kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.572.000   7.000   0,27%
  • USD/IDR 18.034   74,00   0,41%
  • IDX 5.185   -678,68   -11,57%
  • KOMPAS100 658   -103,29   -13,57%
  • LQ45 509   -81,53   -13,82%
  • ISSI 179   -22,02   -10,93%
  • IDX30 284   -45,14   -13,73%
  • IDXHIDIV20 366   -56,36   -13,33%
  • IDX80 75   -11,86   -13,59%
  • IDXV30 102   -13,53   -11,68%
  • IDXQ30 93   -14,99   -13,88%

Iran Masih Ekspor LPG dan Avtur Meski Diblokade Angkatan Laut AS


Sabtu, 17 Oktober 2026 / 09:20 WIB
Iran Masih Ekspor LPG dan Avtur Meski Diblokade Angkatan Laut AS
ILUSTRASI. Iran masih mengekspor LPG dan avtur meski diblokade AS. Sedikitnya delapan kapal tanker LPG dilaporkan meninggalkan Teluk Oman sejak Juli 2026. (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - DAMASKUS/LONDON. Iran dilaporkan masih mampu mengekspor sebagian gas minyak cair atau liquefied petroleum gas (LPG) dan bahan bakar pesawat atau avtur sejak Juli 2026, meskipun menghadapi blokade laut Amerika Serikat (AS).

Informasi intelijen pelayaran dan keterangan sejumlah pihak yang memantau keamanan maritim menunjukkan bahwa sejumlah pengiriman produk energi Iran masih berhasil mencapai perairan internasional.

Menurut empat sumber di bidang keamanan maritim yang memantau pergerakan minyak di kawasan Teluk, Iran dalam beberapa pekan terakhir menyamarkan muatan ekspornya di tengah meningkatnya aktivitas pemindahan muatan antarkapal atau ship-to-ship (STS) yang dilakukan produsen energi lain di kawasan Teluk, dekat Oman.

Laporan tersebut menjadi pengungkapan pertama mengenai ekspor produk minyak Iran beserta metode yang diduga digunakan untuk mengirimkannya. Meski volumenya jauh lebih kecil dibandingkan ekspor energi Iran pada masa sebelumnya, pengiriman ini menjadi indikasi bahwa sebagian produk minyak masih dapat menembus blokade AS yang telah menghentikan ekspor minyak mentah Iran.

Analisis kelompok advokasi Amerika Serikat, United Against Nuclear Iran (UANI), yang memantau lalu lintas kapal tanker terkait Iran menggunakan pelacakan kapal dan satelit, menunjukkan sedikitnya delapan kapal tanker gas bermuatan LPG Iran telah meninggalkan Teluk Oman sejak pertengahan Juli 2026.

Baca Juga: Defisit Anggaran AS Tembus US$ 1,99 Triliun pada 2026, Tertinggi dalam Lima Tahun

Selain itu, sebuah kapal tanker lain yang mengangkut avtur Iran dilaporkan tiba di Myanmar pada September 2026. Temuan tersebut didasarkan pada citra satelit dan analisis kelompok intelijen maritim SynMax.

AS telah menjatuhkan sanksi terarah terhadap industri avtur Myanmar pada 2023. Washington menyebut serangan udara militer terhadap warga sipil sebagai salah satu alasan kebijakan tersebut. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan serangan militer di Myanmar telah menewaskan ribuan orang.

Pemerintah militer Myanmar berulang kali membantah menargetkan warga sipil dan menyatakan operasi militernya diarahkan terhadap kelompok bersenjata.

Analisis Reuters terhadap data kapal dan daftar sanksi Departemen Keuangan AS menunjukkan enam dari delapan kapal tanker gas tersebut, serta kapal tanker avtur yang menuju Myanmar, telah dikenai sanksi AS karena mengangkut produk minyak bumi dan petrokimia Iran.

Analis riset senior UANI, Jemima Shelley, mengatakan hanya sebagian kecil kapal tanker yang membawa produk Iran berhasil melintas, sementara sebagian besar pengiriman menghadapi pengalihan oleh militer AS.

"Apa yang kami lihat berhasil melintas adalah segelintir kapal tanker yang membawa LPG Iran, tetapi sebagian besar kapal tanker bermuatan produk Iran telah dialihkan oleh pasukan AS," ujar Shelley.

Ia menjelaskan, sejumlah kapal tanker LPG Iran memindahkan muatannya di dekat kota pesisir Oman, Shinas dan Sohar. Kapal lainnya menunggu di Teluk Oman sebelum melanjutkan perjalanan melewati wilayah blokade AS.

Komando Pusat AS atau United States Central Command (Centcom) sebelumnya menyatakan bahwa blokade tersebut berada di Teluk Oman, dekat perbatasan Iran dan Pakistan.

Shelley memperkirakan total volume pengiriman LPG Iran yang teridentifikasi mencapai sekitar 4,1 juta barel.

