya siap untuk membela diri. Sementara itu, Presiden Masoud Pezeshkian menyatakan kepada media pemerintah bahwa AS tidak bisa mengharapkan adanya dialog selama mereka terus melakukan blokade dan ancaman terhadap Iran.
Data dari Kpler menunjukkan setidaknya terjadi 18 serangan terhadap kapal dalam dua minggu terakhir. Analis LSEG memperingatkan bahwa Iran menargetkan kapal tanker jauh di luar Selat Hormuz, hingga ke Teluk Oman, yang membahayakan proses pemuatan minyak mentah di kawasan Teluk serta transfer antar-kapal yang mendukung kegiatan pengapalan di wilayah tersebut.
Kelompok Houthi yang berafiliasi dengan Iran mengaku bertanggung jawab pada hari Senin atas serangan terhadap fasilitas Saudi Aramco di Yanbu, ladang minyak Shaybah, serta bandara di Riyadh dan Abha, Arab Saudi.
Baca Juga: Risiko Keamanan Data, Negeri Tetangga Larang Warganya Gunakan Aplikasi Asal Israel
Departemen Energi AS pada hari Rabu menyatakan bahwa pemerintahan Trump menawarkan pinjaman hingga hampir sepertiga dari cadangan darurat minyak pemanas AS yang berjumlah 1 juta barel. Langkah ini bertujuan untuk menekan harga yang melonjak akibat kelangkaan diesel di tengah konflik yang melibatkan Iran dan Ukraina.
Badan Informasi Energi AS (EIA) melaporkan pada hari Rabu bahwa stok minyak mentah AS turun 3,06 juta barel menjadi 412,5 juta barel pada pekan lalu—angka ini melampaui ekspektasi analis dalam jajak pendapat Reuters yang memperkirakan penurunan sebesar 820.000 barel.
Data EIA juga menunjukkan bahwa stok distilat—yang mencakup diesel dan minyak pemanas—naik 1,68 juta barel menjadi 104,3 juta barel, berlawanan dengan ekspektasi penurunan sebesar 1,16 juta barel.
Dua pejabat Departemen Energi AS mengatakan pada hari Selasa bahwa mereka sedang bekerja sama dengan berbagai kilang di seluruh dunia untuk meningkatkan produksi bahan bakar.














