kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.670.000   31.000   1,17%
  • USD/IDR 17.664   -12,00   -0,07%
  • IDX 6.636   -31,42   -0,47%
  • KOMPAS100 867   -5,52   -0,63%
  • LQ45 658   -5,19   -0,78%
  • ISSI 231   -0,99   -0,43%
  • IDX30 368   -3,06   -0,83%
  • IDXHIDIV20 455   -4,73   -1,03%
  • IDX80 99   -0,80   -0,81%
  • IDXV30 125   -1,37   -1,08%
  • IDXQ30 118   -1,17   -0,99%

The Fed Beri Sinyal Tahan Suku Bunga September, Tunggu Data Inflasi AS


Jumat, 04 September 2026 / 15:41 WIB
The Fed Beri Sinyal Tahan Suku Bunga September, Tunggu Data Inflasi AS
ILUSTRASI. Gubernur Federal Reserve Christopher Waller memberikan sinyal bahwa bank sentral Amerika Serikat (AS) kemungkinan mempertahankan suku bunga acuan (REUTERS/Kylie Cooper)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Gubernur Federal Reserve Christopher Waller memberikan sinyal bahwa bank sentral Amerika Serikat (AS) kemungkinan mempertahankan suku bunga acuan pada pertemuan kebijakan September 2026, selama data inflasi terbaru menunjukkan tekanan harga terus mereda.

Waller mengatakan keputusan tersebut akan sangat bergantung pada data inflasi Agustus yang akan dirilis dalam waktu dekat. Menurutnya, perkembangan inflasi menjadi salah satu faktor utama yang akan menentukan arah kebijakan The Fed pada pertemuan 15-16 September 2026.

"Jika ada kemajuan yang berkelanjutan menuju target 2% kami, maka saya bersedia mendukung mempertahankan suku bunga kebijakan pada level saat ini," ujar Waller dalam acara Reuters NEXT Newsmaker di Washington, Kamis (3/9/2026).

Waller menekankan pentingnya menunggu bukti lebih lanjut mengenai proses penurunan inflasi sebelum mengambil langkah untuk menaikkan suku bunga.

"Saya akan memparafrasekan John Lennon di sini. Berikan kesempatan pada disinflasi," kata Waller.

Baca Juga: Bursa Asia Menguat, Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed Mulai Mereda

Menurut dia, The Fed sebaiknya tidak terburu-buru menaikkan suku bunga agar proses penurunan tekanan harga dapat terus berlangsung.

"Dalam hal kesabaran itu, saya tidak mengatakan mari kita tunggu sampai tahun depan, tetapi mari kita tunggu dan lihat apakah kita mendapatkan perbaikan dalam hal ini," ujar Waller.

Inflasi Jadi Penentu Kebijakan The Fed

Meski cenderung mempertahankan suku bunga, Waller membuka kemungkinan adanya kenaikan suku bunga apabila inflasi kembali menunjukkan peningkatan yang signifikan.

"Jika inflasi kembali tinggi, saya akan mempertimbangkan kenaikan suku bunga," tegasnya.

Suku bunga acuan The Fed saat ini berada dalam kisaran 3,50%-3,75% dan telah bertahan sejak Desember. Waller menilai tingkat tersebut hanya memberikan sedikit tekanan terhadap permintaan agregat perekonomian.

"Suku bunga tersebut hanya sedikit membatasi permintaan agregat," ujarnya.

Karena itu, Waller memperingatkan bahwa peningkatan inflasi yang relatif kecil sekalipun dapat mengubah pandangannya mengenai kebijakan moneter.

"Mungkin tidak diperlukan banyak percepatan inflasi untuk mendorong saya mendukung kebijakan yang lebih ketat," kata Waller.

Waller mengakui bahwa inflasi AS masih berada "secara berarti di atas" target The Fed sebesar 2%. Namun, dia melihat tekanan harga tersebut "bergerak maju secara perlahan tetapi terus berlanjut menuju" target tersebut.

Salah satu indikator yang akan diperhatikannya adalah perkembangan indeks harga konsumen atau Consumer Price Index (CPI) dalam basis tahunan yang disetahunkan selama tiga bulan terakhir.

Waller mengatakan penurunan ukuran inflasi tersebut akan membuatnya lebih nyaman untuk mendukung keputusan mempertahankan suku bunga. Namun, dia tidak menetapkan angka tertentu sebagai ambang batas yang secara otomatis akan memicu perubahan kebijakan.

Data CPI Agustus Jadi Sorotan

Departemen Tenaga Kerja AS dijadwalkan merilis data CPI Agustus pada pekan depan. Data tersebut menjadi salah satu indikator utama terakhir yang tersedia sebelum pertemuan The Fed pada 15-16 September.

