Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Nina Dwiantika
KONTAN.CO.ID - MUMBAI. Helios Capital Management mulai melirik saham-saham Grup Adani sebagai salah satu andalan baru portofolionya. Manajer investasi asal Singapura itu menilai konglomerasi milik Gautam Adani berpeluang menjadi pemenang berikutnya di pasar India, terutama seiring berkembangnya industri kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Laporan Bloomberg (10/7), Helios membeli sekitar 770.000 saham Adani Enterprises Ltd. pada kuartal II-2026 melalui tiga reksa dana yang dikelolanya. Dua di antaranya untuk pertama kalinya masuk ke saham tersebut.
Pendiri Helios Capital Management Samir Arora mengatakan, keputusan menambah investasi didorong oleh meredanya persoalan hukum dan reputasi yang sempat membayangi Grup Adani. Selain itu, bisnis inti Adani di sektor pelabuhan dan energi dinilai memiliki prospek pertumbuhan yang kuat.
"Kami selalu menyukai kemampuan eksekusi mereka. Kami juga telah memiliki saham Adani Ports & Special Economic Zone, sehingga memahami kualitas bisnis mereka," ujar Arora dalam wawancara dengan Bloomberg.
Reksa dana Helios Flexi Cap Fund yang dikelolanya mencatatkan imbal hasil sekitar 8% dalam setahun terakhir, mengungguli 91% reksa dana sejenis. Sebagai perbandingan, indeks Nifty 500 Total Return justru turun 0,7% pada periode yang sama.
Masuknya Helios menambah daftar investor besar yang meningkatkan kepemilikan di Grup Adani, menyusul Capital Group dan SBI Funds Management. Langkah tersebut terjadi setelah Adani berhasil menyelesaikan sejumlah persoalan hukum dan dinilai semakin strategis sebagai salah satu pemain utama dalam pengembangan infrastruktur AI di India.
Baca Juga: Kasus Kantong Nikotin Seret Adani, Pemerintah India Perketat Pengawasan Bandara
Grup Adani sebelumnya mengumumkan rencana investasi sekitar US$ 100 miliar untuk membangun pusat data (data center) dan memperluas bisnis digital dengan memanfaatkan portofolio aset energinya. Di tengah belum berkembangnya industri semikonduktor domestik India, investor kini mulai memburu emiten yang menjadi penopang infrastruktur AI, sehingga mendorong reli saham-saham energi Adani.
Di sisi lain, Helios mulai mengurangi eksposur pada saham perusahaan jasa perangkat lunak India yang selama ini menjadi salah satu investasi terbesarnya. Arora menilai disrupsi AI membuat prospek sektor perangkat lunak semakin menantang, meski ia masih optimistis terhadap beberapa emiten tertentu.
Selain saham Adani, Arora juga menjagokan Eternal Ltd., perusahaan layanan pesan-antar makanan, serta One 97 Communications Ltd., pemilik platform pembayaran digital Paytm.
Arora juga tetap optimistis terhadap prospek ekonomi India. Menurut dia, berbagai faktor yang sebelumnya membebani pasar mulai mereda, seperti stabilnya harga minyak dan potensi menguatnya nilai tukar rupee berkat arus masuk dana asing, terutama ke pasar obligasi.
Sejalan dengan itu, Helios mengalihkan porsi investasinya ke sektor jasa keuangan, barang modal, pertahanan, infrastruktur kelistrikan, jasa manufaktur elektronik, serta perusahaan barang konsumsi.
"Ada dua atau tiga alasan mengapa sebelumnya banyak investor tidak menyukai India, dan semuanya kini mulai menghilang," kata Arora.
Baca Juga: Bangun Pusat Data AI di India, Konglomerat Adani Gelontorkan US$ 100 Miliar














