Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga minyak kembali naik pada Rabu (11/3/2026) meski pasar masih meragukan apakah rencana International Energy Agency (IEA) untuk pelepasan cadangan minyak secara besar-besaran bisa menahan potensi guncangan pasokan akibat konflik AS-Israel-Iran.
Melansir Reuters, harga minyak mentah Brent naik 59 sen atau 0,7% menjadi US$88,39 per barel pada pukul 07.27 GMT, sementara minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) naik 98 sen atau 1,2% menjadi US$84,43 per barel.
Kedua kontrak sempat melanjutkan penurunan pada perdagangan awal Asia, setelah anjlok lebih dari 11% pada Selasa lalu.
Baca Juga: Bursa Australia Ditutup Menguat Rabu (11/3), Sektor Tambang Pimpin Pemulihan
IEA disebutkan berencana melepaskan cadangan minyak yang jumlahnya lebih besar dibandingkan dua kali pelepasan cadangan pada 2022, saat Rusia melancarkan invasi besar-besaran ke Ukraina.
Goldman Sachs menilai pelepasan cadangan sebesar itu hanya dapat menutupi 12 hari gangguan ekspor minyak Teluk dari perkiraan 15,4 juta barel per hari.
Serangan udara AS dan Israel terhadap Iran pada Selasa disebut sebagai yang paling intens sejak konflik berlangsung.
Militer AS juga menonaktifkan 16 kapal penabur ranjau Iran di Selat Hormuz, sementara Presiden AS Donald Trump menegaskan setiap ranjau yang dipasang Iran harus segera dihapus.
Namun, beberapa analis meragukan dampak pelepasan cadangan IEA terhadap harga minyak.
Suvro Sarkar, pimpinan tim sektor energi DBS, mengatakan, “Langkah seperti pelepasan cadangan strategis IEA bukan solusi krisis. Pergerakan harga minyak akan sangat bergantung pada durasi perang Iran.”
Baca Juga: SpaceX Incar IPO di Nasdaq, Berpotensi Jadi Terbesar Sepanjang Sejarah
Gangguan Pasokan Masih Berlanjut
Di sisi pasokan, perusahaan minyak Abu Dhabi ADNOC menutup kilang Ruwais akibat kebakaran setelah serangan drone, menjadi gangguan terbaru pada infrastruktur energi di tengah konflik.
Arab Saudi berupaya menambah pasokan melalui Laut Merah, namun volume masih jauh dari yang dibutuhkan untuk menutupi turunnya aliran dari Selat Hormuz.
Baca Juga: Militer AS Hancurkan 16 Kapal Penabur Ranjau Iran di Selat Hormuz
Konsultan energi Wood Mackenzie memperkirakan perang ini memotong pasokan minyak dan produk minyak Teluk sekitar 15 juta barel per hari, yang berpotensi mendorong harga minyak hingga US$150 per barel.
Sementara itu, stok minyak, bensin, dan distilat AS turun pekan lalu, menunjukkan permintaan yang tetap tinggi, menurut data American Petroleum Institute.













