Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Harga minyak melonjak tajam pada Senin (2/3/2026), sementara investor berbondong-bondong mencari aset aman seperti obligasi dan emas setelah konflik militer di Timur Tengah diperkirakan dapat berlangsung selama beberapa minggu. Situasi ini terjadi di tengah pasar global yang sebelumnya sudah diliputi kekhawatiran terkait sektor kecerdasan buatan (AI) dan perbankan.
Data Reuters menunjukkan, minyak mentah acuan global Brent Crude melonjak 9% menjadi US$ 79,42 per barel. Sementara minyak mentah AS West Texas Intermediate naik 8,6% menjadi US$ 72,61 per barel.
Di sisi lain, harga emas juga meningkat sekitar 1,4% menjadi US$ 5.350 per ons.
Serangan militer yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Iran juga membalas dengan serangan rudal ke sejumlah wilayah di kawasan tersebut, meningkatkan risiko meluasnya konflik ke negara-negara tetangga.
Presiden Donald Trump bahkan mengatakan kepada surat kabar Daily Mail bahwa konflik ini bisa berlangsung hingga empat minggu lagi. Ia juga menegaskan bahwa serangan akan terus berlanjut sampai tujuan militer Amerika Serikat tercapai.
Baca Juga: Krisis Iran: 3 Ujian Berat Ini Tentukan Nasib Rezim Pasca-Khamenei
Selat Hormuz jadi perhatian utama pasar
Perhatian utama pasar global kini tertuju pada Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia melalui laut serta sekitar 20% pasokan gas alam cair global.
Meskipun jalur tersebut belum sepenuhnya diblokir, sejumlah situs pelacakan kapal menunjukkan kapal tanker mulai menumpuk di kedua sisi selat. Banyak kapal menunggu karena khawatir terhadap risiko serangan atau kesulitan memperoleh asuransi pelayaran.
Kepala analisis geopolitik di Rystad Energy, Jorge Leon, mengatakan bahwa gangguan paling nyata bagi pasar minyak saat ini adalah terhentinya lalu lintas kapal secara efektif di Selat Hormuz.
Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi menahan sekitar 15 juta barel minyak per hari untuk tidak sampai ke pasar global.
“Jika tidak ada sinyal de-eskalasi dalam waktu dekat, kami memperkirakan harga minyak akan mengalami penyesuaian naik secara signifikan,” ujarnya.
Lonjakan harga minyak yang berkepanjangan berpotensi memicu kembali tekanan inflasi global. Kenaikan harga energi juga bisa menjadi beban tambahan bagi dunia usaha dan konsumen sehingga berisiko menekan permintaan ekonomi.
Risiko lonjakan harga minyak global
Aliansi produsen minyak OPEC+ memang telah sepakat menaikkan produksi sekitar 206.000 barel per hari mulai April. Namun sebagian besar tambahan produksi tersebut tetap harus dikirim melalui tanker dari kawasan Timur Tengah.
SVP pasar minyak di Wood Mackenzie, Alan Gelder, menyebut situasi saat ini memiliki kemiripan dengan embargo minyak Timur Tengah pada era 1970-an.
Saat itu harga minyak melonjak hingga 300% menjadi sekitar US$ 12 per barel pada 1974.
Baca Juga: Israel Kembali Menyerang Teheran, Dewan Kepempimpinan Ambil Alih Kekuasaan
Jika dikonversi dengan nilai saat ini, harga tersebut setara sekitar US$ 90 per barel pada tahun 2026. Dengan kekhawatiran gangguan pasokan besar seperti saat ini, harga minyak berpotensi melampaui level tersebut.
Kenaikan tajam harga energi akan menjadi kabar buruk bagi negara pengimpor minyak besar seperti Jepang yang mengimpor hampir seluruh kebutuhan minyaknya. Kondisi ini membuat kontrak berjangka indeks saham Nikkei 225 turun sekitar 1,1%.
Pasar saham dan mata uang ikut bergejolak
Di pasar saham Amerika Serikat, kontrak berjangka S&P 500 turun sekitar 0,8%, sedangkan futures Nasdaq Composite melemah 0,9%.
Gejolak harga minyak juga memicu pergerakan di pasar mata uang. Dolar AS melemah sekitar 0,2% terhadap franc Swiss yang dikenal sebagai aset safe haven.
Namun dolar tetap mendapat dukungan karena Amerika Serikat merupakan eksportir energi bersih dan obligasi pemerintahnya masih dianggap sebagai aset likuid di tengah ketidakpastian global. Hal ini turut menekan euro sekitar 0,3% menjadi US$1,1780.
Sementara itu, yen Jepang yang biasanya juga menjadi aset lindung nilai tidak sepenuhnya menguat karena Jepang sangat bergantung pada impor minyak. Dolar justru naik sekitar 0,2% terhadap yen menjadi 156,31 yen.
Pasar juga menanti data ekonomi AS
Di pasar obligasi, kontrak berjangka obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun menguat tipis setelah imbal hasilnya turun di bawah 4% pada pekan lalu untuk pertama kalinya sejak akhir November.
Permintaan terhadap obligasi meningkat setelah pemberi kredit perumahan Inggris MFS ditempatkan dalam proses administrasi akibat dugaan penyimpangan keuangan.
Kabar tersebut memicu kekhawatiran di sektor kredit karena sejumlah bank besar diketahui menjadi pemberi pinjaman bagi perusahaan tersebut, yang memiliki utang sekitar 2 miliar pound sterling.
Tonton: Geopolitik & IHSG: Dampak Iran & Tarif AS
Tekanan di sektor perbankan ini menambah kekhawatiran pasar yang sebelumnya sudah gelisah akibat volatilitas saham teknologi berbasis AI.
Selain konflik geopolitik, investor juga akan menghadapi rangkaian data ekonomi penting dari Amerika Serikat pekan ini, termasuk survei manufaktur Institute for Supply Management, data penjualan ritel, serta laporan ketenagakerjaan bulanan yang sangat diperhatikan pasar.
Jika data ekonomi menunjukkan pelemahan, kepercayaan terhadap ekonomi AS bisa terguncang setelah kinerja yang mengecewakan pada kuartal keempat. Namun kondisi tersebut juga dapat meningkatkan peluang pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve.
Saat ini pasar memperkirakan peluang penurunan suku bunga pada Juni sekitar 53%, dengan total pemangkasan sekitar 60 basis poin sepanjang tahun ini.













