Sumber: Reuters | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID – DUBAI/RIYADH. Kelompok Houthi di Yaman memperingatkan maskapai penerbangan, penumpang, dan pekerja bandara agar menjauhi bandara-bandara di Arab Saudi. Peringatan tersebut disampaikan sehari setelah serangan di bandara internasional Riyadh menewaskan 12 orang dan melukai lebih dari 300 orang.
Serangan pada Sabtu (10/10/2026) itu menjadi serangan paling mematikan di Arab Saudi dalam lebih dari satu dekade. Insiden tersebut juga terjadi di tengah meningkatnya pertempuran antara kelompok Houthi yang didukung Iran dan pasukan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi.
“Sekali lagi, kami memperingatkan seluruh maskapai penerbangan, tenaga ahli, karyawan, pekerja, dan pelancong agar tidak menggunakan bandara dan wilayah udara Arab Saudi karena rentan terhadap serangan dan telah menjadi medan operasi pasukan kami, kecuali bandara di Mekkah dan Madinah,” demikian pernyataan Houthi melalui platform X pada Minggu (11/10/2026).
Baca Juga: Paus Leo XIV Akan Menjalani Operasi Pengangkatan Nodul di Paru-paru
Kelompok tersebut meminta semua pihak menanggapi peringatan itu dengan serius. Houthi juga menyatakan Arab Saudi bertanggung jawab atas setiap upaya pencegatan serangan yang gagal.
Arab Saudi dalam beberapa pekan terakhir meningkatkan keterlibatan militernya di Yaman dengan melancarkan serangan terhadap Houthi dan mendukung serangan balasan pasukan pemerintah Yaman. Langkah tersebut dilakukan setelah kelompok Houthi merebut wilayah strategis di sepanjang pesisir Laut Merah pada bulan lalu.
Kementerian Luar Negeri Yaman yang dikelola Houthi juga memperingatkan bahwa tindakan militer Arab Saudi lebih lanjut di Yaman akan memicu respons yang lebih kuat. Kementerian itu menyatakan setiap tindakan akan didasarkan pada prinsip timbal balik.
“Jika musuh Saudi tidak menghentikan agresi dan campur tangannya di Yaman, hal yang lebih buruk akan terjadi, insyaallah,” demikian pernyataan kementerian yang disiarkan televisi Al Masirah yang dikelola Houthi.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Sabtu mengatakan bahwa pemerintahannya sedang mempertimbangkan untuk bergabung dalam serangan Arab Saudi terhadap Houthi.
Konflik tersebut merupakan dampak meluas dari perang yang lebih besar terhadap Iran, yang dilancarkan AS dan Israel pada Februari lalu.
Koalisi pimpinan Arab Saudi juga melaporkan bahwa sebuah proyektil jatuh di dekat Bandara Internasional King Fahd di Dammam, Provinsi Timur Arab Saudi, pada Sabtu. Koalisi menyatakan telah mencegat sebuah drone di wilayah tersebut pada Minggu.
Bandara Riyadh ditutup sementara, konferensi energi tetap berlangsung
Serangan pada Sabtu memaksa Bandara Internasional King Khalid di Riyadh ditutup sementara. Meski demikian, Kementerian Energi Arab Saudi menyatakan konferensi energi internasional yang telah lama direncanakan tetap berlangsung di Riyadh pada Minggu.
Baca Juga: Ukraina Siap Setop Serang Kilang Minyak Rusia, Asal Moskow Lakukan Ini
Kongres Energi WPC yang berlangsung selama lima hari itu digelar di sebuah pusat konvensi sekitar 10 kilometer dari bandara. Televisi pemerintah Arab Saudi melaporkan, lebih dari 70 menteri, 300 eksekutif perusahaan, serta perwakilan dari lebih dari 25 organisasi energi internasional telah mengonfirmasi kehadiran mereka.
Namun, belum diketahui apakah para peserta akan menghadiri acara secara langsung atau melalui pertemuan virtual.
Pertemuan tingkat menteri Forum Energi Internasional juga dijadwalkan berlangsung pada Minggu. Berdasarkan pemberitahuan kepada media, sesi pleno pertemuan tersebut akan digelar secara tertutup. Belum ada keterangan lebih lanjut mengenai pelaksanaannya.
Di sisi lain, otoritas Arab Saudi telah memberitahukan para orangtua bahwa kegiatan belajar mengajar tatap muka akan dihentikan sementara dan dialihkan ke pembelajaran jarak jauh mulai Minggu hingga Kamis. Kebijakan tersebut berlaku bagi seluruh siswa, guru, dan staf administrasi.
Dalam serangan Sabtu, yang merupakan serangan ketiga terhadap bandara internasional Riyadh dalam sepekan, 12 korban tewas terdiri dari empat warga Arab Saudi, dua warga Bangladesh, serta masing-masing warga Amerika Serikat, Yordania, Palestina, Suriah, Sudan, dan Mesir, menurut otoritas Arab Saudi.
Otoritas penerbangan sipil Arab Saudi menyatakan operasional bandara dihentikan sementara untuk melakukan pemeriksaan kerusakan dan penilaian keselamatan. Namun, otoritas belum menyebutkan kapan penerbangan akan kembali beroperasi.
Dua serangan sebelumnya terhadap bandara internasional Riyadh pada awal pekan juga menewaskan empat orang dan menyebabkan kerusakan parah pada sebuah pesawat komersial Arab Saudi yang sedang terparkir di landasan.














