Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - TOKYO. Bank of Japan (BOJ) membuka peluang untuk kembali menaikkan suku bunga dalam waktu dekat seiring meningkatnya tekanan inflasi. Sejumlah anggota dewan kebijakan BOJ menilai bank sentral perlu mempercepat kenaikan suku bunga atau mendekatkannya ke tingkat yang dianggap sebagai tujuan kebijakan.
Hal tersebut terungkap dalam ringkasan pendapat anggota dewan pada rapat BOJ September yang dirilis pada Rabu (1/10/2026). Mayoritas pendapat yang tercantum mengindikasikan bahwa kenaikan suku bunga pada September perlu diikuti dengan kenaikan biaya pinjaman berikutnya jika tekanan inflasi terus meningkat.
"Jika tanda-tanda penyimpangan kenaikan harga mulai terlihat, Bank perlu mempercepat laju kenaikan suku bunga," kata salah satu anggota dalam ringkasan tersebut.
Anggota lainnya menilai BOJ perlu segera mendekatkan suku bunga kebijakan ke tingkat yang menjadi tujuan bank sentral agar memiliki ruang yang cukup untuk merespons perkembangan ekonomi yang tidak terduga.
Baca Juga: Manufaktur Asia Ekspansif, Permintaan Chip dan AI Jadi Motor Pertumbuhan
"Bank sebaiknya membawa suku bunga kebijakan lebih dekat ke perkiraan tingkat tujuan dalam waktu yang relatif dekat," demikian pendapat tersebut.
Inflasi Jadi Fokus BOJ
Berbagai pandangan tersebut menunjukkan perhatian yang semakin besar dari para pembuat kebijakan BOJ terhadap risiko inflasi. Kondisi itu turut memperkuat ekspektasi pasar bahwa bank sentral Jepang masih berpotensi menaikkan suku bunga pada tahun ini.
Salah satu anggota BOJ meminta bank sentral memperhitungkan perkembangan terbaru dalam melihat prospek harga, terutama karena harga minyak mentah berpotensi tetap tinggi di tengah konflik di Timur Tengah.
"Dengan mempertimbangkan perkembangan terbaru, kita harus mencermati prospek harga dengan mengingat bahwa harga minyak mentah dapat tetap tinggi," ujar anggota tersebut.
Pada rapat September, BOJ menaikkan suku bunga ke level 1,25%, yang merupakan level tertinggi dalam 31 tahun. Gubernur BOJ juga mengisyaratkan perubahan fokus kebijakan ke upaya memastikan inflasi tidak melampaui target, sehingga membuka ruang untuk kenaikan suku bunga lebih lanjut.
Sejumlah anggota dewan menilai inflasi yang mendasari telah mencapai atau mendekati target BOJ sebesar 2%.
Salah satu pandangan menyebutkan BOJ tidak perlu mengambil langkah secara tergesa-gesa. Namun, bank sentral tetap perlu menaikkan suku bunga untuk mencegah kenaikan harga yang berlebihan dan berlangsung dalam waktu lama, terutama karena inflasi yang mendasari diperkirakan segera mencapai 2%.
Sejumlah ekonom memperkirakan BOJ akan kembali menaikkan suku bunga pada Oktober atau Desember.
Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Nomor 2 Tercepat di G20, Ungguli China dan AS
Tekanan dari Kebijakan The Fed
Peluang kenaikan suku bunga BOJ pada Oktober juga dipengaruhi perkembangan kebijakan moneter Amerika Serikat. Prospek kenaikan suku bunga Federal Reserve yang semakin berkurang setelah data inflasi AS lebih rendah dari perkiraan dapat mengurangi tekanan terhadap BOJ untuk menaikkan suku bunga bulan ini.
Sebelumnya, kenaikan suku bunga BOJ juga dipandang dapat membantu mencegah pelemahan yen yang terlalu dalam karena depresiasi yen berpotensi meningkatkan biaya impor.
Meski demikian, BOJ menghadapi tekanan untuk menaikkan suku bunga yang relatif lebih besar dibandingkan bank sentral lainnya. Pasalnya, suku bunga kebijakan Jepang masih berada dekat batas bawah estimasi kisaran suku bunga netral nominal Jepang, yakni sekitar 1,1% hingga 2,5%.
Suku bunga netral merupakan tingkat yang secara teori tidak memberikan tekanan untuk mendinginkan ataupun mendorong pertumbuhan ekonomi.
"Bank harus terus bertindak tepat waktu tanpa menjadi terlalu berhati-hati dalam menaikkan suku bunga," kata salah satu anggota BOJ, dengan mempertimbangkan risiko kenaikan harga yang signifikan.
Anggota tersebut juga meminta BOJ meningkatkan analisis mengenai estimasi suku bunga netral.
Setelah ringkasan pendapat tersebut dirilis, dolar AS menguat ke sekitar 157,87 yen. Pergerakan tersebut mencerminkan berkurangnya spekulasi investor bahwa BOJ akan kembali menaikkan suku bunga pada Oktober secara berturut-turut setelah kenaikan pada September.
Ada Penolakan terhadap Kenaikan Suku Bunga
Meski mayoritas anggota membuka peluang kenaikan suku bunga, tidak seluruh anggota dewan melihat kondisi ekonomi mendukung percepatan pengetatan kebijakan moneter.
Dua anggota yang cenderung lebih dovish, Toichiro Asada dan Ayano Sato, menentang keputusan kenaikan suku bunga pada September dalam dewan yang beranggotakan sembilan orang.
Ringkasan rapat juga memuat sejumlah pandangan yang diduga berasal dari kedua anggota tersebut. Pandangan itu menyoroti konsumsi yang masih lemah dan pertumbuhan inflasi sektor jasa yang relatif rendah sebagai alasan untuk mempertahankan kebijakan moneter saat ini.
Baca Juga: Bursa Asia Tertekan Usai September Berat Kamis (1/10), Yield Obligasi AS Jadi Sorotan
Perwakilan Kantor Kabinet Jepang yang hadir dalam rapat tersebut juga meminta BOJ mempertimbangkan dampak kumulatif dari kenaikan suku bunga yang telah dilakukan sebelumnya.
"Bank perlu mencermati secara hati-hati dampak kumulatif dari kenaikan suku bunga sebelumnya," ujar perwakilan tersebut.
Pernyataan itu menunjukkan adanya kekhawatiran mengenai potensi dampak kenaikan suku bunga terhadap perekonomian Jepang.
Perwakilan pemerintah juga meminta BOJ mempertimbangkan estimasi suku bunga netral dalam menentukan arah kebijakan selanjutnya.
"Ke depan, Bank mungkin perlu mempertimbangkan estimasinya mengenai suku bunga netral," kata perwakilan tersebut.
Ringkasan rapat BOJ tidak mengungkap identitas anggota yang menyampaikan setiap pendapat. Namun, Menteri Ekonomi Jepang Minoru Kiuchi diketahui mewakili Kantor Kabinet dalam rapat September tersebut.
Kiuchi dipandang sebagai pejabat yang mendukung kebijakan reflasi dari Perdana Menteri Sanae Takaichi. Takaichi sendiri dikenal berhati-hati terhadap kenaikan suku bunga BOJ karena kebijakan tersebut dapat meningkatkan biaya pendanaan bagi rencana belanja pemerintah yang ambisius.














