Harga Minyak Mentah Jatuh, Terseret Kekhawatiran Permintaan dan Penguatan Dolar AS

Rabu, 03 Agustus 2022 | 08:01 WIB Sumber: Reuters
Harga Minyak Mentah Jatuh, Terseret Kekhawatiran Permintaan dan Penguatan Dolar AS

ILUSTRASI. Harga minyak mentah acuan kembali koreksi pada perdagangan di sesi Asia hari ini (3/8)


KONTAN.CO.ID - MELBOURNE. Harga minyak jatuh hampir 1% pada awal perdagangan sesi Asia dan membalikkan kenaikan dari sesi sebelumnya jelang pertemuan produsen OPEC+. Kekhawatiran perlambatan pertumbuhan global yang memukul permintaan bahan bakar dan dolar Amerika Serikat (AS) yang lebih kuat jadi biang keladi.

Rabu (3/8), harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak pengiriman Oktober 2022 turun 94 sen atau 0,9% menjadi US$ 99,60 per barel.

Sejalan, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman September 2022 turun 68 sen atau 0,7% ke US$ 93,74 per barel, setelah naik 53 sen pada sesi sebelumnya.

OPEC+ akan bertemu pada hari hari ini. Sumber OPEC+ mengatakan kepada Reuters pekan lalu bahwa kelompok tersebut kemungkinan akan mempertahankan produksi tidak berubah pada bulan September, atau menaikkannya sedikit.

Baca Juga: Harga Minyak Mentah Ditutup Menguat Jelang Pertemuan OPEC+ Pekan Ini

Analis memperkirakan, tidak ada perubahan karena prospek permintaan yang lemah karena kekhawatiran resesi tumbuh, dan mengatakan produsen utama Arab Saudi mungkin enggan untuk meningkatkan produksi dengan mengorbankan mitra OPEC+ Rusia, yang terkena sanksi karena konflik Ukraina.

Menjelang pertemuan, OPEC+ memangkas perkiraannya untuk surplus pasar minyak tahun ini sebesar 200.000 barel per hari (bph) menjadi 800.000 bph, tiga delegasi mengatakan kepada Reuters.

"Kemungkinan mereka mengumumkan peningkatan output tetap rendah di tengah latar belakang ekonomi yang tidak pasti dan tanda-tanda melemahnya permintaan," kata analis ANZ Research dalam sebuah catatan.

"Beberapa faktor membebani prospek permintaan, termasuk meningkatnya kekhawatiran kemerosotan ekonomi di Amerika Serikat dan Eropa, tekanan utang di negara-negara berkembang, dan kebijakan China yang membatasi aktivitas di importir minyak utama dunia," kata analis Commonwealth Bank Vivek Dhar.

"Kami melihat peningkatan risiko penurunan pada perkiraan harga minyak kami sebesar US$ 100 per barel pada kuartal IV-2022 karena kekhawatiran permintaan global terus tumbuh," lanjut Dhar dalam sebuah catatan.

Selain itu, dolar yang lebih kuat, didukung oleh komentar dari pejabat Federal Reserve AS yang mengisyaratkan lebih banyak kenaikan suku bunga untuk mendinginkan inflasi, juga membebani harga minyak. Mengingat, minyak diperdagangkan dalam the greenback, yang membuat minyak lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.

Baca Juga: Dugaan Pencucian Uang, Meksiko Selidiki Mantan Presiden Pena Nieto

Menambah pandangan bearish pada permintaan, data dari American Petroleum Institute, sebuah kelompok industri, menunjukkan stok minyak mentah AS naik sekitar 2,2 juta barel untuk pekan yang berakhir 29 Juli.

Posisi ini berbanding terbalik dengan ekspektasi analis untuk penurunan sekitar 600.000 barel.

Persediaan bensin turun 200.000 barel, yang merupakan penarikan lebih kecil dari perkiraan analis. Namun stok sulingan turun sekitar 350.000 barel terhadap perkiraan analis untuk membangun.

Pasar akan mencari untuk melihat apakah data resmi dari Energy Information Administration (EIA) AS pada 1430 GMT mengkonfirmasi pandangan inventaris.

 

Editor: Anna Suci Perwitasari

Terbaru