Sumber: Reuters | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - BEIJING. Harga aluminium di Shanghai kembali menguat pada Rabu, setelah fokus pasar kembali pada kekhawatiran pasokan global akibat konflik di Timur Tengah. Ini menyusul penurunan sementara yang dipicu pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait perang di Iran.
Kontrak aluminium paling aktif diperdagangkan di Shanghai Futures Exchange ditutup naik 2,06% pada 25.215 yuan (sekitar US$ 3.672 per ton metrik). Pada Selasa, kontrak ini sempat turun 1,41% setelah komentar Trump yang menyebut kemungkinan berakhirnya perang di Iran, yang sempat meredakan kekhawatiran pasokan secara sementara.
Sementara itu, aluminium patokan tiga bulan di London Metal Exchange memangkas kenaikan sebelumnya, turun 0,19% menjadi US$ 3.399,5 per ton pada pukul 15:02 WIB. Pada Senin, harga sempat menyentuh hampir empat tahun tertinggi di US$ 3.544 per ton.
Baca Juga: Harga Minyak Bergejolak Rabu (11/3), Pasar Ragukan Efektivitas Cadangan IEA
Konflik di Timur Tengah, yang menyumbang sekitar 9% dari pasokan aluminium global, mengguncang pasar aluminium dunia karena pengiriman melalui Selat Hormuz terhenti. Dampaknya, pabrik peleburan Qatari Qatalum mulai menghentikan produksinya, dan Aluminium Bahrain, salah satu pabrik peleburan terbesar dunia, menyatakan force majeure untuk pengiriman.
“Struktur backwardation mencerminkan ketatnya pasokan jangka pendek,” ujar Jing Xiao, analis utama di SDIC Futures. Backwardation adalah kondisi pasar di mana pengiriman saat ini dihargai lebih tinggi daripada pengiriman di masa depan.
Xiao menambahkan, setelah produksi berhenti, diperlukan setidaknya setengah tahun untuk memulai kembali operasi, menandakan ketiadaan pasokan jangka panjang dari Timur Tengah.
Selain itu, investor menunggu sejumlah data ekonomi AS pekan ini, termasuk indeks harga konsumen (CPI), untuk menilai arah kebijakan Federal Reserve.
Untuk logam lainnya di SHFE, tembaga stabil, nikel turun 0,69%, timah sedikit turun 0,71%, timbal turun 0,06%, dan seng turun tipis 0,08%. Sementara di LME, tembaga turun 1,07%, nikel 0,45%, timah 0,34%, seng 0,75%, dan timbal stabil.













