Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Biro Investigasi Federal AS, Federal Bureau of Investigation (FBI), memperingatkan aparat penegak hukum di tingkat negara bagian dan lokal mengenai meningkatnya ancaman dari pemerintah Iran terhadap target di Amerika Serikat, menurut laporan intelijen yang ditinjau Reuters pada Selasa (7/4/2026).
Dalam laporan tertanggal 20 Maret, FBI bersama lembaga intelijen federal lainnya menilai pemerintah Iran merupakan “ancaman yang persisten” terhadap personel dan fasilitas militer serta pemerintahan AS, lembaga Yahudi dan Israel, serta kelompok oposisi Iran di AS.
Baca Juga: Ini Reaksi Investor atas Aksi Trump yang Setuju Gencatan Senjata 2 Minggu dengan Iran
Meski demikian, laporan tersebut juga menyebut bahwa FBI dan National Counterterrorism Center belum mengidentifikasi ancaman luas terhadap masyarakat umum Amerika.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump dalam beberapa kesempatan justru mengecilkan kemungkinan serangan Iran di wilayah AS.
Ketika ditanya pada 11 Maret, Trump menyatakan tidak khawatir Iran akan melakukan serangan di dalam negeri.
Namun, retorika Trump meningkat tajam dalam beberapa hari terakhir terkait konflik, termasuk pernyataannya bahwa “sebuah peradaban akan musnah malam ini” jika Iran tidak memenuhi tuntutannya, meski kemudian ancaman serangan ditunda selama dua pekan.
Laporan bertajuk Public Safety Awareness Report itu dirilis beberapa pekan setelah muncul kabar bahwa Gedung Putih sempat menahan publikasi dokumen intelijen serupa.
Saat itu, pemerintah menyatakan langkah tersebut dilakukan untuk memastikan informasi telah diverifikasi dengan baik sebelum dirilis.
Baca Juga: Harga Minyak WTI Anjlok 9% Usai Gencatan Senjata Sementara AS-Iran
Juru bicara Gedung Putih Abigail Jackson menegaskan bahwa pemerintah bekerja sama untuk melindungi keamanan dalam negeri dan mengkritik media agar tidak menimbulkan kepanikan dengan mengutip dokumen penegak hukum secara parsial.
Sementara itu, FBI dan National Counterterrorism Center belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar Reuters. Perwakilan misi Iran di PBB juga menolak berkomentar.
Potensi Ancaman dan Metode Serangan
Laporan tersebut menyoroti potensi peningkatan ancaman fisik terhadap target di AS sejak konflik dimulai.
Selain itu, kelompok ekstremis dengan berbagai latar belakang ideologi juga dinilai dapat memanfaatkan situasi ini sebagai pembenaran untuk melakukan kekerasan.
Baca Juga: Iran-AS Sepakati Negosiasi Damai, Ini Jadwalnya
FBI mencatat bahwa dalam beberapa tahun terakhir, aparat keamanan Iran diduga terlibat dalam upaya penculikan dan pembunuhan terhadap warga AS.
Metode yang digunakan dalam berbagai rencana serangan meliputi: Penembakan, Penikaman, Penabrakan kendaraan, Pemboman, Peracunan, dan Pencekikan hingga pembakaran.
Iran juga disebut lebih sering menggunakan agen dengan status legal di AS atau yang memiliki akses ke negara tersebut. Selain itu, pemerintah Iran dilaporkan memanfaatkan media sosial, siaran langsung, dan aplikasi peta untuk mengidentifikasi target dan menilai sistem keamanan.
Teknik siber seperti phishing juga digunakan untuk mendukung operasi mereka. Bahkan, dalam beberapa kasus, korban diduga dipancing keluar negeri ke lokasi yang lebih dekat dengan Iran untuk kemudian diculik.
Baca Juga: China & Rusia Veto Resolusi PBB Soal Perlindungan di Selat Hormuz, AS Meradang
Persepsi Publik AS
Di tengah meningkatnya tensi, survei Reuters/Ipsos menunjukkan bahwa dua pertiga warga Amerika menginginkan keterlibatan AS dalam konflik segera diakhiri. Hal ini membuat persepsi terhadap ancaman keamanan menjadi semakin sensitif.
Laporan tersebut juga mengingatkan aparat penegak hukum untuk tetap waspada terhadap potensi ancaman dan segera melaporkan informasi mencurigakan kepada otoritas federal.












