Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Peluang Bank Sentral Eropa atau European Central Bank (ECB) kembali menaikkan suku bunga pada Desember 2026 semakin terbuka.
Pasalnya, inflasi zona euro melonjak ke level tertinggi dalam tiga tahun terakhir pada Oktober 2026, terutama dipicu kenaikan harga energi dan pangan.
Berdasarkan data Eurostat, Rabu (4/11/2026), inflasi di 21 negara pengguna mata uang euro mencapai 4% secara tahunan (year-on-year/YoY) pada Oktober 2026.
Baca Juga: Abdul El-Sayed Cetak Sejarah, Jadi Muslim Pertama yang Terpilih sebagai Senator AS
Angka tersebut meningkat dibandingkan 3,8% pada September 2026 dan sesuai dengan ekspektasi ekonom dalam jajak pendapat Reuters.
Lonjakan inflasi terutama didorong oleh kenaikan harga energi yang mencapai 20%. Sementara itu, inflasi inti atau core inflation yang tidak memperhitungkan komponen pangan dan energi yang bergejolak bertahan di level 2,5%.
Meski belum menunjukkan indikasi dampak lanjutan atau second-round effects terhadap harga barang dan jasa secara luas, kenaikan inflasi tersebut semakin memperkuat alasan ECB untuk kembali memperketat kebijakan moneter.
Nicola Nobile dari Oxford Economics menilai, semakin lama guncangan harga energi berlangsung, semakin besar risiko tekanan inflasi meluas dan mengakar dalam perekonomian.
"Meski belum ada tanda-tanda dampak lanjutan, data inflasi hari ini semakin memperkuat alasan ECB untuk menaikkan suku bunga pada Desember," ujarnya.
Kenaikan inflasi zona euro sepanjang tahun ini tidak terlepas dari lonjakan biaya energi akibat perang Amerika Serikat (AS) dengan Iran.
Baca Juga: Melania Trump Raih Penghargaan Negara dari Ukraina atas Bantuan Kemanusiaan
Sebagai kawasan yang mengimpor sebagian besar kebutuhan energinya, zona euro menghadapi tekanan kenaikan biaya energi yang kemudian merambat ke harga barang di tingkat konsumen.
ECB sebelumnya mempertahankan suku bunga pada pertemuan pekan lalu. Namun, sejumlah pejabat bank sentral, termasuk pimpinan bank sentral Jerman dan Italia, telah memberikan sinyal bahwa kenaikan suku bunga pada Desember semakin mungkin dilakukan.
Pasar keuangan kini memperhitungkan kemungkinan dua hingga tiga kali kenaikan suku bunga ECB dari level suku bunga deposito 2,5% dalam satu tahun ke depan. Ekspektasi tersebut masih bergerak mengikuti perkembangan harga minyak.
Kenaikan Harga Pangan Jadi Perhatian ECB
Selain energi, kenaikan harga pangan juga menjadi perhatian ECB. Inflasi pangan yang belum diproses atau unprocessed food tercatat meningkat 4,6% secara tahunan pada Oktober 2026.
Meski memiliki porsi relatif kecil dalam keranjang indeks harga konsumen, komponen tersebut mencakup sejumlah kebutuhan yang sering dibeli rumah tangga.
Baca Juga: Demokrat Menang Telak dalam Pemilu Sela AS, Saham Global Menguat dan Dolar Melemah
Karena itu, perubahan harga yang cepat berpotensi memberikan pengaruh lebih besar terhadap ekspektasi inflasi masyarakat.
Sementara itu, inflasi sektor jasa meningkat menjadi 3,3% dari 3,2% pada bulan sebelumnya. Harga barang industri juga mengalami kenaikan sebesar 1,2%, dibandingkan 1,1% pada September 2026.
Kondisi tersebut memperlihatkan tekanan inflasi mulai meluas, meskipun dampak lanjutan dari kenaikan harga energi belum sepenuhnya tercermin dalam data inflasi inti.
Harga diesel dan gas alam yang tinggi berisiko meningkatkan biaya produksi dan distribusi berbagai barang serta jasa. Dampaknya dapat bertahan lebih lama meskipun tekanan harga energi mulai mereda.
Rendahnya tingkat persediaan gas alam di kawasan Eropa juga menambah risiko kenaikan biaya pemanas rumah tangga menjelang musim dingin.
Baca Juga: Dua Kecelakaan Kereta Tewaskan 115 Orang, Menteri Transportasi Spanyol Mundur
Para ekonom memperkirakan dampak kenaikan biaya tersebut kemungkinan baru akan semakin terlihat dalam beberapa bulan mendatang, terutama pada Januari 2027 ketika sejumlah perusahaan biasanya melakukan penyesuaian harga.
ECB memperkirakan inflasi akan bertahan di atas 4% sepanjang sebagian besar semester I-2027 sebelum kemudian turun dengan cepat mendekati kisaran 2%.
Penurunan tersebut diperkirakan terjadi ketika angka inflasi tinggi pada periode pembanding tahun sebelumnya mulai keluar dari perhitungan tahunan.













![[Executive Education Program] Sustainable Development and ESG Leadership](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_23102611123400.jpeg)
