IMF: Prospek Ekonomi Global Semakin Gelap Secara Signifikan

Kamis, 07 Juli 2022 | 08:12 WIB Sumber: Reuters
IMF: Prospek Ekonomi Global Semakin Gelap Secara Signifikan

ILUSTRASI. IMF mengatakan, prospek ekonomi global semakin gelap secara signifikan sejak April. REUTERS/Yuri Gripas

KONTAN.CO.ID - JENEWA. Kepala Dana Moneter Internasional (IMF) pada Rabu (6/7/2022) mengatakan, prospek ekonomi global semakin "gelap secara signifikan" sejak April. Dia tidak dapat mengesampingkan kemungkinan resesi global tahun depan mengingat risiko yang meningkat.

Melansir Reuters, Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva mengatakan badan tersebut akan menurunkan prediksi pertumbuhan ekonomi global tahun 2022 sebesar 3,6% dalam beberapa minggu mendatang. Itu berarti, pemangkasan outlook merupakan yang ketiga kalinya tahun ini.

Dia menambahkan, para ekonom IMF masih menyelesaikan angka-angka terbaru.

IMF diperkirakan akan merilis perkiraan terbarunya untuk 2022 dan 2023 pada akhir Juli, setelah memangkas prediksinya hampir satu poin persentase penuh pada April. Catatan saja, ekonomi global tumbuh sebesar 6,1% pada tahun 2021.

"Prospek sejak pembaruan terakhir kami pada bulan April telah menjadi gelap secara signifikan," katanya kepada Reuters dalam sebuah wawancara.

Dia mengutip penyebaran inflasi yang lebih universal, kenaikan suku bunga yang lebih substansial, perlambatan pertumbuhan ekonomi China, dan meningkatnya sanksi terkait dengan perang Rusia di Ukraina menjadi beberapa penyebabnya.

Baca Juga: Kecemasan Resesi Memicu Derasnya Dana Asing Keluar dari Bursa Saham Asia

"Kita berada di perairan yang sangat berombak," katanya. 

Saat ditanya apakah dia dapat mengesampingkan resesi global, dia berkata, "Risikonya telah meningkat sehingga kami tidak dapat mengesampingkannya."

Data ekonomi baru-baru ini menunjukkan beberapa ekonomi besar, termasuk China dan Rusia, telah mengalami kontraksi pada kuartal kedua. Dia mencatat, risikonya bahkan lebih tinggi pada tahun 2023.

"Ini akan menjadi 2022 yang sulit, tetapi mungkin bahkan 2023 yang lebih sulit. Risiko resesi meningkat pada 2023," jelasnya.

Baca Juga: Rupiah Tembus Rp 15.000, Pasar Khawatir Akan Terjadi Resesi

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

Terbaru