Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - LONDON. Pasokan dan permintaan minyak dunia diperkirakan mengalami penurunan lebih dalam dari perkiraan sebelumnya pada tahun ini.
Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) menyebut gangguan di kawasan Timur Tengah menjadi salah satu faktor utama yang menekan aliran minyak global dan mendorong harga bahan bakar ke level rekor.
Dalam laporan bulanannya, IEA memperkirakan pasokan minyak dunia pada 2026 akan turun sekitar 5,7 juta barel per hari (bph), atau sekitar 6%. Proyeksi tersebut lebih besar dibandingkan perkiraan sebelumnya yang memperkirakan penurunan pasokan sekitar 4%.
Penurunan pasokan terjadi di tengah belum adanya kemajuan signifikan dalam upaya mengakhiri perang Iran. Kondisi tersebut diperkirakan menunda kembalinya aliran minyak normal dari kawasan Timur Tengah hingga 2027.
Peningkatan serangan terhadap kapal tanker di jalur pelayaran Timur Tengah turut mendorong harga minyak mentah mendekati US$110 per barel pada pekan ini. Level tersebut merupakan yang tertinggi sejak Mei.
Namun, kenaikan harga minyak mentah tersebut masih kalah dibandingkan lonjakan harga sejumlah produk bahan bakar, terutama diesel, yang telah mencapai rekor tertinggi.
Baca Juga: Harga Emas Rebound, Ditopang Penurunan Harga Minyak: Pasar Menanti Data Inflasi AS
Stok minyak dunia terkuras
Di tengah terbatasnya pasokan, persediaan minyak global juga terus terkuras dengan laju yang belum pernah terjadi sebelumnya.
IEA mencatat stok minyak dunia turun sekitar 3,1 juta bph pada Agustus. Penurunan tersebut menunjukkan semakin besarnya ketergantungan pasar terhadap persediaan yang tersedia untuk menutup kesenjangan antara pasokan dan permintaan.
"Persediaan sejauh ini memainkan peran penting dalam menyeimbangkan pasar," kata IEA dalam laporan bulanannya.
IEA menilai kondisi pasar minyak dunia semakin rentan karena cadangan penyangga terus menyusut, sementara kapasitas sistem pengolahan minyak global juga semakin terbebani.
"Dengan cadangan penyangga yang semakin menipis dan sistem pengolahan minyak global yang berada di bawah tekanan maksimum, kebutuhan untuk mencapai kemajuan dalam menyelesaikan konflik di Timur Tengah – serta perang Rusia-Ukraina yang kini memasuki tahun kelima – menjadi lebih besar dari sebelumnya untuk menghindari pengetatan pasar lebih lanjut," jelas IEA.
Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan tekanan terhadap pasar energi global apabila gangguan pasokan berlangsung lebih lama.
Permintaan minyak dunia ikut turun
Di sisi lain, permintaan minyak dunia juga diperkirakan turun lebih tajam dibandingkan proyeksi sebelumnya. Salah satu faktor yang mendorong pelemahan permintaan adalah kenaikan harga bahan bakar yang telah mencapai level tertinggi.
Baca Juga: Harga Minyak Diproyeksi Tembus US$100, Harga Solar AS Cetak Rekor
IEA memperkirakan permintaan minyak dunia akan turun sebesar 2,5 juta bph pada tahun ini. Angka tersebut lebih besar dibandingkan perkiraan sebelumnya yang memperkirakan penurunan permintaan sebesar 1,6 juta bph.
Dengan demikian, pasar minyak global menghadapi situasi yang cukup kompleks. Pasokan berkurang akibat gangguan geopolitik dan terbatasnya aliran minyak dari kawasan Timur Tengah, sementara permintaan juga melemah akibat tingginya harga bahan bakar.
Meski penurunan permintaan dapat membantu mengurangi sebagian tekanan terhadap keseimbangan pasar, semakin menipisnya persediaan minyak global membuat ruang penyangga pasar menjadi semakin terbatas.
Perkembangan konflik di Timur Tengah dan perang Rusia-Ukraina menjadi faktor penting yang akan menentukan arah pasar minyak global hingga 2027. Jika gangguan pasokan terus berlangsung, tekanan terhadap harga minyak dan produk bahan bakar berpotensi semakin besar.