Baca Juga: Trump Tangguhkan Sejumlah Sanksi dan Tarif terhadap Rusia, Ini Alasannya

Menurut dia, pengiriman tersebut lebih didorong oleh peluang yang muncul di tengah situasi blokade ketimbang menunjukkan perubahan strategi Iran untuk mengekspor minyak dan produk petrokimia menggunakan kapal berukuran lebih kecil.

Berdasarkan analisis UANI, sebagian besar muatan dikirim ke wilayah batas pelabuhan luar timur Malaysia atau Eastern Outer Port Limits. Di kawasan tersebut, kapal-kapal diduga melakukan pemindahan muatan antarkapal lanjutan sebelum produk dikirim ke tujuan yang kemungkinan berada di China.

Pemerintah Iran belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar. Pemerintah Myanmar yang didukung militer juga belum menjawab pertanyaan mengenai penerimaan avtur dari Iran.

Militer AS Klaim Blokade Berjalan Ketat

Centcom menyatakan blokade laut terhadap ekspor minyak terkait Iran tetap diberlakukan secara ketat. Kebijakan tersebut pertama kali diterapkan pada 13 April 2026, kemudian dihentikan pada Juni setelah AS dan Iran mencapai rancangan kesepahaman.

Namun, blokade kembali diberlakukan pada 14 Juli 2026 setelah kesepakatan kedua negara tersebut gagal berlanjut.

Seorang pejabat militer AS mengatakan kepada Reuters bahwa keberhasilan sebuah kapal melintas tidak serta-merta berarti kapal tersebut berhasil menghindari blokade.

Menurut pejabat tersebut, setiap kapal diperiksa secara individual, termasuk melalui peninjauan dokumen. Sejumlah kapal juga dapat diizinkan melintas karena alasan kemanusiaan.

Ia menambahkan, keberadaan kapal dalam daftar sanksi AS bukan satu-satunya faktor yang menentukan apakah kapal tersebut menjadi sasaran blokade. Pasukan AS juga memantau secara ketat sejumlah kapal tanpa mengambil tindakan terhadapnya karena pertimbangan operasional.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Mendidih, Brent Tembus US$ 110 per Barel

Dalam pembaruan pada 13 Oktober 2026, Centcom menyatakan bahwa selama tiga bulan pelaksanaan blokade terbaru, empat kapal komersial telah dilumpuhkan dan 135 kapal dipaksa berbalik arah oleh pasukan AS.

Pernyataan Centcom sebelumnya juga menyebutkan bahwa militer AS telah memutar balik kapal-kapal dari Asia serta menyita sejumlah kapal tanker.

Washington turut mengombinasikan blokade dengan kampanye sanksi yang bertujuan memutus sisa hubungan keuangan Iran dan mengurangi sumber pendapatan negara tersebut. Pada pekan sebelumnya, AS menjatuhkan sanksi baru terhadap 17 kapal yang terlibat dalam pengangkutan minyak mentah, petrokimia, dan produk minyak bumi Iran.

Juru bicara Departemen Keuangan AS mempertanyakan data pelayaran yang menunjukkan adanya kapal yang diduga berhasil melewati blokade. Ia mengatakan kapal dapat memalsukan lokasi melalui sistem pelacakan atau menggunakan identitas palsu ketika memuat barang.

"Data tersebut harus ditanggapi dengan hati-hati," ujar juru bicara tersebut.

Ia menambahkan, Operasi Economic Outcast bersama blokade laut telah "mencekik rezim Iran".

Tekanan Ekonomi Iran Berpotensi Mendorong Risiko Lebih Besar

Analis utama Timur Tengah di perusahaan intelijen risiko Verisk Maplecroft, Torbjorn Soltvedt, menilai belum ada indikasi Washington akan melonggarkan blokade terhadap Iran.

Namun, memburuknya kondisi ekonomi Iran berpotensi mendorong Teheran mengambil risiko lebih besar untuk mempertahankan ekspor produk energinya.

Baca Juga: Rudal Hantam Bandara Yaman, Arab Saudi Cegat Serangan ke Pusat Ekspor Minyak

"Jika Iran dapat mengirimkan kapal tanker produk minyak, meskipun dalam jumlah kecil, avtur mungkin menjadi pilihan yang tepat. Industri penerbangan Iran semakin tertekan oleh sanksi AS, dengan semakin banyak pesawat yang tidak beroperasi, serta potensi kelebihan pasokan avtur di kilang-kilang Iran," kata Soltvedt.

Tekanan terhadap ekspor energi Iran terlihat dari data perusahaan analitik komoditas Kpler. Ekspor minyak mentah Iran tercatat nol pada September 2026, menjadi bulan pertama tanpa pengiriman sejak perusahaan tersebut mulai melacak ekspor negara itu pada 2013.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelumnya menyatakan bahwa blokade telah menghambat sebagian besar pembelian minyak Iran oleh China dan membuat Teheran kesulitan mengirimkan minyak mentah kepada para pelanggannya.


Video Terkait



TERBARU
KONTAN10.10
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×