Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga emas dunia kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa pada perdagangan Senin (waktu setempat), menembus level US$5.100 per ons troi. Lonjakan ini memperpanjang reli historis emas seiring meningkatnya ketidakpastian geopolitik global yang mendorong investor memburu aset safe haven.
Harga emas spot tercatat naik 2,2% menjadi US$5.089,78 per ons pada pukul 06.56 GMT, setelah sebelumnya menyentuh rekor tertinggi di US$5.110,50. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Februari juga menguat dengan persentase yang sama ke level US$5.086,30 per ons.
Sepanjang 2025, harga emas telah melonjak 64%, menjadi kenaikan tahunan terbesar sejak 1979.
Reli ini didorong oleh permintaan safe haven, pelonggaran kebijakan moneter Amerika Serikat, pembelian besar-besaran bank sentral termasuk China yang mencatat pembelian selama 14 bulan berturut-turut hingga Desember, serta arus dana masuk yang memecahkan rekor ke exchange-traded funds (ETF) berbasis emas.
Dalam sepekan terakhir, harga emas terus mencetak rekor demi rekor dan sepanjang tahun ini saja sudah naik lebih dari 18%.
Baca Juga: Harga Emas Rekor Lagi! Tembus ke US$ 5.100 di Tengah Hari Ini (26/1)
Analis pasar senior Capital.com Kyle Rodda menilai pemicu terbaru reli emas berasal dari krisis kepercayaan terhadap pemerintahan AS dan aset-aset berbasis dolar. Ia menyebut keputusan-keputusan yang dinilai tidak konsisten dari pemerintahan Presiden Donald Trump dalam sepekan terakhir memicu kekhawatiran di pasar.
Trump sempat mengancam akan mengenakan tarif kepada sekutu-sekutu Eropa sebagai tekanan untuk mengambil alih Greenland, sebelum akhirnya menarik kembali ancaman tersebut. Pada akhir pekan, ia kembali menyatakan akan mengenakan tarif 100% kepada Kanada jika negara itu melanjutkan kerja sama dagang dengan China.
Trump juga mengancam akan mengenakan tarif 200% terhadap anggur dan sampanye asal Prancis sebagai upaya menekan Presiden Emmanuel Macron agar bergabung dalam inisiatif Board of Peace yang digagas AS.
Sejumlah pengamat menilai inisiatif ini berpotensi melemahkan peran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai platform utama penyelesaian konflik global, meskipun Trump menyatakan lembaga tersebut akan tetap bekerja sama dengan PBB.
Menurut Rodda, situasi tersebut menciptakan perubahan permanen dalam cara kerja diplomasi global dan mendorong pelaku pasar mengalihkan dana ke emas sebagai alternatif utama.
Di sisi lain, penguatan yen Jepang turut menekan dolar AS pada perdagangan Senin. Pasar juga bersiaga terhadap kemungkinan intervensi di pasar yen dan menanti hasil rapat Federal Reserve pekan ini. Melemahnya dolar membuat emas yang diperdagangkan dalam dolar menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lain.
Analis memperkirakan harga emas masih berpotensi melanjutkan kenaikan menuju US$6.000 per ons tahun ini, ditopang meningkatnya ketegangan global serta permintaan kuat dari bank sentral dan investor ritel.
Baca Juga: Harga Emas Tembus US$5.000, Analis Cemas! Mengapa?
Direktur Metals Focus Philip Newman mengatakan pihaknya memperkirakan harga emas dapat mencapai puncak di sekitar US$5.500 pada akhir tahun ini. Meski koreksi sesekali diperkirakan terjadi akibat aksi ambil untung, ia menilai setiap penurunan harga akan bersifat sementara dan segera direspons dengan minat beli yang kuat.
Tidak hanya emas, logam mulia lainnya juga mencatatkan kenaikan signifikan. Harga perak spot melonjak 4,8% menjadi US$107,903 per ons setelah sempat mencetak rekor US$109,44.
Platinum naik 3,4% ke US$2.861,91 per ons setelah menyentuh rekor US$2.891,6, sementara paladium menguat 2,5% ke US$2.060,70 setelah menyentuh level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun.
Perak bahkan telah menembus level US$100 per ons untuk pertama kalinya pada Jumat lalu, melanjutkan kenaikan 147% tahun lalu yang didorong arus dana investor ritel dan pembelian berbasis momentum di tengah ketatnya pasokan fisik logam tersebut.













