kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   -20.000   -0,70%
  • USD/IDR 17.503   -27,00   -0,15%
  • IDX 6.735   -124,36   -1,81%
  • KOMPAS100 896   -19,90   -2,17%
  • LQ45 659   -11,15   -1,66%
  • ISSI 244   -4,20   -1,70%
  • IDX30 372   -4,71   -1,25%
  • IDXHIDIV20 456   -5,92   -1,28%
  • IDX80 102   -1,89   -1,82%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,19   -0,99%

Harga Minyak Melonjak: Ini Pemicu Konflik Timur Tengah Memanas Lagi


Senin, 11 Mei 2026 / 20:25 WIB
Harga Minyak Melonjak: Ini Pemicu Konflik Timur Tengah Memanas Lagi
ILUSTRASI. Harga Minyak Dunia (REUTERS/Pavel Mikheyev)


Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Nina Dwiantika

KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Harga minyak dunia kembali melonjak tajam di awal pekan. Pasar energi bereaksi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak proposal damai terbaru dari Iran, sehingga harapan meredanya konflik di Timur Tengah kembali pupus. Ketegangan geopolitik itu membuat jalur vital Selat Hormuz masih terganggu dan pasokan minyak global tetap ketat.

Melansir Bloomberg (11/5), pada perdagangan Senin (11/5) sore waktu Asia, harga minyak Brent naik 4,19% ke level US$ 105,53 per barel, sedangkan minyak West Texas Intermediate (WTI) menguat 4,83% ke US$ 105,53 per barel.

Lonjakan harga terjadi setelah Trump menyebut respons Iran terhadap proposal perdamaian dari Washington sebagai totally unacceptable. Pernyataan itu memicu kekhawatiran bahwa konflik yang sudah berlangsung sekitar 10 pekan akan berlanjut lebih lama dari perkiraan.

Padahal sebelumnya pasar sempat berharap ada terobosan diplomatik yang bisa membuka kembali arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz. Jalur laut sempit tersebut selama ini menjadi rute utama sekitar seperlima perdagangan minyak dunia.

Baca Juga: Tiga Tanker Minyak Berhasil Keluar dari Selat Hormuz, Begini Strateginya

Gangguan berkepanjangan di kawasan itu telah menekan pasokan minyak mentah, gas alam cair, dan bahan bakar ke pasar global. Dampaknya mulai terasa pada kenaikan harga energi dan meningkatnya risiko inflasi di banyak negara.

Analis IG Markets Tony Sycamore mengatakan perhatian pasar kini beralih ke kunjungan Trump ke China pekan ini. Investor berharap Washington dapat mendorong Beijing memakai pengaruhnya terhadap Teheran guna mencapai gencatan senjata yang lebih permanen.

Di sisi lain, CEO Saudi Aramco Amin Nasser mengungkapkan dunia telah kehilangan sekitar 1 miliar barel pasokan minyak dalam dua bulan terakhir. Menurutnya, pasar energi tetap membutuhkan waktu untuk kembali stabil bahkan jika aliran pasokan dipulihkan segera.

Bagi pasar global, reli harga minyak di atas US$100 per barel menjadi sinyal baru bahwa risiko geopolitik masih menjadi ancaman utama pemulihan ekonomi dunia. Jika konflik berlarut, tekanan inflasi dan biaya energi berpotensi meningkat lagi.

Baca Juga: Konflik AS-Iran Memanas, Harga Minyak Dunia Makin Liar: Melonjak 3% Pagi Ini (11/5)


Tag


TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×