Baca Juga: Indeks Nikkei Jepang Ditutup Menguat 1,26% Berkat Reli SoftBank

Meskipun CPI bukan indikator inflasi utama yang digunakan The Fed, Waller menilai data tersebut dapat memberikan gambaran yang cukup akurat mengenai arah Personal Consumption Expenditures (PCE) Price Index.

Indeks PCE tercatat meningkat 3,7% secara tahunan pada Juli 2026, masih jauh di atas target inflasi The Fed sebesar 2%.

Perkembangan inflasi menjadi perhatian utama investor karena sebelumnya pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September cukup besar.

Sejumlah pejabat The Fed dalam beberapa pekan terakhir juga menyampaikan kekhawatiran mengenai tekanan inflasi yang masih berada di atas target. Sebagian pejabat mendorong kenaikan suku bunga, sementara lainnya masih membuka kemungkinan tindakan untuk mengembalikan inflasi ke target 2%.

Perubahan sikap tersebut muncul setelah tiga pembuat kebijakan The Fed menyatakan perbedaan pendapat atau dissent terhadap keputusan mempertahankan suku bunga pada pertemuan 28-29 Juli. Ketiga pejabat tersebut mendukung kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin.

Pasar Mulai Pangkas Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga

Pernyataan Waller langsung memengaruhi pasar keuangan AS. Harga saham menguat, sementara imbal hasil Treasury AS turun setelah komentarnya disampaikan.

Pelaku pasar juga memangkas taruhan terhadap kenaikan suku bunga pada September. Kontrak berjangka suku bunga jangka pendek menunjukkan pasar kini lebih memperkirakan The Fed mempertahankan suku bunga bulan ini dibandingkan menaikkannya.

Meski demikian, pasar masih melihat peluang besar bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga setidaknya satu kali sebelum akhir 2026.

Analis Evercore ISI menilai pernyataan Waller menunjukkan kecenderungan untuk mempertahankan suku bunga selama data ekonomi mendukung keputusan tersebut.

Pandangan Waller juga sejalan dengan komentar Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams. Williams sebelumnya mengatakan perkembangan inflasi terbaru cukup menggembirakan, tetapi The Fed tidak dapat hanya mengandalkan data satu atau dua bulan untuk memastikan inflasi telah bergerak secara konsisten menuju arah yang benar.

Menurut Williams, keputusan suku bunga akan tetap bergantung pada data ekonomi dan penilaian terhadap berbagai risiko.

Kondisi Ekonomi AS Beri Ruang Fokus pada Inflasi

Waller mengatakan kondisi perekonomian AS yang relatif solid memberikan ruang bagi The Fed untuk lebih fokus pada perkembangan inflasi.

Menurut dia, pasar tenaga kerja juga relatif stabil. Departemen Tenaga Kerja AS dijadwalkan merilis laporan ketenagakerjaan Agustus pada Jumat (4/9/2026).

Baca Juga: Indeks KOSPI Ditutup Melonjak 1%, Ditopang Saham Produsen Chip

Waller juga melihat sejumlah faktor yang sebelumnya mendorong kenaikan tekanan harga kemungkinan tidak akan menjadi sumber inflasi yang berkelanjutan.

"Saya tidak melihat kenaikan harga energi dan tarif saat ini sebagai sumber tekanan inflasi yang signifikan dan berkelanjutan," ujarnya.

Menurut Waller, dampak kenaikan tarif impor kemungkinan besar telah menyebar ke berbagai sektor ekonomi. Sementara itu, kenaikan harga energi yang berkaitan dengan perang di Timur Tengah belum menunjukkan dampak luas terhadap harga barang dan jasa lainnya.

Namun, Waller tetap melihat sejumlah risiko yang dapat mendorong inflasi kembali meningkat.

"Harga energi kembali bergerak naik dan tetap jauh lebih tinggi dibandingkan awal 2026, sementara perekonomian menghadapi tekanan terhadap harga barang teknologi terkait dengan pembangunan AI serta kemungkinan adanya kenaikan tarif lebih lanjut," kata Waller.

Dengan demikian, arah kebijakan The Fed pada September masih sangat bergantung pada data inflasi dan ketenagakerjaan yang akan dirilis dalam beberapa hari ke depan.

Jika tekanan harga terus mereda, peluang The Fed mempertahankan suku bunga akan semakin besar. Sebaliknya, inflasi yang kembali meningkat dapat membuka jalan bagi kenaikan suku bunga pada pertemuan September.


Video Terkait



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×