Sumber: Reuters | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Investor exchange traded fund (ETF) obligasi Pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) lebih memilih instrumen utang dengan jatuh tempo pendek dan menengah. Sementara permintaan untuk dana jangka panjang tetap lesu karena aksi jual obligasi global kembali terjadi dan meningkatkan risiko suku bunga.
Posisi investasi semacam ini semakin mendapat sorotan seiring kenaikan harga minyak yang memicu kembali kekhawatiran inflasi. Sementara kekhawatiran mengenai utang pemerintah dan tingginya permintaan modal mendorong kenaikan imbal hasil (yield) jangka panjang di berbagai pasar utama.
Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun sempat menembus level 3% untuk pertama kalinya dalam tiga dekade pada bulan ini. Sedangkan imbal hasil US Treasury mendekati level tertinggi dalam tiga tahun, dan biaya pinjaman Jerman serta Inggris berada di puncak tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Baca Juga: Harga Minyak Lampaui US$ 100, Kontrak Berjangka Indeks Wall Street Bergerak Flat
ETF US Treasury tenor pendek mencatatkan arus masuk dana sebesar US$ 12,2 miliar selama 20 sesi perdagangan hingga 8 September. Adapun ETF obligasi tenor menengah menarik dana sekitar US$ 5,7 miliar pada periode yang sama, menurut data LSEG Lipper.
Arus masuk ke obligasi tenor pendek tersebut mencakup lebih dari seperlima total dana sebesar US$ 58 miliar yang berhasil dihimpun oleh dana-dana tersebut sepanjang tahun ini.
Data Morningstar menunjukkan bahwa ETF obligasi inti tenor menengah AS menerima arus masuk bersih sebesar US$ 54,2 miliar hingga bulan Agustus. Sementara ETF obligasi tenor pendek menarik dana sebesar US$ 25,3 miliar. Sebaliknya, ETF obligasi tenor panjang hanya menarik dana sebesar US$ 2,5 miliar pada periode yang sama.
Ukuran kategori ETF obligasi tenor panjang yang jauh lebih kecil sebagian menjelaskan adanya selisih dalam nilai arus masuk dolar secara absolut. Namun para analis menyebutkan bahwa arus masuk yang minim tersebut juga mengindikasikan rendahnya permintaan.
"Kurva imbal hasil tidak benar-benar memberikan kompensasi yang memadai bagi investor yang mengambil risiko suku bunga lebih besar," ujar Bryan Armour, direktur riset ETF dan strategi pasif untuk wilayah Amerika Utara di Morningstar seperti dikutip Reuters, Rabu (9/9/2026).
Hal tersebut menjadikan obligasi tenor menengah lebih menarik di tengah berbagai kemungkinan skenario suku bunga di masa depan, tambahnya. Obligasi berjangka pendek biasanya menawarkan pendapatan dengan sensitivitas terbatas terhadap kenaikan imbal hasil lebih lanjut.
Sedangkan obligasi berjangka menengah memberikan potensi keuntungan lebih besar jika pertumbuhan ekonomi melambat dan biaya pinjaman turun.
"Obligasi berjangka menengah menawarkan lindung nilai yang lebih seimbang terhadap pelemahan pertumbuhan," ujar Armour. Instrumen ini dapat memberikan keuntungan jika suku bunga turun, namun tidak akan mengalami kerugian sebesar itu jika suku bunga naik.
Aksi jual pasar telah mempertegas dilema pilihan tersebut. Sementara itu, dana obligasi berdurasi panjang gagal mendapatkan kembali antusiasme yang sempat muncul setelah siklus pengetatan kebijakan agresif Federal Reserve pada tahun 2022.
Baca Juga: Harga Emas Kembali Menguat Ditopang Pelemahan Dolar AS, Pasar Menanti Data Inflasi AS
Armour mengatakan, para investor sebelumnya berbondong-bondong masuk ke dana obligasi jangka panjang dengan harapan akan adanya kebijakan moneter yang lebih longgar dan belanja pemerintah yang lebih terkendali, namun harapan itu tidak terwujud.
J.P. Morgan Asset Management menggambarkan strategi penempatan aset secara luas ini sebagai "barbel durasi" (duration barbell). Yakni, investor menghindari pertaruhan spekulatif yang bersifat semua atau tidak sama sekali terkait arah suku bunga, dan justru menyebar eksposur ke berbagai segmen kurva imbal hasil yang mampu berkinerja baik dalam berbagai skenario ekonomi.














