Sumber: Reuters | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - KUWAIT. Konflik Timur Tengah yang makin memanas mengganggu jalur utama pengiriman minyak. Alhasil, produsen minyak Kuwait Petroleum Corporation mulai memangkas produksi minyak.
Bahkan, Sabtu (7/3/2026), Kuwait Petroleum menyatakan keadaan kahar (force majeure), menurut pemberitahuan perdagangan yang dilihat Reuters.
Kuwait Petroleum menyatakan force majeure setelah menerapkan pengurangan produksi minyak mentah dan kapasitas penyulingan karena konflik di Timur Tengah.
Baca Juga: Harga Minyak Makin Menggila: Brent Tembus US$ 92 dan WTI US$ 90 Per Barel
Perusahaan minyak Kuwait tersebut tidak menyebutkan berapa banyak pengurangan produksi yang akan dilakukan. Pada bulan Februari, Kuwait memproduksi sekitar 2,6 juta barel minyak mentah per hari.
Dilaporkan, pengurangan tersebut bersifat pencegahan dan akan ditinjau kembali seiring perkembangan situasi, dan perusahaan tetap "siap untuk memulihkan tingkat produksi ketika kondisi memungkinkan."
Kuwait Petroleum menyatakan keadaan kahar (force majeure) karena apa yang disebutnya sebagai "ancaman eksplisit oleh Iran terhadap jalur aman kapal melalui Selat Hormuz, serangan berkelanjutan oleh Iran terhadap Kuwait, dan "hampir tidak adanya" kapal yang tersedia di Teluk Arab untuk mengangkut minyak mentah dan produk-produknya.
Kuwait Petroleum menolak untuk berkomentar mengenai pemberitahuan tersebut.
Kuwait Petroleum adalah eksportir utama nafta ke Asia dan eksportir utama bahan bakar jet ke Eropa barat laut. Nafta adalah bahan baku untuk produksi petrokimia.
Perang AS-Israel terhadap Iran telah meluas melampaui perbatasan Iran, karena Teheran telah merespons dengan menyerang Israel dan negara-negara Teluk Arab yang menjadi tuan rumah instalasi militer AS, dan Israel telah melancarkan serangan baru di Lebanon setelah milisi Hizbullah yang bersekutu dengan Iran menembak melintasi perbatasan.
Baca Juga: Serangan Drone dan Rudal Rusia Hantam Ukraina, Belasan Orang Tewas di Kharkiv













