Sumber: Reuters | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - LONDON . Harga minyak dunia turun sekitar 5% pada Senin (2/2/2026), setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan Iran sedang serius berbicara dengan Washington, menandakan meredanya ketegangan dengan anggota OPEC dan menurunkan kekhawatiran gangguan pasokan.
Futures Brent turun US$ 3,63 atau 5,2% menjadi US$ 65,69 per barel, sementara minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) turun US$ 3,60 atau 5,5% menjadi US$ 61,61 per barel pada pukul 16.20 WIB. Penurunan ini terjadi setelah Brent dan WTI mencatat kenaikan bulanan terbesar sejak 2022 pada Januari, masing-masing naik 16% dan 13%, akibat meredanya risiko serangan militer terhadap Iran.
Baca Juga: Ekonomi Arab Saudi Tumbuh 4,9% pada Kuartal IV, Didorong Nonmigas dan Produksi Minyak
“Ketiadaan eskalasi lebih lanjut di Timur Tengah, ditambah berkurangnya gangguan pasokan di AS dan Kazakhstan, menekan harga minyak,” kata analis UBS Giovanni Staunovo. Pernyataan Trump pada Sabtu bahwa Iran “serius berbicara,” menyusul pengumuman pejabat keamanan tertinggi Iran Ali Larijani tentang negosiasi yang sedang diatur, mendorong meredanya ketegangan.
Analis Phillip Nova Priyanka Sachdeva menambahkan, tekanan pada harga juga dipicu pelemahan pasar komoditas secara luas, termasuk penurunan emas dan perak, yang sebagian dipengaruhi menguatnya dolar AS. “Penguatan dolar membuat minyak berdenominasi dolar lebih mahal bagi pembeli non-AS, sehingga menekan harga,” ujarnya.
Selain itu, kekhawatiran akan pasokan minyak global yang melebihi permintaan kembali muncul setelah meredanya ketegangan di Timur Tengah. Dalam pertemuan pada Minggu, OPEC+ sepakat mempertahankan produksi minyak untuk Maret 2026. Capital Economics menilai bahwa risiko geopolitik selama ini menutupi kondisi pasar minyak yang secara fundamental sedang melemah, dan pasokan yang cukup akan menekan harga Brent hingga akhir 2026.













