Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - NEW DELHI. Perekonomian India mencatat pertumbuhan mengejutkan pada April–Juni 2025, melampaui ekspektasi meski ancaman tarif tinggi Amerika Serikat (AS) berpotensi menekan aktivitas bisnis di kuartal berikutnya.
Produk domestik bruto (PDB) India naik 7,8% secara tahunan, lebih tinggi dari 7,4% pada kuartal sebelumnya dan jauh di atas perkiraan konsensus 6,7% dalam jajak pendapat Reuters Jumat (29/8/2025).
Baca Juga: Rupee India Jeblok ke Rekor Terendah, Sentimen Tertekan Tarif Baru AS
Produk Domestik Bruto Bruto (gross value added/GVA), yang dianggap lebih mencerminkan aktivitas ekonomi riil, tumbuh 7,6% dibanding 6,8% pada kuartal sebelumnya.
Lonjakan ini menjadikan India tetap salah satu ekonomi besar dengan pertumbuhan tercepat di dunia, kendati prospek ekspor dibayangi risiko tarif AS.
Washington pada Rabu (27/8) resmi menggandakan tarif atas barang India hingga 50%—setara level tertinggi di antara mitra dagang AS bersama Brasil.
Kebijakan ini diperkirakan akan memukul sektor tekstil, kulit, hingga kimia.
Baca Juga: Ekonomi India Melambat di Kuartal II, Bayangan Tarif AS Kian Membebani
Pemerintah Perdana Menteri Narendra Modi berjanji memberikan dukungan kepada sektor terdampak serta menyiapkan usulan pemotongan pajak guna menjaga daya beli domestik.
Sumber pemerintah India juga menyebut New Delhi berharap Washington meninjau kembali tambahan tarif 25% yang diberlakukan terkait impor minyak Rusia.
Namun, sejauh ini belum ada tanda dimulainya kembali negosiasi.
Dari sisi sektoral, output manufaktur tumbuh 7,7% pada kuartal I tahun fiskal 2025/2026, jauh lebih tinggi dari 4,8% pada kuartal sebelumnya.
Sektor konstruksi melambat menjadi 7,6% dari 10,8%, sementara pertanian naik 3,7%.
Baca Juga: Bank Sentral India Catat Penjualan Bersih Valas US$3,66 Miliar pada Juni
Bank Sentral India (RBI) dalam buletin bulanannya menyebut ekonomi masih tangguh berkat permintaan pedesaan yang kuat, namun ketegangan dagang dengan AS menjadi risiko ke depan.
RBI tetap mempertahankan suku bunga acuan di 5,50% dan memperkirakan pertumbuhan 6,5% hingga Maret 2026.
Sejumlah ekonom menilai, tarif tinggi AS ditambah inflasi ritel yang mereda ke level terendah delapan tahun sebesar 1,55% pada Juli, bisa membuka ruang bagi pelonggaran moneter terbatas bila dibutuhkan.