kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45992,69   1,09   0.11%
  • EMAS1.132.000 -0,26%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Harga Minyak Tergelincir 1% di Tengah Kekhawatiran Kenaikan Suku Bunga AS


Selasa, 28 Februari 2023 / 06:08 WIB
Harga Minyak Tergelincir 1% di Tengah Kekhawatiran Kenaikan Suku Bunga AS
ILUSTRASI. Harga minyak mentah acuan sama-sama ditutup melemah hampir 1% di perdagangan awal pekan ini


Sumber: Reuters | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Harga minyak turun sekitar 1% di awal pekan ini karena data ekonomi Amerika Serikat (AS) yang kuat membuat investor bersiap untuk kenaikan suku bunga lebih lanjut dari Federal Reserve untuk melawan inflasi. Hal tersebut dianggap dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi dan permintaan minyak.

Senin (27/2), harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak pengiriman April 2023 ditutup turun 71 sen atau 0,9% menjadi US$ 82,45 per barel.

Sejalan, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman April 2023 juga ditutup turun 64 sen atau 0,8% ke US$ 75,68 per barel.

Pelemahan minyak mentah dibatasi oleh kekhawatiran pasokan minyak setelah Rusia menghentikan ekspor ke Polandia melalui jalur pipa utama.

Data terbaru AS, termasuk pesanan baru untuk barang modal utama manufaktur meningkat lebih dari yang diharapkan pada bulan Januari. Dengan pengiriman pulih, menunjukkan bahwa pengeluaran bisnis untuk peralatan meningkat pada awal kuartal pertama.

Baca Juga: Sanksi Ekonomi Rusia Penyebab Utama Turunnya Harga Minyak

Data ekonomi yang positif itu membantu pasar saham global untuk pulih, namun bursa saham tetap mendekati posisi terendah enam minggu karena investor bersiap untuk kenaikan suku bunga di Amerika Serikat dan Eropa.

Gubernur The Fed Philip Jefferson mengatakan inflasi untuk layanan di Amerika Serikat tetap "sangat tinggi."

Menambah kekhawatiran permintaan minyak global, meningkatnya ketegangan China-AS memukul pasar ekuitas di China dan Hong Kong sementara investor menunggu sinyal kebijakan dari Kongres Rakyat Nasional mendatang.

Pada hari Minggu, Penasihat Keamanan Nasional Gedung Putih Jake Sullivan mengatakan, China belum bergerak untuk memberi Rusia bantuan mematikan untuk digunakan melawan Ukraina dan menambahkan Washington telah menjelaskan di balik pintu tertutup bahwa langkah seperti itu akan memiliki konsekuensi serius.

Sentimen lain yang juga membebani minyak, Energy Information Administration (EIA) melaporkan, di pekan lalu stok minyak mentah AS naik ke level tertinggi sejak Mei 2021.

Bob Yawger dari Mizuho mengatakan dalam sebuah catatan bahwa "kemungkinan besar akan terjadi minggu ini."

Rusia, sementara itu, menghentikan pasokan minyak ke Polandia melalui pipa Druzhba, kilang Polandia PKN Orlen mengatakan pada hari Sabtu, sehari setelah Polandia mengatakan telah mengirimkan tank Leopard pertamanya ke Ukraina.

Baca Juga: Wall Street Ditutup Sedikit Menguat Usai Aksi Jual Terburuk di Pekan Lalu

Pada hari Senin, monopoli pipa minyak Rusia, Transneft, mengatakan mulai memompa minyak dari Kazakhstan ke Jerman melalui Polandia melalui pipa Druzhba, sementara menghentikan pengiriman ke Polandia.

Sebelumnya, Rusia mengumumkan rencana bulan ini untuk memotong ekspor minyak dari pelabuhan barat hingga 25% pada bulan Maret dibandingkan Februari, melebihi pemotongan produksi yang diperdebatkan sebelumnya sebesar 5%.

Namun, sebagian besar analis melihat larangan Uni Eropa (UE) atas impor minyak lintas laut Rusia dan batasan harga internasional hanya berdampak kecil pada pasokan global secara keseluruhan.

"Produksi minyak Rusia telah melampaui ekspektasi dalam beberapa bulan terakhir karena sanksi UE/AS yang longgar," kata Bank of America dalam sebuah catatan.




TERBARU
Kontan Academy
Supply Chain Management on Efficient Transportation Modeling (SCMETM) Supply Chain Management on Distribution Planning (SCMDP)

[X]
×