CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.625.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 17.566   37,00   0,21%
  • IDX 6.589   -88,86   -1,33%
  • KOMPAS100 866   -10,49   -1,20%
  • LQ45 656   -8,27   -1,25%
  • ISSI 230   -3,63   -1,55%
  • IDX30 365   -4,62   -1,25%
  • IDXHIDIV20 452   -4,51   -0,99%
  • IDX80 99   -1,12   -1,12%
  • IDXV30 126   -0,86   -0,68%
  • IDXQ30 117   -1,27   -1,08%

AS Masih Ragu Terapkan Tarif Tembaga, Khawatir Picu Kenaikan Biaya Industri


Kamis, 10 September 2026 / 17:53 WIB
AS Masih Ragu Terapkan Tarif Tembaga, Khawatir Picu Kenaikan Biaya Industri
ILUSTRASI. Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump masih menimbang rencana pengenaan tarif terhadap tembaga olahan (REUTERS/Florence Lo)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump masih menimbang rencana pengenaan tarif terhadap tembaga olahan. Kebijakan tersebut menghadapi dilema antara mendorong peningkatan produksi tembaga domestik dan risiko kenaikan biaya bagi industri manufaktur.

Dua sumber yang mengetahui persoalan tersebut mengatakan Gedung Putih hingga kini belum mengambil keputusan final mengenai tarif tembaga olahan. Pemerintah AS harus mempertimbangkan potensi kenaikan harga logam merah tersebut yang dapat meningkatkan biaya produksi manufaktur dibandingkan manfaat dari penguatan aktivitas pertambangan di dalam negeri.

Keraguan tersebut muncul ketika pemerintahan Trump semakin berfokus pada isu keterjangkauan harga menjelang pemilihan umum paruh waktu atau midterm elections pada November mendatang.

Trump dan anggota parlemen dari Partai Republik mendapat tekanan untuk menunjukkan bahwa kebijakan ekonomi pemerintah mampu menurunkan, bukan justru meningkatkan, biaya yang harus ditanggung konsumen dan dunia usaha AS.

Baca Juga: India Dorong Integrasi CBDC Negara BRICS untuk Pembayaran Lintas Batas

Harga tembaga telah melonjak ke level tertinggi sepanjang masa di tengah ekspektasi bahwa Trump akan memberlakukan tarif terhadap produk tembaga olahan, seperti katoda, maupun konsentrat tembaga yang dihasilkan di lokasi tambang.

Para pedagang dan pembeli industri pun berlomba meningkatkan persediaan tembaga di AS untuk mengantisipasi kemungkinan pemberlakuan bea baru. Kondisi tersebut membuat AS menjadi salah satu negara dengan persediaan tembaga terbesar di dunia.

Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan pemerintah belum mengambil keputusan final terkait tarif tersebut. Pejabat itu juga mengonfirmasi bahwa Departemen Perdagangan AS telah memberikan pembaruan kepada Trump sesuai tenggat 30 Juni yang ditetapkan Gedung Putih.

"Administrasi terus mengevaluasi semua opsi untuk membawa kembali produksi tembaga dan manufaktur penting lainnya ke Amerika Serikat," kata pejabat tersebut.

Pernyataan itu menunjukkan bahwa penerapan tarif terhadap tembaga olahan belum menjadi keputusan yang pasti, meskipun pasar telah memperkirakan AS akan memperluas tarif yang saat ini berlaku terhadap produk tembaga.

Dorong Produksi Tembaga AS

Pemerintahan Trump mempertimbangkan tarif tembaga olahan sebagai bagian dari upaya yang lebih luas untuk membangun kembali industri manufaktur AS dan mengurangi ketergantungan terhadap pasokan bahan baku penting dari luar negeri.

Tembaga merupakan bahan penting yang digunakan dalam berbagai sektor, mulai dari konstruksi, transportasi, elektronik hingga industri lainnya.

S&P Global memperkirakan pertumbuhan sektor kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dan pertahanan akan mendorong permintaan tembaga global meningkat 50% hingga 2040.

Di sisi lain, AS masih bergantung cukup besar pada pasokan tembaga dari luar negeri. Negara tersebut mengimpor sekitar setengah dari kebutuhan tembaganya setiap tahun dan hanya memiliki dua fasilitas peleburan tembaga atau smelter yang masih beroperasi.

