kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.550.000   -4.000   -0,16%
  • USD/IDR 18.080   20,00   0,11%
  • IDX 5.388   59,54   1,12%
  • KOMPAS100 697   10,48   1,53%
  • LQ45 545   8,81   1,64%
  • ISSI 183   1,92   1,06%
  • IDX30 305   4,36   1,45%
  • IDXHIDIV20 400   6,31   1,60%
  • IDX80 80   1,24   1,57%
  • IDXV30 111   1,31   1,20%
  • IDXQ30 101   1,89   1,91%

IMF dan OECD Peringatkan AI Bisa Perlebar Kesenjangan Negara Kaya dan Miskin


Kamis, 22 Oktober 2026 / 18:12 WIB
IMF dan OECD Peringatkan AI Bisa Perlebar Kesenjangan Negara Kaya dan Miskin
ILUSTRASI. KOREA-IPO/ELICE (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi global.

Namun, manfaat teknologi ini berisiko tidak merata dan justru memperlebar kesenjangan antara negara kaya dan negara berkembang, perusahaan besar dan kecil, serta pekerja berpengalaman dan tenaga kerja muda.

Peringatan tersebut disampaikan pejabat Dana Moneter Internasional (IMF) dan Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD).

Baca Juga: Prada Catat Pertumbuhan Pendapatan 1% pada Kuartal III 2026

Mereka menilai, keterbatasan akses listrik, infrastruktur digital, dan keterampilan tenaga kerja dapat menghambat negara berkembang dalam memanfaatkan AI.

Di tengah investasi besar-besaran untuk pengembangan cip dan infrastruktur AI yang menopang pertumbuhan ekonomi serta mendorong pasar saham ke level tertinggi, muncul pertanyaan mengenai kemampuan perusahaan menghasilkan imbal hasil yang sepadan dengan besarnya belanja tersebut.

Kekhawatiran ini semakin relevan ketika biaya pinjaman meningkat.

Wakil Direktur Departemen Urusan Fiskal IMF Era Dabla-Norris mengatakan, tantangan utama bagi banyak negara berkembang bukan sekadar ketersediaan teknologi AI, melainkan kemampuan mengadopsi dan menyebarkan penggunaannya secara luas.

IMF memperkirakan adopsi AI yang efektif berpotensi menambah pertumbuhan ekonomi global tahunan hingga 0,5% dalam jangka menengah.

Baca Juga: Kebijakan Trump soal Solar Bebas Pajak Diragukan Petani

Namun, Dabla-Norris mengingatkan bahwa bukti peningkatan produktivitas secara agregat sejauh ini masih jauh lebih terbatas.

Sementara itu, OECD memperkirakan AI dapat menambah pertumbuhan produktivitas tahunan di negara-negara anggotanya sebesar 0,4% hingga 1,2%.

Meski demikian, Kepala Ekonom OECD Stefano Scarpetta mengatakan pemanfaatan AI di lingkungan kerja masih tertinggal dibandingkan penggunaan teknologi tersebut oleh konsumen. Adopsi AI juga masih terbatas pada fungsi-fungsi inti bisnis.

Menurut Scarpetta, terdapat kesenjangan besar antara pekerjaan yang berpotensi terdampak AI dan penggunaan teknologi tersebut secara nyata.

Baca Juga: Pound Menguat, Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga Bank of England Jadi Penopang

Pekerja Muda Rentan Terdampak Otomatisasi

Selain kesenjangan antarnegara, perkembangan AI juga menimbulkan risiko bagi pasar tenaga kerja. IMF memperkirakan sekitar 40% pekerjaan di seluruh dunia berpotensi terdampak AI, seiring meningkatnya laporan pemangkasan tenaga kerja oleh sejumlah perusahaan.

Barclays menyatakan akan memangkas sekitar 5.000 pekerjaan pada tahun ini dengan memanfaatkan teknologi, termasuk AI, untuk menekan biaya dan meningkatkan imbal hasil.

Sementara itu, eBay dilaporkan berencana memangkas 9% tenaga kerjanya. Produsen cip Qualcomm juga diperkirakan melakukan pengurangan karyawan secara global sebagai bagian dari langkah efisiensi yang berorientasi pada kinerja.

Dabla-Norris menilai pekerja muda dan karyawan tingkat pemula berpotensi menghadapi risiko lebih besar.

Pasalnya, AI dapat mengambil alih tugas-tugas dasar yang selama ini menjadi sarana bagi pekerja untuk memperoleh pengalaman dan mengembangkan keterampilan profesional.

Baca Juga: Yunani Menyatakan Sedang Menerapkan Sanksi yang Berkaitan dengan Iran

Kondisi tersebut berpotensi menciptakan tantangan baru bagi pencari kerja pemula, terutama jika perusahaan semakin mengandalkan AI untuk menyelesaikan pekerjaan yang sebelumnya menjadi bagian dari proses pembelajaran karyawan.

Karena itu, kemampuan negara dalam memperluas infrastruktur digital, meningkatkan akses energi, serta menyiapkan keterampilan tenaga kerja akan menjadi faktor penting dalam menentukan pemerataan manfaat AI.

Tanpa dukungan tersebut, peningkatan produktivitas yang dijanjikan AI berisiko lebih banyak dinikmati negara dan perusahaan yang telah memiliki sumber daya memadai.


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×