Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran dilaporkan telah mencapai Pulau Perim, pulau strategis di mulut Selat Bab el-Mandeb, pada Jumat (11/9/2026).
Perkembangan ini meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan salah satu jalur pelayaran dan perdagangan minyak paling penting di dunia.
Empat sumber dari pemerintahan Yaman mengatakan kepada Reuters bahwa pasukan Houthi telah mencapai Pulau Perim.
Baca Juga: Inflasi AS Naik 3,4% pada Agustus (YoY), Peluang The Fed Naikkan Bunga Menguat
Sebelumnya, dua sumber dari pemerintahan Yaman yang didukung Arab Saudi menyebut pasukannya telah meninggalkan pulau tersebut.
Houthi juga dilaporkan telah menguasai kota pesisir Laut Merah, Dhubab, yang berhadapan langsung dengan Pulau Perim.
Jika Houthi berhasil menguasai Selat Bab el-Mandeb, Iran berpotensi memperoleh keuntungan strategis dalam konflik dengan Amerika Serikat.
Penguasaan jalur tersebut dapat mengganggu arus perdagangan melalui koridor pelayaran utama kedua setelah Selat Hormuz dan berpotensi mendorong harga minyak dunia lebih tinggi.
Bab el-Mandeb berada di sisi berlawanan Semenanjung Arab dari Selat Hormuz. Jalur tersebut menjadi semakin penting bagi Arab Saudi setelah konflik Iran membuat Selat Hormuz praktis tertutup.
Arab Saudi sebagai eksportir minyak terbesar dunia selama ini memanfaatkan jalur Laut Merah untuk mengalihkan sebagian ekspor minyaknya setelah Selat Hormuz terganggu.
Sebelum konflik, sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz.
Baca Juga: Tak Mau Arsenal Panik, Mikel Arteta Sengaja Ciptakan Gangguan
Jalur minyak Arab Saudi terancam
Risiko terhadap infrastruktur energi Arab Saudi juga meningkat. Citra satelit menunjukkan kepulan asap pada Kamis (10/9) di sekitar jalur pipa minyak East-West milik Arab Saudi.
Pipa tersebut menjadi salah satu jalur penting bagi Arab Saudi untuk mengalihkan ekspor minyak mentah dari wilayah timur menuju pesisir Laut Merah di bagian barat, sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada Selat Hormuz.
Belum ada konfirmasi dari pemerintah Arab Saudi mengenai adanya insiden di lokasi tersebut. Kantor media pemerintah Saudi dan perusahaan minyak negara Saudi Aramco juga belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar Reuters.
Aramco telah meningkatkan penggunaan jaringan pipa East-West untuk mengalirkan minyak mentah dari pesisir timur menuju Laut Merah setelah serangan udara AS-Israel terhadap Iran memicu penutupan efektif Selat Hormuz oleh Teheran.
Data International Energy Agency (IEA) menunjukkan, pasokan minyak mentah Arab Saudi turun 2,3 juta barel per hari (bph) pada Agustus menjadi sekitar 6 juta bph. Level tersebut merupakan yang terendah dalam lebih dari tiga dekade.
Penurunan produksi tersebut sebagian dipengaruhi serangan terhadap kapal yang melintasi Bab el-Mandeb oleh kelompok yang terkait dengan Houthi.
Baca Juga: Ekonomi Inggris Tumbuh 1,6% pada Juli, Tertinggi dalam 18 Bulan
Harga minyak kembali di atas US$100
Ancaman terhadap dua jalur pelayaran utama tersebut membuat pasar minyak semakin sensitif terhadap perkembangan geopolitik.
Harga minyak dunia berada di jalur untuk mengakhiri pekan di atas US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak pertengahan Mei.
Harga sedikit melemah pada Jumat setelah muncul laporan bahwa sejumlah menteri luar negeri negara-negara Timur Tengah tengah membahas kesepakatan sementara untuk mengatur kembali pelayaran melalui Selat Hormuz.
Namun, laporan tersebut belum dapat diverifikasi Reuters.
Data awal pelacakan kapal menunjukkan jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz turun menjadi tujuh kapal pada Kamis, dari 11 kapal sehari sebelumnya. Angka tersebut jauh di bawah rata-rata 10 hari sebanyak 10 kapal.
Baca Juga: Modi dan Putin Gelar Pembicaraan di New Delhi, Bahas Perdagangan Hingga Pertahanan
Arab Saudi minta Trump serang Houthi
Pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi juga bersiap melakukan serangan balasan untuk merebut kembali wilayah yang dikuasai Houthi dalam ofensif cepat kelompok tersebut di sepanjang pesisir Laut Merah.
Pasukan pemerintah Yaman menyatakan akan mengerahkan senjata dan pesawat untuk menghentikan aktivitas Houthi di sejumlah wilayah strategis, termasuk jalur menuju kota pesisir Mocha.
Sebelumnya, Houthi merebut Mocha pada Kamis (10/9), sekaligus menguasai Kepulauan Hanish di Laut Merah.
Reuters sebelumnya melaporkan bahwa ofensif Houthi di pesisir Laut Merah Yaman mendapat arahan langsung dari Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), berdasarkan keterangan sejumlah sumber pemerintah Yaman, Iran dan kawasan.
Iran sendiri secara terbuka membantah memberikan arahan militer kepada Houthi dan menyatakan kelompok tersebut bukan proksi Iran.
Di tengah eskalasi tersebut, Arab Saudi dilaporkan meminta bantuan langsung kepada Presiden AS Donald Trump untuk menyerang posisi Houthi.
Baca Juga: Pasokan Minyak Arab Saudi Capai Titik Terendah Dalam Lebih dari 3 Dekade
Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman disebut telah dua kali menelepon Trump pada Kamis dan meminta AS melancarkan serangan terhadap Houthi, menurut laporan Axios yang mengutip dua pejabat AS.
Namun, Trump menolak permintaan tersebut. Pejabat AS mengatakan pemerintahan Trump belum berniat melakukan aksi militer langsung terhadap Houthi untuk saat ini.
Di sisi lain, Amerika Serikat disebut tetap meningkatkan dukungan kepada Arab Saudi sembari berupaya menghindari keterlibatan militer langsung.
Sementara itu, para menteri luar negeri negara-negara Teluk dijadwalkan bertemu dengan Menteri Luar Negeri Iran pada Senin (14/9) di Salalah, Oman.
Pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya Oman dan Iran mendapatkan dukungan untuk kesepakatan sementara terkait pengelolaan pelayaran melalui Selat Hormuz.