Baca Juga: Driver Grab Vietnam Serukan Boikot Akhir Pekan, Keluhkan Potongan Tarif

Kedua smelter tersebut masing-masing dimiliki oleh Freeport-McMoRan dan Rio Tinto.

Tarif yang diusulkan berpotensi membuat harga tembaga impor menjadi lebih mahal. Kondisi tersebut dapat meningkatkan keekonomian proyek pertambangan, peleburan, dan pemurnian tembaga di AS.

Seorang eksekutif Rio Tinto sebelumnya mengatakan kepada Reuters bahwa "serangkaian mekanisme dan tarif yang berlaku saat ini terkait tembaga" masih belum cukup untuk mengimbangi tantangan keekonomian pembangunan smelter di AS.

Namun, pengenaan tarif tembaga secara lebih luas juga berpotensi meningkatkan biaya bagi perusahaan manufaktur yang menggunakan logam tersebut sebagai bahan baku.

Industri yang terdampak antara lain produsen peralatan listrik, kendaraan bermotor, produk konstruksi serta berbagai barang industri lainnya.

Tarif Tembaga Berisiko Tekan Inflasi

Dilema tersebut membuat pemerintahan Trump harus berhati-hati dalam menggunakan tarif untuk mendorong produksi domestik tanpa memicu inflasi atau bertentangan dengan pesan politik Trump mengenai upaya menurunkan biaya hidup masyarakat AS.

Ketidakpastian mengenai kebijakan tarif juga berdampak pada arus perdagangan tembaga global. Pasokan tembaga yang seharusnya mengalir ke pasar di luar AS tertahan karena pelaku pasar masih menunggu kejelasan kebijakan Washington.

Kondisi tersebut berpotensi semakin memperketat pasokan tembaga global.

"Selama kebijakan tarif masih belum terselesaikan, kemungkinan tersebut mengurangi insentif untuk mengembalikan logam ke pasar internasional," kata Jacob White, analis mineral di Sprott Asset Management yang berinvestasi pada perusahaan produsen tembaga.

AS Masih Bergantung pada Penambang Tembaga Global

Ekspektasi terhadap pengenaan tarif tembaga saat ini mengingatkan kondisi pada 2025. Ketika itu, pasar memperkirakan Trump akan memberlakukan tarif menyeluruh terhadap seluruh produk yang mengandung tembaga.

Baca Juga: Korea Selatan Siap Gelontorkan US$100 Miliar untuk Proyek Energi dan AI di AS

Namun, Trump pada Juli 2025 tidak mengambil langkah sejauh itu. Pemerintah AS justru memberlakukan tarif terhadap pipa, kabel dan produk tembaga setengah jadi lainnya.

Kebijakan tersebut mengecewakan perusahaan-perusahaan yang bergerak di sektor pertambangan tembaga karena tarif tidak secara langsung mencakup komoditas tembaga yang mereka produksi.

Trump sebelumnya menugaskan Menteri Perdagangan Howard Lutnick untuk memperbarui kondisi pasar tembaga dan memberikan rekomendasi mengenai kemungkinan penerapan tarif sebesar 15% mulai 1 Januari 2027.

Tarif tersebut direncanakan meningkat menjadi 30% pada 2028. Namun, belum diketahui secara pasti rekomendasi yang telah disampaikan Lutnick kepada Trump.

Data U.S. Geological Survey menunjukkan impor tembaga olahan AS telah melonjak 16 kali lipat sejak 2015. Pada periode yang sama, produksi domestik justru turun sekitar 20%.

Meski demikian, AS memiliki cadangan tembaga yang cukup besar. Negara tersebut diperkirakan memiliki pasokan tembaga di dalam wilayahnya yang setara dengan kebutuhan hampir 30 tahun.

Dalam setahun terakhir, Trump juga mendorong pengembangan sejumlah proyek tembaga domestik. Di antaranya proyek Resolution Copper di Arizona yang dikembangkan BHP dan Rio Tinto, serta proyek Twin Metals di Minnesota yang dimiliki Antofagasta.




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×