Reporter: Harris Hadinata | Editor: Harris Hadinata
KONTAN.CO.ID - FRANKFURT. European Central Bank (ECB) kembali menaikkan suku bunga. Kebijakan ini diambil untuk meredam lonjakan inflasi akibat kenaikan harga energi, sebagai imbas perang di TImur Tengah.
ECB kembali memperketat kebijakan moneter dengan menaikkan tiga suku bunga acuannya masing-masing sebesar 25 basis poin. ECB mengambil langkah tersebut di tengah tekanan inflasi yang masih tinggi akibat konflik di Timur Tengah.
Menilik rilis pers ECB, Kamis (10/9/2026), Governing Council ECB menaikkan suku bunga deposit facility menjadi 2,50%. Sementara suku bunga main refinancing operations naik menjadi 2,65%.
Selain itu, marginal lending facility ditetapkan menjadi 2,90%. Kenaikan yang terjadi sesuai dengan konsensus proyeksi ekonom. Ini merupakan kedua kalinya ECB menaikkan suku bunga acuan. Kenaikan tersebut berlaku mulai 16 September 2026.
ECB menyatakan konflik di Timur Tengah terus menciptakan tekanan inflasi. Bank sentral Eropa ini juga memperkirakan inflasi akan bertahan jauh di atas target 2% untuk periode yang lebih panjang.
Baca Juga: Aljazair Putuskan Hubungan Diplomatik dengan Uni Emirat Arab
Tekanan tersebut tercermin dalam proyeksi terbaru ECB. Inflasi utama kawasan euro diperkirakan rata-rata mencapai 3,0% pada 2026, sebelum turun menjadi 2,5% pada 2027 dan 2,1% pada 2028.
Meski proyeksi inflasi 2026 tidak berubah dibandingkan proyeksi Juni, ECB menaikkan proyeksi inflasi untuk 2027 dan 2028. Kenaikan tersebut menunjukkan tekanan harga diperkirakan lebih persisten dibandingkan perkiraan sebelumnya.
Untuk inflasi inti, yang tidak memasukkan komponen energi dan pangan, ECB memperkirakan kenaikannya mencapai 2,5% pada 2026, kemudian 2,6% pada 2027 dan 2,3% pada 2028. Artinya, tekanan inflasi inti juga diperkirakan belum sepenuhnya kembali ke target 2% dalam beberapa tahun ke depan.
Di sisi lain, ECB justru menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi kawasan euro. Ekonomi zona euro diperkirakan tumbuh 0,9% pada 2026, 1,4% pada 2027, dan 1,5% pada 2028.
ECB menyebut revisi pertumbuhan untuk 2026 dan 2027 terutama mencerminkan ketahanan ekonomi kawasan euro yang lebih kuat dari perkiraan sebelumnya.
Baca Juga: AS Masih Ragu Terapkan Tarif Tembaga, Khawatir Picu Kenaikan Biaya Industri
Namun, ECB menegaskan prospek ekonomi masih sangat tidak pasti. Risiko inflasi dinilai cenderung mengarah ke atas, sementara risiko pertumbuhan ekonomi mengarah ke bawah.
Dalam menghadapi ketidakpastian tersebut, ECB menyatakan akan menerapkan pendekatan bergantung pada data dan dilakukan dari satu pertemuan ke pertemuan berikutnya. Bank sentral juga tidak memberikan komitmen terhadap jalur suku bunga tertentu ke depan.
Dengan keputusan terbaru ini, ECB menegaskan komitmennya untuk membawa inflasi kembali stabil pada target 2% dalam jangka menengah.














