Sumber: Reuters | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - NEW DELHI. Kementerian Luar Negeri India mengungkapkan, India sedang menilai permintaan pasokan bahan bakar dari negara-negara tetangganya dan hanya akan menyetujui ekspor jika memiliki kelebihan pasokan. Pasalnya, perang AS-Israel dengan Iran mengganggu pengiriman melalui Selat Hormuz dan menaikkan harga energi global.
India, penyuling minyak terbesar keempat di dunia, memasok bahan bakar ke Bangladesh, Nepal, Bhutan, Sri Lanka, dan Maladewa. India terpukul keras oleh lonjakan harga minyak mentah, tetapi tidak seperti China, India belum mengambil langkah untuk melarang ekspor bahan bakar olahan.
India memiliki pasokan minyak mentah dan stok bahan bakar olahan yang cukup untuk memenuhi permintaan bahan bakar domestik, kata Sujata Sharma, sekretaris bersama di Kementerian Perminyakan.
Baca Juga: Dana Pensiun Thailand Capai Ambang Batas Risiko Pasca Aksi Jual di Pasar Saham
"Pertama, permintaan domestik harus dipenuhi, dan jika ada surplus, maka keputusan akan diambil oleh otoritas yang berwenang," kata Sharma seperti dilansir Reuters, Rabu (18/3/2026).
"Kami telah menerima permintaan ini, dan kami sedang meneliti permintaan tersebut, dengan mempertimbangkan kebutuhan dan ketersediaan kami sendiri," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Randhir Jaiswal pada konferensi pers.
Gangguan di Hormuz Memperburuk Tekanan Pasokan
Empat kapal tanker minyak India, yang membawa total 1,6 juta metrik ton minyak mentah, enam kapal tanker yang membawa 320.000 ton gas minyak cair (LPG), dan sebuah kapal dengan 200.000 ton gas alam cair terdampar di Selat Hormuz, kata Rajesh Kumar Sinha, sekretaris khusus di Kementerian Perhubungan.
India menghadapi krisis gas masak terburuk dalam beberapa dekade setelah pengiriman dari Selat Hormuz hampir terhenti karena perang.
India mengimpor lebih dari 40% minyak mentah dan 90% gas minyak cair dari Timur Tengah.
Kilang-kilang minyak India telah membeli jutaan barel minyak Rusia yang mengapung di laut lepas setelah Washington memberikan pengecualian sanksi selama 30 hari.
Baca Juga: Iran: Sikap Soal Senjata Nuklir Tidak Berubah, Usulkan Protokol Baru Selat Hormuz
Pemerintah federal telah menggunakan kekuasaan darurat yang memerintahkan kilang-kilang minyak untuk memaksimalkan produksi LPG dan memangkas penjualan ke industri untuk menghindari kekurangan pasokan bagi sekitar 333 juta rumah tangga yang memiliki sambungan LPG.
India pekan lalu meminta konsumen untuk menghindari pembelian panik tabung LPG dan beralih ke gas alam melalui pipa jika memungkinkan.
India telah menambahkan 120.000 sambungan gas pipa baru dalam dua minggu terakhir, kata Sharma.













