Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Indeks saham Jepang Nikkei 225 berbalik melemah pada Kamis (23/4/2026) setelah sempat menembus level psikologis 60.000, seiring aksi ambil untung investor di tengah ketidakpastian konflik Timur Tengah.
Melansir Reuters, Nikkei ditutup turun 0,75% ke level 59.140,23, setelah sebelumnya menyentuh rekor tertinggi di 60.013,98. Indeks yang lebih luas, Topix, juga turun 0,76% ke 3.716,38.
Baca Juga: Penutupan Selat Hormuz Picu Kekhawatiran Baru atas Keamanan Selat Malaka
Penguatan di awal sesi sempat ditopang oleh kabar Presiden AS Donald Trump memperpanjang gencatan senjata dengan Iran.
Namun, ketidakpastian masih membayangi setelah Iran tidak secara eksplisit menyetujui perpanjangan tersebut dan tetap mengkritik blokade laut oleh AS.
Kenaikan harga minyak akibat mandeknya perundingan damai serta belum pulihnya akses penuh di Selat Hormuz turut menekan sentimen pasar.
Chief strategist Sumitomo Mitsui Trust Asset Management, Hiroyuki Ueno, menyebut investor sebelumnya membeli saham dengan harapan konflik segera berakhir. Namun, untuk mendorong kenaikan lebih lanjut, pasar membutuhkan katalis positif tambahan.
Sepanjang tahun ini, Nikkei telah berhasil memulihkan seluruh kerugian sejak pecahnya konflik AS-Iran pada akhir Februari.
Baca Juga: Krisis Hormuz Buka Risiko Baru: Selat Malaka Jadi Sorotan Global
Namun, reli tersebut didorong oleh kelompok saham terbatas, khususnya sektor teknologi dan kecerdasan buatan (AI).
Saham-saham terkait chip seperti Advantest dan Tokyo Electron ditutup datar setelah sempat menguat. Sementara itu, saham investor teknologi SoftBank Group memangkas penguatan dan ditutup naik 3,86%.
Rasio NT perbandingan antara Nikkei dan Topix bertahan di level rekor 15,91, menandakan reli pasar belum merata.
Dari total sekitar 1.600 saham di papan utama Bursa Tokyo, hanya 21% yang menguat, sementara 75% melemah dan sisanya stagnan, mencerminkan tekanan jual yang cukup luas di pasar.













