kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.964.000   20.000   1,03%
  • USD/IDR 16.476   100,00   0,61%
  • IDX 7.771   -180,81   -2,27%
  • KOMPAS100 1.082   -24,22   -2,19%
  • LQ45 794   -17,88   -2,20%
  • ISSI 263   -5,59   -2,08%
  • IDX30 412   -9,22   -2,19%
  • IDXHIDIV20 479   -9,02   -1,85%
  • IDX80 119   -3,01   -2,46%
  • IDXV30 129   -3,65   -2,76%
  • IDXQ30 133   -2,74   -2,01%

Ekonomi India Melambat di Kuartal II, Bayangan Tarif AS Kian Membebani


Jumat, 29 Agustus 2025 / 10:32 WIB
Ekonomi India Melambat di Kuartal II, Bayangan Tarif AS Kian Membebani
ILUSTRASI. FILE PHOTO: An India Rupee note is seen in this illustration photo June 1, 2017. REUTERS/Thomas White/Illustration/File Photo


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - NEW DELHI. Perekonomian India diperkirakan tumbuh lebih lambat pada kuartal April–Juni 2025. Lemahnya permintaan di kawasan perkotaan serta investasi swasta yang belum pulih menjadi faktor utama.

Sementara kenaikan tarif impor Amerika Serikat (AS) diprediksi bakal semakin menekan ekspor India pada kuartal mendatang.

AS pada Rabu (28/8/2025) resmi menggandakan tarif barang asal India hingga 50%, dengan alasan New Delhi terus membeli minyak dari Rusia.

Baca Juga: Bank Sentral India Catat Penjualan Bersih Valas US$3,66 Miliar pada Juni

Kenaikan ini menjadikan India salah satu mitra dagang yang mendapat beban tarif tertinggi, setara dengan Brasil.

Para ekonom menilai kebijakan tersebut berpotensi menggerus pertumbuhan dan lapangan kerja.

Berdasarkan jajak pendapat Reuters, produk domestik bruto (PDB) India pada kuartal II diperkirakan tumbuh 6,7% (YoY), melambat dibanding 7,4% pada kuartal sebelumnya.

Meski demikian, India tetap menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia.

Bank sentral India (RBI) masih memperkirakan pertumbuhan sepanjang tahun fiskal 2025/2026 mendekati 6,5%, dengan dampak tarif AS yang dinilai “minimal”, menurut Gubernur RBI Sanjay Malhotra.

Baca Juga: Ekspor Minyak Rusia ke India September Diprediksi Naik di Tengah Tekanan Tarif Trump

Data resmi PDB akan dirilis Kementerian Statistik India pada Jumat (29/8/2025) pukul 15.00 waktu India.

Ekonom menilai pertumbuhan kuartal II tetap ditopang oleh beberapa faktor, seperti musim hujan yang baik, belanja pemerintah yang kuat, meredanya inflasi pangan, serta pengiriman barang ke AS yang dipercepat sebelum tarif baru diberlakukan.

Namun, pertumbuhan nominal PDB yang memperhitungkan inflasi justru melambat ke 8%, setelah sebelumnya rata-rata hampir 11% selama delapan kuartal terakhir, menurut JPMorgan.

Inflasi ritel India mereda menjadi 1,55% pada Juli, level terendah delapan tahun terakhir. Inflasi yang sangat rendah ini dinilai ikut menekan penerimaan pajak pemerintah maupun laba korporasi.

Data bank sentral menunjukkan pertumbuhan penjualan tahunan dari 1.736 perusahaan manufaktur swasta hanya naik 5,3% pada kuartal Juni, melambat dari 6,6% di kuartal sebelumnya.

Baca Juga: Saham Tekstil India Anjlok Seiring Kenaikan Tarif Trump yang Memicu Kekhawatiran

Sejumlah ekonom memperingatkan, bila tarif tinggi AS berlangsung lama, maka laju pertumbuhan India bisa terpangkas lebih dalam.

“Jika tarif bertahan setahun, pertumbuhan PDB India bisa turun 0,7 poin persentase, dengan beban terbesar menimpa sektor padat karya seperti perhiasan, tekstil, dan makanan,” ujar Pranjul Bhandari, Kepala Ekonom HSBC.

Pemerintah India telah berjanji menyalurkan dukungan kepada sektor yang terdampak tarif AS, termasuk insentif pajak untuk mendorong konsumsi domestik.

Dalam laporan ekonomi bulanan, Kementerian Keuangan India juga menyebutkan rencana pemotongan pajak barang dan jasa (GST) untuk kebutuhan pokok guna menekan biaya rumah tangga dan mendorong permintaan.

Selain itu, kenaikan peringkat kredit dari S&P Global dinilai dapat menurunkan biaya pinjaman, menarik arus modal asing, dan menopang prospek pertumbuhan India di tengah tekanan eksternal.

Selanjutnya: Akreditasi Unggul: 47 Kampus Negeri Terbaik di Indonesia

Menarik Dibaca: Film Thriller Erotis Jerman Fall For Me Puncaki Top Film Netflix Hari Ini (29/8)




TERBARU
Kontan Academy
[Intensive Workshop] AI-Powered Scenario Analysis AYDA dan Penerapannya, Ketika Debitor Dinyatakan Pailit berdasarkan UU. Kepailitan No.37/2004

[X]
×