Sumber: Reuters | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Pemerintahan Presiden AS Donald Trump menggunakan kewenangan darurat untuk mempercepat penjualan lebih dari 20.000 bom ke Israel senilai sekitar US$ 650 juta tanpa melalui proses peninjauan oleh Kongres, menurut dua pejabat Amerika Serikat yang mengetahui transaksi tersebut.
Dalam pernyataan pada Jumat (7/3/2026) malam, U.S. Department of State menyebut Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menetapkan adanya kondisi darurat yang mengharuskan penjualan segera kepada Israel. Keputusan tersebut sekaligus mengabaikan persyaratan peninjauan Kongres.
Paket senjata tersebut mencakup 12.000 unit bom serbaguna BLU-110A/B berbobot sekitar 1.000 pon yang sebelumnya diminta Israel.
Keputusan itu muncul sekitar sepekan setelah Amerika Serikat dan Israel memulai operasi udara bersama terhadap Iran, yang disebut Washington sebagai operasi militer terbesar AS sejak 2003 Iraq invasion.
Baca Juga: Serangan Drone dan Rudal Rusia Hantam Ukraina, Belasan Orang Tewas di Kharkiv
Pemerintah AS menyatakan operasi tersebut menargetkan penghancuran rudal ofensif Iran, fasilitas produksi rudal, dan kekuatan angkatan laut negara itu. Namun serangan tersebut juga meningkatkan ketegangan di kawasan, karena Teheran membalas dengan serangan terhadap Israel dan sejumlah negara yang menjadi lokasi pangkalan militer AS.
Departemen Luar Negeri menyatakan penjualan senjata itu akan mendukung kebijakan luar negeri dan keamanan nasional Amerika Serikat. Kontraktor utama dalam transaksi ini adalah Repkon USA yang berbasis di Texas.
Seorang pejabat Departemen Luar Negeri pada Sabtu menambahkan bahwa paket tersebut juga mencakup bom serbaguna BLU-111 berbobot 500 pon sebagai tambahan dari kesepakatan sebelumnya. Selain itu, Israel disebut akan membeli amunisi penting tambahan senilai sekitar 298 juta dolar AS melalui penjualan komersial langsung.
Namun keputusan tersebut menuai kritik dari sejumlah anggota Kongres. Anggota DPR dari Partai Demokrat Gregory Meeks menilai penggunaan kewenangan darurat untuk melewati peninjauan Kongres menunjukkan kurangnya persiapan pemerintah menghadapi konflik dengan Iran.
“Pemerintahan Trump berulang kali mengatakan bahwa mereka sepenuhnya siap menghadapi perang ini. Namun langkah menggunakan kewenangan darurat untuk melewati Kongres menunjukkan cerita yang berbeda,” kata Meeks.
Sementara itu, ketegangan di kawasan terus meningkat. Duta Besar Iran untuk PBB melaporkan bahwa dalam sepekan terakhir serangan Amerika Serikat dan Israel telah menewaskan sedikitnya 1.332 warga sipil Iran dan melukai ribuan lainnya. Beberapa tokoh penting Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei, juga dilaporkan tewas.
Militer AS menyatakan enam personel militernya tewas dalam serangan terhadap fasilitas di Kuwait, sementara Israel melaporkan sedikitnya 10 warga sipil tewas akibat serangan balasan.
Baca Juga: China Peringatkan Risiko Krisis Chip Global, Sengketa Nexperia Memanas Lagi
Dukungan militer Washington terhadap Israel telah menjadi sorotan selama konflik yang berlangsung lebih dari dua tahun di Gaza Strip, serta ketegangan di Lebanon dan Iran.
Israel menyatakan operasi militernya merupakan bentuk pembelaan diri setelah kelompok militan Hamas menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyandera lebih dari 250 orang dalam serangan pada Oktober 2023.











