Ilmuwan Menggunakan AI Demi Menemukan Lebih Dari 300 Ribu Meteorit di Antartika

Jumat, 28 Januari 2022 | 11:55 WIB   Penulis: Arif Budianto
Ilmuwan Menggunakan AI Demi Menemukan Lebih Dari 300 Ribu Meteorit di Antartika

ILUSTRASI. Ilmuwan Menggunakan AI Demi Menemukan Lebih Dari 300 Ribu Meteorit di Antartika


KONTAN.CO.ID - Ilmuwan menggunakan bantuan AI (Artificial Intelligence) atau kecerdasan buatan demi menemukan 300.000 meteorit yang mungkin masih tersembunyi di Antartika. Meski tidak sepenuhnya akurat, menggunakan bantuan AI ini dapat mempercepat pencarian meteorit yang mungkin sudah lama tersembunyi di wilayah yang dingin ini.

Perkembangan teknologi berhasil membantu berbagai bidang. Termasuk membantu para peneliti yang ingin mengungkapkan misteri tentang meteorit yang mungkin masih tersembunyi di Antartika.

Dikutip dari Sciencetimes, penelitian baru-baru ini mengusulkan bahwa mungkin ada ratusan ribu meteorit yang belum ditemukan di bidang es Antartika. 

Laporan Space.com juga menetapkan bahwa tempat yang paling mungkin untuk meteorit tersebut digali. 

Sebelum lebih lanjut, apa si meteorit itu?

Meteorit adalah batu meteor yang berhasil mencapai permukaan Bumi. Nah, meteorit ini sebenarnya merupakan bagian dari meteor yang berhasil mencapai permukaan Bumi.

Nah, hampir dua pertiga dari semua meteorit yang ditemukan di Bumi ini kabarnya berasal dari Antartika. Sifat dingin dan kering benua yang beku membantu melestarikan batuan luar angkasa ini, dan warna gelap batu semacam itu membuatnya menonjol di benua yang sebagian besar diselimuti es dan salju ini.

Baca Juga: Bulan Memasuki Fase Perbani Akhir, Apa itu? Yuk Simak Penjelasannya

ILUSTRASI: Antartika

Ketika meteorit jatuh di Antartika, umumnya mendarat di daerah yang tertutup salju. Cakupannya sekitar 98 persen benua.

Sebagian besar meteorit di Antartika terperangkap es di lautan. Meskipun demikian, beberapa dari mereka menjadi terkonsentrasi di permukaan lapisan es, di area yang disebut "Blue Eyes" atau mata biru. 

Sebutan ini mencuat karena angin dan faktor lainnya nampak seperti mata yang memiliki rona biru. 

Editor: Arif Budianto

Terbaru