Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia terkoreksi pada perdagangan Senin (19/10/2026), setelah menyentuh level tertinggi dalam beberapa bulan pada akhir pekan lalu.
Pelaku pasar merealisasikan keuntungan, sementara risiko gangguan pasokan akibat konflik di Timur Tengah dan Ukraina masih membayangi pergerakan harga minyak.
Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent untuk kontrak berjangka turun US$ 1,45 atau 1,32% menjadi US$ 108,41 per barel pada pukul 11.52 GMT. Pada perdagangan Jumat (16/10), Brent ditutup pada level tertinggi sejak 19 Mei.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Turun, Brent Menjadi US$ 108,52 per Barel
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat (AS) melemah US$ 0,32 atau 0,32% menjadi US$ 101,09 per barel. Pada akhir pekan lalu, WTI ditutup pada level tertinggi sejak 17 September.
Meski terkoreksi, harga minyak masih mendapat dukungan dari gangguan distribusi melalui Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi salah satu koridor utama perdagangan minyak dunia.
Analis UBS Giovanni Staunovo mengatakan, serangan terhadap kapal yang melintasi Selat Hormuz serta arus pengiriman minyak yang masih berada di bawah tingkat sebelum konflik terus menopang harga.
Pada Minggu (18/10), sebuah kapal tanker minyak dilaporkan terbakar dan meledak setelah menabrak ranjau laut di bagian selatan Selat Hormuz. Media Iran mengutip pernyataan Korps Garda Revolusi Islam Iran yang menyebutkan insiden tersebut.
Baca Juga: Pendapatan VinFast Melonjak 85,5% Kuartal II 2026, Ekspansi Pasar Global Berlanjut
Meningkatnya serangan terhadap kapal komersial juga berdampak pada pengiriman minyak dari kawasan Teluk.
Perusahaan analitik Kpler mencatat, rata-rata volume aliran minyak mentah dari kawasan tersebut selama tujuh hari turun menjadi sekitar 8,5 juta barel per hari pada pekan lalu, dari lebih dari 20 juta barel per hari pada pekan sebelumnya.
Kpler juga melaporkan sedikitnya 10 insiden terkonfirmasi yang melibatkan kapal komersial sepanjang pekan lalu.
Analis SEB Bjarne Schieldrop menilai, peningkatan volume ekspor yang sempat terjadi melalui Selat Hormuz belum tentu berlanjut.
Menurut dia, Iran berpotensi meningkatkan serangan menjelang pemilihan paruh waktu AS pada 3 November mendatang.
Risiko pasokan juga dipengaruhi oleh perkembangan konflik di kawasan Timur Tengah. Mesir menyatakan kesiapan memberikan dukungan kepada Arab Saudi untuk menjaga keamanan dan stabilitas negara tersebut dari ancaman kelompok Houthi di Yaman yang bersekutu dengan Iran.
Baca Juga: Freeport Andalkan Teknologi Kimia untuk Dongkrak Produksi Tembaga
Pada Senin, sedikitnya 18 orang dilaporkan tewas dalam serangan Houthi terhadap kamp pelatihan pasukan keamanan pemerintah Yaman di Provinsi Shabwa, wilayah pesisir di bagian selatan-tengah negara tersebut.
Di sisi lain, kebijakan AS terhadap ekspor Rusia turut menjadi perhatian pasar minyak. Presiden AS Donald Trump pada Jumat menandatangani perintah eksekutif yang memberikan pengecualian terhadap sebagian sanksi dan tarif terkait ekspor Rusia.
Kebijakan tersebut menyusul kesepakatan Trump dengan Presiden Rusia Vladimir Putin mengenai ekspor solar ke AS dan negara-negara lain.
Pasokan awal diperkirakan mencapai sekitar 2,3 juta barel pada bulan ini, sebelum meningkat menjadi sekitar 7,6 juta barel per bulan.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan, Trump akan menggunakan waktu hingga 60 hari untuk menilai dampak sanksi dan tarif terhadap perekonomian global.
Baca Juga: Kerusuhan Guncang Prancis, Saham CAC 40 Turun dan Imbal Hasil Obligasi Naik
Kepala riset pasar Phillip Nova Priyanka Sachdeva menilai, langkah Trump tampaknya bertujuan menahan kenaikan harga minyak menjelang pemilihan paruh waktu AS.
Namun, kebijakan tersebut dinilai belum menyelesaikan persoalan utama berupa gangguan pasokan fisik akibat serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz.
Dengan demikian, arah harga minyak dalam jangka pendek masih akan dipengaruhi oleh perkembangan keamanan jalur pelayaran, realisasi ekspor dari kawasan Teluk, serta kebijakan negara-negara besar terhadap pasokan energi global.














