Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Dana Moneter Internasional (IMF) menilai lonjakan harga minyak akibat konflik yang meluas di Timur Tengah serta musim hujan (monsun) yang berpotensi melemah karena fenomena El Nino menjadi dua risiko terbesar bagi pertumbuhan ekonomi India pada tahun fiskal 2026/2027.
Mengutip Reuters, Selasa (21/7/2026), India mengimpor hampir 80% kebutuhan minyaknya, sehingga sangat rentan terhadap guncangan harga energi yang dapat menekan pertumbuhan ekonomi sekaligus memicu inflasi.
Baca Juga: Bank Dunia kucurkan pinjaman US$1,5 miliar untuk Afrika Selatan
Awal bulan ini, IMF memangkas proyeksi pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) India untuk tahun fiskal 2026/2027 sebesar 10 basis poin menjadi 6,4%.
Sebaliknya, proyeksi pertumbuhan untuk tahun fiskal 2027/2028 dinaikkan 20 basis poin menjadi 6,7%.
"Risiko penurunan pertumbuhan kemungkinan berasal dari dua faktor utama. Pertama, perang mulai meluas kembali dan hal itu berdampak terhadap harga minyak," kata Perwakilan Residen Senior IMF untuk India dan Bhutan, Ranil Salgado, kepada Reuters.
Harga minyak mentah dunia sempat bertahan di atas US$ 90 per barel pekan lalu karena kekhawatiran gangguan pasokan di Selat Hormuz.
Namun dalam dua hari terakhir, harga mulai melemah setelah muncul laporan mengenai upaya mediasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, meskipun kedua negara masih saling melancarkan serangan dan kelompok Houthi mengancam memblokade Arab Saudi.
Salgado menambahkan bahwa proyeksi IMF bulan ini belum sepenuhnya memperhitungkan dampak musim hujan yang berpotensi lemah.
"Tahun ini merupakan tahun El Nino yang dapat menyebabkan musim monsun kurang baik. Monsun datang terlambat, sempat membaik pada Juli, tetapi kita masih harus melihat bagaimana perkembangannya," ujarnya.
Musim monsun yang buruk dapat mengganggu produksi pertanian India, mendorong kenaikan harga pangan, dan memperbesar tekanan inflasi.
Baca Juga: Harga Tembaga Menguat Selasa (21/7), Ditopang Permintaan China dan Persediaan Menipis
IMF akan tinjau ulang data PDB India
Selain prospek ekonomi, IMF juga akan meninjau kembali kualitas statistik neraca nasional India setelah otoritas statistik negara tersebut merilis seri data baru berdasarkan tahun dasar PDB 2022/2023, yang diperkirakan dilakukan pada akhir 2026.
Menurut Salgado, penilaian ulang tersebut akan dilakukan dalam konsultasi Article IV berikutnya yang dijadwalkan berlangsung pada akhir tahun ini, dengan laporan resmi diterbitkan tahun depan.
Ia mengatakan, beberapa langkah penting telah diselesaikan, sementara langkah lanjutan yang masih dapat dilakukan meliputi penggunaan indeks harga grosir (Wholesale Price Index/WPI) dan indeks produksi industri (Index of Industrial Production/IIP) yang telah diperbarui dalam perhitungan PDB, serta penyelarasan data historis dengan tahun dasar yang baru.
Baca Juga: Bursa Asia Bangkit, Saham Thailand Sentuh Level Tertinggi Lebih dari Tiga Tahun
Pada November tahun lalu, IMF memberikan peringkat "C", atau peringkat terendah kedua, terhadap kualitas statistik neraca nasional India karena dinilai masih memiliki kelemahan metodologi.
Beberapa kelemahan yang disoroti antara lain penggunaan tahun dasar yang sudah usang, ketergantungan tinggi pada indeks harga grosir untuk menghitung nilai riil, serta masih luasnya penggunaan metode single deflation.
Sejak itu, India telah melakukan sejumlah perbaikan, termasuk memperbarui tahun dasar menjadi 2022/2023, memperluas penggunaan deflator berdasarkan jenis barang, menerapkan metode double deflation untuk sektor manufaktur, serta meningkatkan pemanfaatan data administratif dan digital dalam penyusunan statistik ekonomi.













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_24062609492500.jpg)
