kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Irak akan jual minyak mentah melalui Iran


Senin, 29 Agustus 2016 / 11:02 WIB
Irak akan jual minyak mentah melalui Iran

Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Yudho Winarto

BAGDAD. Pemerintah Irak bakal menjual minyak mentah melalui Iran. Keputusan ini diambil jika negosiasi dengan Pemerintah Kurdi gagal mencapai kesepakatan.

"Kalau negosiasi tanpa kesepakatan, kami akan mulai mencari jalan untuk menjual minyak kami karena kami butuh uang, baik ke Iran atau negara lain," kata seorang pejabat senior di Kementerian Perminyakan Irak kepada Reuters, Ahad (28/8).


Organisasi Pemasaran Minyak Negara (SOMO) Irak berencana mengelar pembicaraan dengan Pemerintah Daerah Kurdi (KRG) pekan ini. Wakil Menteri Perminyakan Irak Fayadh al-Nema, Jumat (26/8) pekan lalu, mengatakan, pembicaraan itu akan membahas rencana Irak mengekspor minyaknya lewat Turki.

Irak adalah anggota Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dengan produksi terbesar kedua setelah Arab Saudi. Pendapatan negeri ini 95% bergantung pada emas hitam. Ekonomi Irak terguncang lantaran harga minyak yang rendah serta perang melawan milisi Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

Wilayah Kurdi sendiri memproduksi 500.000 barel per hari dan diekspor melalui Turki. Irak mungkin tidak mengubah rute ekspor mereka. Tapi, mereka  bisa saja melakukan pengiriman 150.000 barel per hari lewat Iran. Minyak ini berasal dari Kirkuk,  provinsi yang berbatasan langsung dengan Iran.

Menurut sumber Reuters, kesepakatan Iran dan Irak bisa terwujud lewat perjanjian oil-swap. Iran akan mengimpor minyak Irak untuk kemudian diproses di kilang mereka. Lalu, Iran akan mengekspor minyak itu atas nama Irak melalui pelabuhannya. Sebetulnya, Irak memiliki pelabuhan tapi tidak terhubung dengan pipa dari Kirkuk.

North Oil Company, perusahaan minyak milik Pemerintah Irak, pekan lalu mulai mengaliri minyak melalui pipa-pipa yang melintasi wilayah Kurdi menuju Turki. "Ini merupakan sebagai yang baik untuk mengundang Pemerintah Kurdi memulai negosiasi," ujar Nema. Itu juga adalah  instruksi Perdana Menteri Irak Haider al-Abadi. 




TERBARU

Close [X]
×