kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.750.000   -18.000   -0,65%
  • USD/IDR 17.741   18,00   0,10%
  • IDX 6.406   -95,98   -1,48%
  • KOMPAS100 833   -14,48   -1,71%
  • LQ45 633   -9,40   -1,46%
  • ISSI 225   -3,43   -1,50%
  • IDX30 354   -4,60   -1,28%
  • IDXHIDIV20 432   -4,21   -0,97%
  • IDX80 95   -1,63   -1,69%
  • IDXV30 120   -1,45   -1,19%
  • IDXQ30 113   -1,10   -0,97%

The Fed Beri Sinyal Kenaikan Suku Bunga Jika Inflasi AS Tak Kunjung Mereda


Rabu, 26 Agustus 2026 / 15:59 WIB
The Fed Beri Sinyal Kenaikan Suku Bunga Jika Inflasi AS Tak Kunjung Mereda
ILUSTRASI. Bank Sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve/The Fed) membuka peluang untuk kembali menaikkan suku bunga dalam waktu dekat (Leah Millis/REUTERS)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Bank Sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve/The Fed) membuka peluang untuk kembali menaikkan suku bunga dalam waktu dekat apabila data mendatang tidak menunjukkan penurunan inflasi yang berkelanjutan.

Presiden Federal Reserve Bank of Boston Susan Collins mengatakan tekanan harga di Amerika Serikat masih terlalu tinggi dan telah menjadi perhatian luas di kalangan pelaku usaha maupun rumah tangga.

Dalam pernyataan yang dipublikasikan di situs Boston Fed pada Selasa (25/8/2026), Collins mengatakan suku bunga kebijakan The Fed saat ini, berdasarkan skenario utamanya, masih akan membantu menekan harga dan mendorong proses disinflasi secara bertahap.

Menurut Collins, kenaikan imbal hasil obligasi jangka panjang serta sejumlah faktor lainnya juga dapat membantu proses penurunan inflasi tersebut.

Baca Juga: Bank Sentral Thailand Tahan Suku Bunga di 1%, Ekonomi Masih Lemah

Namun, Collins memperingatkan The Fed tidak dapat menunggu terlalu lama jika kemajuan inflasi yang berkelanjutan tidak kunjung terlihat.

"Jika bukti kemajuan inflasi yang berkelanjutan tidak terwujud, saya yakin akan tepat untuk segera memperketat kebijakan guna memastikan kita mencapai stabilitas harga dalam jangka waktu yang wajar. ... Kekhawatiran mengenai tingginya harga sudah meluas dalam percakapan saya dengan para pemangku kepentingan di seluruh New England," tulis Collins.

Inflasi AS Masih di Atas Target The Fed

Ekonom yang disurvei Reuters memperkirakan data inflasi terbaru yang akan dirilis pada Rabu (26/8) menunjukkan indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE), tidak termasuk makanan dan energi, naik pada tingkat tahunan 3,3% pada Juli.

Angka tersebut diperkirakan tidak berubah dibandingkan bulan sebelumnya dan masih jauh di atas target inflasi The Fed sebesar 2%.

Inflasi inti PCE yang menjadi salah satu indikator penting bagi The Fed dalam membaca arah inflasi ke depan juga terus meningkat sejak tahun lalu.

Sejumlah pejabat The Fed sebelumnya mengaitkan kenaikan inflasi dengan kebijakan tarif impor pemerintahan Donald Trump, kenaikan harga minyak akibat perang dengan Iran, serta lonjakan investasi dalam teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Suku Bunga The Fed Masih Ditahan

Suku bunga kebijakan The Fed saat ini berada dalam kisaran 3,5% hingga 3,75%. Bank sentral AS tersebut mempertahankan suku bunga pada level tersebut sejak Desember sembari menunggu tekanan inflasi mereda.

Collins mengatakan dirinya masih memperkirakan inflasi dapat kembali bergerak turun. Namun, ia menekankan bahwa inflasi telah berada di atas target selama lebih dari lima tahun sehingga The Fed tidak dapat terus menunggu tanpa batas waktu.

Baca Juga: Banjir Bandang Dahsyat Terjang Nepal, Desa dan Proyek Pembangkit Listrik Hanyut

Ia juga mengkhawatirkan periode yang terlalu lama dengan inflasi di atas target dapat mengubah ekspektasi konsumen. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat membuat target inflasi 2% semakin sulit dicapai.

Pasar Menanti Arah Kebijakan The Fed

Perhatian pasar selanjutnya tertuju pada pidato Ketua The Fed Kevin Warsh pada Kamis dalam agenda simposium riset tahunan bank sentral AS di Jackson Hole, Wyoming.

Pidato tersebut menjadi sorotan karena muncul di tengah perbedaan pandangan di internal The Fed mengenai kebutuhan menaikkan suku bunga.

Selain itu, imbal hasil surat utang pemerintah AS atau US Treasury juga mengalami kenaikan. Pergerakan yield Treasury menjadi perhatian pasar global karena dapat memengaruhi arus modal, nilai tukar, dan kondisi likuiditas di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Sinyal Collins menunjukkan bahwa arah kebijakan moneter The Fed masih sangat bergantung pada perkembangan inflasi. Jika tekanan harga tidak kunjung mereda, peluang kenaikan suku bunga dapat kembali menguat. Sebaliknya, bukti penurunan inflasi yang konsisten dapat memberikan ruang bagi The Fed untuk mempertahankan kebijakan yang ada.


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×