kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.819.000   -20.000   -0,70%
  • USD/IDR 17.586   33,00   0,19%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Inflasi Jepang Melonjak, Sinyal Kenaikan Suku Bunga BOJ


Jumat, 15 Mei 2026 / 19:30 WIB
Inflasi Jepang Melonjak, Sinyal Kenaikan Suku Bunga BOJ
ILUSTRASI. JAPAN-YEN/ (REUTERS/Issei Kato)


Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Nina Dwiantika

KONTAN.CO.ID - ​TOKYO. Tekanan inflasi di Jepang kembali memanas. Kenaikan harga minyak dan bahan kimia akibat perang Iran mendorong inflasi harga grosir Negeri Sakura ini melonjak ke level tertinggi dalam hampir tiga tahun terakhir.

Data Bank of Japan (BOJ) yang dirilis Jumat (15/5) menunjukkan indeks harga barang korporasi atau corporate goods price index (CGPI) naik 4,9% pada April dibanding periode yang sama tahun lalu. Angka ini lebih tinggi dibanding kenaikan 2,9% pada Maret sekaligus melampaui perkiraan pasar sebesar 3%.

Dalam laporan Bloomberg (15/5), CGPI merupakan indikator yang mengukur harga barang dan jasa antarperusahaan. Kenaikan indeks ini biasanya menjadi sinyal awal meningkatnya tekanan inflasi di tingkat konsumen.

Lonjakan harga grosir tersebut memperkuat spekulasi bahwa BOJ akan segera menaikkan suku bunga, bahkan berpotensi dilakukan pada Juni mendatang. Sebelumnya, salah satu pejabat BOJ juga telah meminta kenaikan suku bunga dilakukan “sesegera mungkin” guna meredam tekanan harga akibat lonjakan biaya energi.

Baca Juga: Jepang Pertimbangkan Ekspor Rudal Anti-Kapal ke Filipina

Ekonom Senior Sompo Institute Plus, Masato Koike mengatakan inflasi harga grosir berpotensi terus meningkat dalam beberapa waktu ke depan.

Menurut dia, BOJ mungkin belum perlu bertindak agresif jika kenaikan harga masih terbatas pada komoditas energi. Namun, jika tekanan harga mulai meluas ke berbagai sektor, bank sentral Jepang kemungkinan harus merespons lewat kenaikan suku bunga.

Tekanan inflasi juga diperparah oleh pelemahan yen. Indeks harga impor berbasis yen tercatat melonjak 17,5% pada April dibanding tahun sebelumnya, menjadi kenaikan tercepat sejak Desember 2022.

Kondisi tersebut membuat biaya impor energi dan bahan baku semakin mahal bagi perusahaan Jepang yang sangat bergantung pada pasokan dari luar negeri.

Baca Juga: PMI Jasa Jepang pada April Melambat ke Level Terendah 11 Bulan

Secara bulanan, harga grosir Jepang naik 2,3% pada April, lebih tinggi dibanding kenaikan 1% pada Maret.

Lonjakan harga terjadi setelah terganggunya pasokan minyak dari Timur Tengah akibat penutupan efektif Selat Hormuz. Jalur tersebut merupakan salah satu rute utama distribusi minyak dunia dan sangat penting bagi Jepang yang mengandalkan impor energi dari kawasan Timur Tengah.

Harga produk minyak bumi dan batu bara tercatat naik 5,3% pada April dibanding tahun sebelumnya. Sementara harga produk kimia melonjak 9,2%, menjadi yang tertinggi sejak September 2022.

Kenaikan paling tajam terjadi pada harga nafta yang melesat hingga 79,4%. Nafta merupakan bahan baku penting untuk industri petrokimia dan manufaktur.

Baca Juga: Nikkei Tembus Rekor 62.000 Kamis (7/5), Ditopang Optimisme AI dan Damai Timur Tengah


Tag


TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×