Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga tembaga bergerak stabil di dekat level tertinggi dalam sepekan pada perdagangan Senin (26/1/2026), didukung oleh pelemahan dolar AS dan gangguan pasokan dari Chile.
Sementara itu, harga timah terkoreksi setelah reli tajam yang sempat membawa logam solder tersebut ke level rekor.
Melansir Reuters, kontrak tembaga paling aktif di Shanghai Futures Exchange (SHFE) ditutup naik 1,26% ke level 101.880 yuan per ton pada perdagangan siang hari. Harga sempat menyentuh 103.880 yuan per ton, tertinggi dalam lebih dari sepekan.
Baca Juga: Bank of Japan Perkirakan Peningkatan Inflasi Akibat Pelemahan Yen Akan Semakin Besar
Namun, harga tembaga acuan tiga bulan di London Metal Exchange (LME) justru melemah 0,56% ke level US$13.041 per ton pada pukul 07.00 GMT, setelah sebelumnya menyentuh US$13.260 per ton, juga tertinggi lebih dari sepekan.
Pelemahan dolar AS, yang mencatatkan penurunan mingguan terdalam sejak Juni pekan lalu, turut menopang harga logam berbasis dolar karena menjadi lebih murah bagi investor pemegang mata uang lain. Kekhawatiran geopolitik global juga mendorong minat terhadap komoditas.
Selain faktor mata uang, reli tembaga didukung gangguan operasional tambang di Chile.
Kontraktor alat berat Finning menyatakan kesepakatan kerja telah tercapai pada Sabtu untuk mengakhiri blokade di tambang Escondida milik BHP dan tambang Zaldivar milik Antofagasta.
Sebelumnya, aksi mogok pekerja pada Jumat sempat memblokir akses jalan ke kedua tambang tersebut.
Namun, pemogokan masih berlanjut di tambang Mantoverde milik Capstone Copper. Serikat pekerja menuding perusahaan menghindari perundingan untuk mengakhiri aksi mogok tersebut.
Di sisi lain, harga timah mengalami koreksi setelah mencetak rekor. Kontrak timah paling aktif di SHFE naik 1,37% ke level 425.340 yuan per ton, setelah sebelumnya melonjak hingga 10,27% dan mencetak rekor 462.720 yuan per ton dalam sesi yang sama.
Sementara itu, harga timah acuan di LME anjlok 6,10% ke level US$53.350 per ton, setelah sempat menyentuh rekor US$57.515 per ton.
Baca Juga: Harga Emas Meledak! Tembus US$5.100, Siap Sentuh US$6.000?
Pelaku pasar menyebut lonjakan harga timah didorong aksi spekulatif akibat ketatnya pasokan global.
Salah satu faktor terbaru berasal dari Indonesia, di mana pemerintah meluncurkan operasi penertiban tambang ilegal dengan dukungan militer.
Sepanjang 2026, timah menjadi logam dasar dengan kinerja terbaik, melonjak lebih dari 36% di pasar Shanghai dan lebih dari 37% di pasar London.
Untuk logam dasar lainnya di SHFE, harga aluminium naik 0,33%, seng menguat 0,65%, nikel naik 0,25%, sementara timbal turun 0,15%.
Di LME, aluminium menguat 0,13%, seng naik 0,84%, timbal bertambah 0,05%, dan nikel melemah 1,87%.













