Sumber: Reuters | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Harga minyak melonjak lebih dari US$ 1 per barel pada hari ini setelah Amerika Serikat (AS) menyerang sebuah pulau Iran di Selat Hormuz dan memicu pembalasan dari Teheran, seiring konflik di Timur Tengah yang berlanjut hingga bulan keenam.
Senin (31/8/2026) pukul 08.00 WIB, harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak pengiriman Oktober 2026 naik US$ 1,08 atau 1,23% menjadi US$ 89,18 per barel.
Sejalan, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Oktober 2026 menguat 92 sen atau 1,1% ke US$ 84,32 per barel.
Sentimen utama bagi harga minyak datang setelah pasukan AS menyerang dua peluncur rudal di pulau Larak Iran yang berada di Selat Hormuz pada hari Minggu (30/8/2026). Ini jadi serangan AS pertama yang diketahui di negara Teluk tersebut sejak akhir Juli 2026.
Baca Juga: Harga Minyak Melonjak 2,5% di Pagi Ini (31/8): AS Serang Pulau Larak, Iran
Sebagai tanggapan atas hal tersebut, Iran menyerang dua pangkalan udara AS di Yordania, media Iran melaporkan pada hari Senin (31/8/2026) mengutip Garda Revolusi Iran.
"Sepertinya kita berada dalam fase eskalasi lain. Berapa lama itu berlangsung tidak mungkin untuk ditentukan. Bisa beberapa hari, bisa beberapa minggu," kata analis pasar IG, Tony Sycamore.
Grafik teknis menunjukkan bahwa jika konflik meningkat dan mendorong WTI di atas level resistensi US$ 85,80 hingga US$ 85,90 per barel, hal itu akan membuka jalan bagi kenaikan lebih lanjut, awalnya hingga level tertinggi minggu lalu US$ 87,69 diikuti oleh level tertinggi Juli di US$ 93,50, kata Sycamore.
Negosiasi untuk mengakhiri konflik mengalami kebuntuan sementara para mediator berupaya membuka kembali Selat Hormuz, yang dilalui seperlima minyak dunia sebelum perang dimulai pada akhir Februari.
Brent dan WTI diperkirakan akan mengalami penurunan kecil pada bulan Agustus setelah jatuh lebih dari 4% minggu lalu, yang merupakan penurunan mingguan pertama mereka dalam tiga minggu.
Meskipun jalan menuju kesepakatan untuk membuka kembali selat tersebut masih sulit dicapai, peningkatan aliran minyak melalui Selat Hormuz menahan kekhawatiran akan gangguan pasokan, kata analis ANZ dalam catatan kepada klien.
Baca Juga: Harga Emas Bergerak Datar di Pagi Ini (31/8), Usai Anjlok 3% di Akhir Pekan Lalu
Jumlah kapal komoditas yang terlihat berlayar melalui Selat Hormuz selama akhir pekan turun menjadi lima per hari, data pengiriman menunjukkan pada hari Senin, mencerminkan kehati-hatian di antara perusahaan yang waspada terhadap serangan terhadap kapal.
Operasi Perdagangan Maritim Inggris melaporkan pada hari Minggu bahwa sebuah kapal tanker terkena proyektil saat berlayar masuk melalui selat pada hari Sabtu.
Presiden AS Donald Trump mengatakan pada hari Minggu bahwa minyak dari kesepakatan yang baru saja dicapai dengan Venezuela akan digunakan untuk mengisi kembali Cadangan Minyak Strategis AS yang telah turun mendekati level terendahnya dalam 44 tahun.













