Sumber: Reuters | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Kontrak berjangka indeks saham Amerika Serikat (AS) bergerak datar pada Rabu (9/9/2026), karena harga minyak dunia melonjak melampaui US$ 100 per barel untuk pertama kalinya sejak Juli 2026 di tengah konflik Timur Tengah yang kian memanas.
Lonjakan harga minyak membuat investor bersikap hati-hati menjelang rilis data inflasi AS pada akhir pekan ini.
Rabu (9/9/2026), pukul 05.05 pagi waktu Timur (ET), kontrak berjangka Dow E-mini turun 84 poin atau 0,16%, S&P 500 E-mini bergerak datar, dan Nasdaq 100 E-mini naik tipis 12 poin atau 0,04%.
Investor kesulitan untuk mengabaikan konflik AS-Iran yang telah berlangsung selama tujuh bulan dan meningkatkan risiko konflik regional lebih luas karena dampaknya ke harga minyak dan inflasi.
Baca Juga: Lalu Lintas Pelayaran di Selat Hormuz Makin Sepi
Fokus Ketua Federal Reserve Kevin Warsh dalam mengendalikan harga juga membuat para pedagang memperkirakan adanya kenaikan suku bunga bulan ini.
Pasar kini melihat peluang sebesar 60,4% bahwa suku bunga akan dinaikkan sebesar 25 basis poin (bps) saat bank sentral mengadakan pertemuan pekan depan, menurut data dari perangkat CME FedWatch.
"Harga minyak dan suku bunga yang lebih tinggi tetap menjadi risiko utama bagi pasar saham dalam jangka pendek. Kini telah dipahami dengan baik bahwa cadangan strategis telah banyak digunakan untuk meredam lonjakan harga minyak," tulis analis Morgan Stanley yang dipimpin oleh kepala strategi ekuitas AS, Mike Wilson seperti dilansir Reuters.
Kontrak berjangka minyak mentah Brent terakhir tercatat naik 2,06% di level US$ 99,94 per barel setelah sempat menembus angka US$ 100 pada sesi perdagangan sebelumnya.
Kenaikan pada saham-saham teknologi telah membantu meredam sebagian kekhawatiran, karena investor yang khawatir akan risiko ekonomi beralih mencari perlindungan pada tema kecerdasan buatan (AI). Saham perusahaan pembuat cip seperti Qualcomm, Arm Holdings, dan Nvidia naik antara 0,16% hingga 1,73% dalam perdagangan pra-pasar.
Meski demikian, kekhawatiran mengenai transaksi yang saling terkait (circular deals) membuat sebagian investor bersikap hati-hati, mengingat perusahaan-perusahaan yang menjadi motor utama lonjakan AI kini saling memberikan pendanaan satu sama lain.
"Investor semestinya mengharapkan transaksi-transaksi ini pada akhirnya dapat mendukung aliran pendapatan yang lebih tinggi dan konsisten bagi pihak-pihak yang terlibat. Jika tidak, kami meyakini pasar akan semakin terpapar pada jaringan risiko rumit yang mungkin sulit untuk diurai," ujar Anthony Saglimbene, kepala strategi pasar di Ameriprise Financial.
Investor juga akan mencermati pengumuman pembelian kembali (buyback) obligasi oleh Departemen Keuangan AS (Treasury) yang dijadwalkan nanti, beberapa minggu setelah departemen tersebut menyatakan akan membeli lebih banyak obligasi berjangka panjang guna meredam kenaikan imbal hasil (yield).
Pengumuman semacam itu biasanya memuat daftar obligasi yang memenuhi syarat untuk dibeli kembali. Namun, "sebagian pelaku pasar menantikan pengumuman ini untuk mendapatkan kepastian mengenai besaran nilai yang akan dibeli oleh Treasury," tulis analis J.P. Morgan dalam sebuah catatan.
Reaksi apa pun di pasar obligasi dapat memengaruhi pasar saham, yang biasanya tertekan oleh tingginya imbal hasil obligasi pemerintah yang dianggap bebas risiko.
Baca Juga: Harga Emas Kembali Menguat Ditopang Pelemahan Dolar AS, Pasar Menanti Data Inflasi AS
Laporan Indeks Harga Konsumen (CPI) yang dijadwalkan rilis pada hari Jumat serta data Indeks Harga Produsen (PPI) pada hari Kamis juga akan dipantau untuk mencari petunjuk mengenai prospek suku bunga The Fed.
"Laporan CPI minggu ini merupakan data paling krusial menjelang pertemuan The Fed bulan September, sekaligus menjadi data inflasi terakhir yang akan dilihat oleh para pengambil kebijakan sebelum memutuskan langkah terkait suku bunga," tulis para ahli strategi Glenmede.














