Sumber: Reuters | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - LONDON. Harga minyak berbalik menguat dan menghapus kerugian sebelumnya setelah laporan serangan tembakan terhadap setidaknya tiga kapal kontainer di Selat Hormuz dan kurangnya kemajuan dalam pembicaraan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Rabu (22/3/2026) pukul 18.00 WIB, harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak pengiriman Juni 2026 naik 73 sen atau 0,7% menjadi US$ 99,21 per barel.
Sejalan, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Juni 2026 juga menguat 59 sen atau 0,7% ke US$ 90,26 per barel.
Kedua patokan tersebut naik sekitar 3% pada hari Selasa (21/4/2026).
Baca Juga: UPDATE: Emas Menguat ke US$ 4.756 Rabu (22/4) di Tengah Redanya Ketegangan Iran
Setidaknya tiga kapal kontainer terkena tembakan di Selat Hormuz pada hari ini. Angkatan Laut Garda Revolusi Iran menyita dua kapal karena sebut melakukan pelanggaran maritim dan memindahkannya ke pantai Iran, lapor kantor berita semi-resmi Tasnim.
Iran dan AS telah memberlakukan pembatasan pada kapal yang menggunakan selat tersebut, yang hingga perang Iran dimulai pada akhir Februari telah mengangkut sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair global.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengatakan akan memperpanjang gencatan senjata dengan Iran tanpa batas waktu, beberapa jam sebelum gencatan senjata tersebut berakhir. Kedua pihak tidak hadir dalam pembicaraan perdamaian di Pakistan.
DATA STOK MINYAK MENTAH DAN PRODUK AS MENJADI FOKUS
Pengumuman gencatan senjata tampaknya bersifat sepihak, dan belum jelas apakah Iran, atau sekutu AS Israel, akan setuju untuk memperpanjang gencatan senjata yang dimulai dua minggu lalu.
Di Eropa, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy mengatakan pipa Druzhba yang membawa minyak Rusia siap untuk melanjutkan operasinya. Namun, tiga sumber industri mengatakan Rusia akan menghentikan ekspor minyak dari Kazakhstan ke Jerman melalui pipa tersebut mulai 1 Mei.
Baca Juga: ExxonMobil Pertimbangkan Jual SPBU di Hong Kong, Nilai Capai US$ 600 Juta
Kemudian pada hari Rabu, Badan Informasi Energi AS dijadwalkan untuk menerbitkan data inventaris mingguan. Stok minyak mentah turun sebesar 4,5 juta barel pekan lalu, sementara stok bensin dan distilat juga menurun, kata sumber pasar, mengutip angka dari American Petroleum Institute.
Analis memperkirakan penurunan stok minyak mentah sebesar 1,2 juta barel untuk pekan yang berakhir pada 17 April.
"Jika EIA mengkonfirmasi penurunan tersebut dan ekspor mingguan AS baik minyak mentah maupun produk olahan tetap kuat, ini akan dianggap sebagai konfirmasi bahwa konsumen di Eropa dan Timur Jauh berebut untuk mendapatkan pasokan minyak di mana pun, kapan pun, dan bagaimana pun caranya," kata analis PVM.













