kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.602.000   -2.000   -0,08%
  • USD/IDR 17.681   54,00   0,31%
  • IDX 6.535   -6,68   -0,10%
  • KOMPAS100 866   8,07   0,94%
  • LQ45 659   9,32   1,43%
  • ISSI 225   -2,18   -0,96%
  • IDX30 366   5,04   1,40%
  • IDXHIDIV20 458   8,21   1,83%
  • IDX80 99   1,17   1,20%
  • IDXV30 126   0,85   0,68%
  • IDXQ30 118   2,25   1,94%

India Setujui Ekspor Listrik ke Nepal 18 Jam Sehari hingga Akhir 2026


Senin, 14 September 2026 / 16:08 WIB
India Setujui Ekspor Listrik ke Nepal 18 Jam Sehari hingga Akhir 2026
ILUSTRASI. India menyetujui ekspor listrik ke Nepal selama 18 jam per hari hingga 31 Desember 2026 setelah banjir besar di negara Himalaya itu  (AFP/PRABIN RANABHAT)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - NEW DELHI. India menyetujui ekspor listrik ke Nepal selama 18 jam per hari hingga 31 Desember 2026. Kebijakan tersebut diambil setelah banjir besar di negara Himalaya itu menghancurkan sebagian kapasitas pembangkit listriknya.

Kementerian Ketenagalistrikan India menyatakan persetujuan tersebut memungkinkan ekspor listrik hingga 654 megawatt (MW) ke Nepal. Besaran pasokan listrik yang akan diekspor mulai Januari 2027 akan ditinjau kembali pada Desember 2026.

Banjir dahsyat yang dipicu runtuhnya gletser bulan lalu menewaskan hampir 1.400 orang di Nepal dan Tibet. Bencana tersebut juga menghanyutkan lebih dari 12 pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di Nepal.

Selain itu, sekitar 900 pekerja pembangkit listrik termasuk di antara lebih dari 5.300 orang yang masih dinyatakan hilang akibat bencana tersebut.

Baca Juga: Harga Minyak Naik 3% Setelah Serangan Infrastruktur Energi Arab Saudi

"Persetujuan ini akan membantu Nepal memenuhi kebutuhan listriknya selama masa sulit ini dan semakin memperkuat kerja sama energi yang erat dan telah berlangsung lama antara India dan Nepal," kata Kementerian Ketenagalistrikan India dalam pernyataannya.

Banjir Hantam Sumber Utama Listrik Nepal

Pembangkit listrik tenaga air selama ini menjadi sumber utama pasokan listrik Nepal sekaligus berkembang menjadi salah satu sumber pendapatan ekspor negara tersebut.

Namun, banjir besar yang melanda Provinsi Bagmati, salah satu wilayah utama produksi listrik tenaga air Nepal, menyebabkan aktivitas pembangkit terganggu parah.

Nepal kemudian menghentikan ekspor listrik dan menyatakan akan membeli listrik dari India untuk memenuhi kebutuhan domestik dalam beberapa bulan mendatang.

Keputusan tersebut menunjukkan besarnya dampak bencana terhadap sektor energi Nepal. Ketergantungan negara tersebut terhadap pembangkit listrik tenaga air membuat kerusakan infrastruktur akibat bencana alam secara langsung mengancam pasokan listrik sekaligus pendapatan ekspor.

Baca Juga: Frasers Naikkan Saham Hugo Boss di Atas 50%, Chairman Siap Mundur

Nepal Butuh Dana Rekonstruksi US$5 Miliar

Pemerintah Nepal pada pekan lalu menyatakan akan meminta bantuan keuangan dari negara-negara maju dan lembaga global untuk mendukung proses pemulihan pascabencana.

Pejabat Nepal memperkirakan kebutuhan awal untuk membangun kembali infrastruktur yang rusak mencapai sekitar US$5 miliar.

Pemerintah Nepal berpendapat negara-negara kaya dan lembaga internasional perlu berkontribusi terhadap biaya rekonstruksi. Bencana tersebut dinilai menunjukkan bagaimana perubahan iklim semakin berdampak pada negara-negara miskin yang secara historis hanya memberikan kontribusi kecil terhadap penyebab perubahan iklim.

Kerja sama listrik antara India dan Nepal menjadi semakin penting di tengah proses pemulihan tersebut. Dengan kapasitas ekspor hingga 654 MW selama 18 jam sehari, India diharapkan dapat membantu menutup kekurangan pasokan listrik Nepal ketika negara itu memperbaiki infrastruktur pembangkit yang rusak akibat banjir.




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×