kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.893.000   30.000   1,05%
  • USD/IDR 17.157   13,00   0,08%
  • IDX 7.624   -52,36   -0,68%
  • KOMPAS100 1.056   -6,56   -0,62%
  • LQ45 760   -4,37   -0,57%
  • ISSI 277   0,16   0,06%
  • IDX30 404   -2,51   -0,62%
  • IDXHIDIV20 489   -2,28   -0,46%
  • IDX80 118   -0,60   -0,51%
  • IDXV30 138   1,46   1,07%
  • IDXQ30 129   -0,80   -0,62%

IMF Minta Negara Stop Subsidi Energi, Kondisi Fiskal Bisa Makin Parah!


Rabu, 15 April 2026 / 21:04 WIB
IMF Minta Negara Stop Subsidi Energi, Kondisi Fiskal Bisa Makin Parah!
ILUSTRASI. IMF (REUTERS/Yuri Gripas)


Sumber: Reuters | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah semakin memperburuk kondisi fiskal global yang sudah rapuh. Dalam laporan Fiscal Monitor yang dirilis Rabu, International Monetary Fund (IMF) menyebut kenaikan suku bunga dan harga energi turut meningkatkan tekanan, terutama bagi negara berkembang dan negara berpenghasilan rendah.

Kepala Urusan Fiskal IMF, Rodrigo Valdes, mengatakan pemerintah sebaiknya tidak memberikan subsidi bahan bakar untuk membantu masyarakat menghadapi lonjakan harga energi. Menurutnya, bantuan yang lebih tepat adalah bantuan tunai sementara yang langsung menyasar masyarakat tanpa menahan kenaikan harga energi.

“Kita tidak memiliki cukup minyak atau energi. Harga energi memang harus naik agar konsumsi bisa berkurang,” ujar Valdes dalam wawancara.

Baca Juga: Trump Mengancam Akan Memecat Powell Jika Dia Tidak Meninggalkan Kursi Dewan The Fed

Sehari sebelumnya, IMF juga menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global akibat lonjakan harga energi dan gangguan pasokan yang dipicu konflik. IMF memperingatkan bahwa ekonomi dunia bisa mendekati resesi jika perang memburuk dan harga minyak tetap di atas US$ 100 per barel hingga 2027.

Valdes menekankan pentingnya membiarkan harga energi mencerminkan kondisi pasar. Jika negara menahan kenaikan harga, justru harga global bisa semakin tinggi dan memperburuk situasi.

Selain dampak perang, IMF juga menyoroti meningkatnya utang pemerintah di seluruh dunia. Pada 2025, utang global mencapai 93,9% dari Produk Domestik Bruto (PDB), naik dari 92% pada tahun sebelumnya. Angka ini diperkirakan akan menembus 100% PDB pada 2029, lebih cepat dari perkiraan sebelumnya.

Jika tren ini berlanjut, beban utang tersebut akan menjadi yang tertinggi sejak masa setelah Perang Dunia II. Bahkan, utang global diprediksi terus meningkat hingga 102,3% PDB pada 2031.

Biaya bunga utang juga mengalami kenaikan tajam, mencapai hampir 3% dari PDB pada 2025, dibandingkan sekitar 2% empat tahun sebelumnya.

IMF juga mengingatkan sejumlah risiko baru, seperti perubahan pasar utang yang kini semakin didominasi investor seperti hedge fund, yang dinilai kurang stabil untuk jangka panjang. Selain itu, jangka waktu utang yang semakin pendek membuat kenaikan suku bunga lebih cepat berdampak pada kondisi keuangan negara.

Baca Juga: Menkeu 10 Negara Peringatkan Konflik Timur Tengah Tekan Ekonomi Global dan Inflasi

Tantangan lain meliputi meningkatnya biaya keamanan, transisi energi dan perubahan iklim, serta pendapatan negara yang tidak tumbuh secepat pengeluaran. Fragmentasi perdagangan dan keuangan global juga berpotensi menekan pertumbuhan dan meningkatkan biaya pinjaman.

Valdes menegaskan bahwa setelah krisis mereda, negara-negara perlu segera melakukan konsolidasi fiskal atau penyehatan anggaran. Namun, ia menilai masih banyak negara yang belum memiliki rencana jelas.

“Ini belum menjadi krisis, tetapi semakin lama tindakan ditunda, semakin berat upaya yang dibutuhkan dan semakin besar risiko terjadinya penyesuaian yang tidak teratur di kemudian hari,” ujarnya.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×