Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - SEOUL. Presiden Hyundai Motor Sung Kim mendesak pemerintah dan parlemen Korea Selatan untuk segera mengesahkan legislasi terkait paket investasi senilai US$350 miliar di Amerika Serikat.
Desakan ini muncul di tengah potensi eskalasi tekanan tarif dari pemerintahan Presiden AS Donald Trump, meskipun sebelumnya Mahkamah Agung AS membatalkan kebijakan tarif universal.
Pernyataan tersebut disampaikan Kim dalam pertemuan dengan anggota parlemen oposisi dan perwakilan asosiasi bisnis pada Selasa (24/2/2026).
Pertemuan itu membahas paket investasi yang menjadi bagian dari kesepakatan dagang bilateral antara Seoul dan Washington tahun lalu, yang mengatur penurunan tarif impor dari 25% menjadi 15%.
Baca Juga: Penjualan Mobil Eropa Turun pada Januari 2026, BYD Melonjak dan Tesla Tertekan
Ancaman Tarif Sektoral Menguat
Donald Trump sebelumnya mengancam akan menaikkan tarif bagi negara-negara yang dianggap “memainkan” perjanjian dagang dengan AS. Ancaman ini menguat setelah Mahkamah Agung AS membatalkan kebijakan tarif universal yang sempat diberlakukan.
Menurut Kim, pembatalan tarif resiprokal justru dapat mendorong peningkatan tekanan dalam bentuk tarif sektoral.
“Saya pikir dengan dibatalkannya tarif resiprokal, mungkin akan ada peningkatan tekanan untuk menaikkan tarif spesifik sektor,” ujar Kim kepada para anggota parlemen.
Ia menegaskan bahwa jika tarif 25% kembali diberlakukan, daya saing perusahaan Korea akan melemah, terutama di tengah transformasi besar industri otomotif global yang mencakup transisi kendaraan listrik (electric vehicle/EV) dan percepatan persaingan teknologi kendaraan otonom.
Industri Otomotif di Tengah Krisis
Sebelum putusan Mahkamah Agung AS, pemerintah Korea Selatan telah berupaya mempercepat pengesahan undang-undang guna memungkinkan realisasi investasi di AS.
Langkah ini dilakukan setelah Trump mengancam menaikkan tarif otomotif, farmasi, dan sejumlah produk lain menjadi 25% dari sebelumnya 15%, dengan alasan Seoul belum menuntaskan legislasi kesepakatan dagang.
Produsen otomotif Korea Selatan, termasuk Kia—afiliasi Hyundai—terus melakukan lobi agar tarif yang dikenakan di pasar utama AS menciptakan level playing field dengan pesaing dari Jepang dan Eropa.
Baca Juga: Pendapatan Sektor Energi Rusia Anjlok 27% Meski Ekspor Minyak Meningkat
Kim menyebut industri otomotif tengah menghadapi “krisis besar” akibat tarif AS yang mulai berlaku tahun lalu. Ia memperkirakan tarif sektoral di bidang baja dan otomotif sangat mungkin tetap dipertahankan.
Hyundai dan Kia Terdampak Rp80 Triliun
Hyundai dan Kia dilaporkan telah menanggung dampak finansial gabungan sebesar 7,2 triliun won atau sekitar US$4,98 miliar (setara lebih dari Rp80 triliun) akibat tarif AS sepanjang tahun lalu. Kim memperingatkan bahwa beban tersebut dapat meningkat jika tarif kembali dinaikkan menjadi 25%.
Setelah mengalami kekalahan hukum pada Jumat lalu, Trump segera memperkenalkan tarif impor universal baru sebesar 15% serta memerintahkan investigasi lanjutan yang kembali memicu kekhawatiran terkait tarif sektor otomotif, semikonduktor, dan industri lainnya.
Anggota parlemen Park Soo-young menyatakan dalam konferensi pers bahwa putusan pengadilan tersebut bahkan dapat mempercepat dorongan Trump untuk memperluas kebijakan tarifnya.













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)